Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 149



🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Reuni sidang Senja..


Rumah utama.


Anak gadis bungsu Biantara yang sedang di keliling Sepupunya hanya diam merengut, ia kesal karna Sang kakak membahas tentang Pangeran.


"Dia itu cuma Ambisi, bukan cinta sama aku," ucapnya pada Awan.


"Anak orang kasian loh, Sen.".


" Bodo amat!" Senja yang keukeh dengan keputusannya menolak Pangeran tak perduli orang lain membicarakan semua yang baik tentang pemuda itu.


"Emang udah berapa kali di tolak?" tanya Gala, anak sulung dari Bumi khayangan.


"Gak keitung," jawab Senja dengan tangan melipat di dada.


"Ganteng gak? kalau ganteng buat Ara aja deh," kekehnya yang mulai cari gara-gara. Gadis itu sungguh tak tahu diri karna sudah tahu Gala pe cemburu tapi mulutnya sering kelolosan.


"Kan.. kan.. kan. cari perkara!" Omel sang pemilik hati.


Semua pun kini tergelak bersama termasuk Aurora Si cantik dan paling kalem, saking kalemnya ia sampai tak tahu jika menjadi istri kedua dari seorang pria yang baru ia cintai.


"Hati-hati dengan orang tulus, kadang mereka tak punya kesempatan kedua saat kita sudah mengakui kesalahan, Sen," ucap Aurora yang biasa dipanggil Ola kesayangan Amma Melisa.


Begitu lah para keturunan Gajah jika sedang berkumpul, siapa yang punya masalah tapi semua yang akan duduk bersama mencari solusi. Meski saling memiliki sahabat, keluarga adalah yang nomer satu harus tahu.


"Tut, diem aja?" ledek Awan saat kakak sepupunya itu belum buka suara.


"Lagi nunggu Jajah, bau baunya udah deket," jawab Samudera, ia memang sempat uring-uringan saat sepulang kuliah tadi Gajahnya hilang, untung lah para krucil kesayangannya datang meski bukan menghibur tapi setidaknya ia bisa mengalihkan rasa kesalnya.


Dan, belum juga Awan menjawab suara pria baya kesayangan semua orang terdengar sambil tertawa kecil, Siapapun pasti senang jika melihat para cucunya berkumpul seperti ini karna seperti ada kesenangan tersendiri di masa masa tuanya.


"Tuhkan, Jajah dede balik lagi, abis kabur ya?" tanya Samudera.


"Sudah pada makan?" tanya Appa kepada semua cucunya, dan jawaban pun beragam. Ada yang sudah dan yang belum dan ujung ujungnya mereka pasti ribut satu sama lain. Itulah nikmatnya jika sedang berkumpul padahal mereka sudah remaja menjelang dewasa tapi jika sudah di depan Tuan besar Rahardian mereka sangat menggemaskan layaknya Balita.


"Suruh PapAymu pesan makanan de'," titah Appa pada Samudera yang ada dalam pelukannya.


"Sibuk dede," jawab si penyuka buah Strawberry tersebut.


Ia tahu, jika ia bangun dan pergi Jajahnya pasti aja jadi rebutan oleh para adik sepupunya itu.


.


.


.


Dan Senja yang memang berniat akan menginap satu kamar dengan Aurora pun di hampiri oleh Appa menjelang gadis itu tidur.


"Appa ingin bicara denganku?" tanya Senja yang langsung berhambur kedalam pelukan pria kesayangannya. Meski ada Papih Adam di rumah Appa Reza tetap punya tempat sendiri di hatinya.


"SenSen belum kenalkan pacar pada Appa, sudah punya belum?"


"Belum? SenSen gak mau pacaran, tugas sekolah udah banyak banget, Kak Awan gak mau bagi contekan," adunya kemudian. Di banding Sang kakak, ia memany sedikit lama jika menyangkut pelajaran.


"Kirain sudah, tapi cucu Appa yang cantik ini pasti banyak yang suka kan?" goda Appa yang langsung membuat kedua pipi gadis itu merah merona.


"Aku tak perduli, hidupku sudah aman, Appa. Malas rasanya mengurusi satu manusia," jawab Senja yang membuat Appanya tertawa.


.


.


.


SenSen, kamu harus tahu, pria yang benar-benar mencintaimu memang akan terus mengganggumu dengan berbagai hal termasuk perihal Rindu. Dia juga akan banyak melarangmu jika menurut nya itu salah, dan yang terpenting dia juga akan selalu memaafkanmu tak perduli sudah berapa kali hatinya kamu sakiti.