
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Bukan memberi apa yang diinginkan suaminya, Viana malah mendorong tubuh Andra untuk menjauh, ia tak ingin mengambil resiko apapun karna tingkah menyebalkan pria tampan dan wangi itu.
Kadang, Viana sampai tak habis pikir saat Andra terus menempel padanya apalagi saat di rumah. Jika dulu hanya sebatas menggenggam tangan dan memeluk di saat2 tertentu berbeda dengan sekarang yang sering kali dengan tiba-tiba menarik tangannya untuk di dekap manja dengan alasan Baby.
"Aku laper," kata Viana sembari kabur dari hadapan suaminya yang kini tertawa kecil melihat raut panik istrinya tersebut.
Andra tentu membiarkan Viana pergi, ia tak mungkin menahan wanita halalnya tersebut jika sudah mengeluh lapar karna itu pasti aksi protes dari anaknya yang kini membuat istrinya tak bisa menahan untuk mengisi perutnya dengan berbagai makanan atau cemilan, jadi tak salah jika Andra sering kali khawatir jika Viana terlalu lama di dalam kelas hanya fokus pada pelajaran.
.
.
"Huft." Viana membuang napas kasar karna rasanya tadi lumayan cukup sesak baginya hanya perkara tubuhnya yang hampir di himpit Andra tapi deru hangat napas pria itu yang terus saja membuat jantungnya kini selalu berdegup ribuan kali lipat.
"Kenapa? capek banget kayanya," tanya Haura yang kini berjalan beriringan dengan Viana.
"Mau tau aja, apa mau tau banget?" Viana balik bertanya sambil tersenyum meski sebenarnya senyum itu adalah sebuah ejekan darinya.
Dulu, ia begitu merasa sangat bersalah seolah telah merebut apa yang jadi milik Haura, tapi saat Andra terus meyakinkannya ia perlahan membuang rasa itu jauh jauh dan memutuskan juga untuk satu arah tujuan dengan suaminya tersebut. Jadi kini apapun yang di lakukan Haura ia tak pernah perduli asal bukan ia yang lebih dulu membuat masalah.
"Perutmu sudah terlihat besar, jangan sampai murid lain tahu, Vi," bisik Haura pelan.
"Memang kenapa? biarkan saja yang lain tahu jika mantan pacarmu itu TOKCER," jawab Viana sambil tertawa lalu membelokkan langkahnya kearah kiri padahal harusnya ia tetap lurus untuk ke kantin.
Viana hanya tersenyum kecil saat terus berjalan tanpa tujuan, hingga ia memutuskan masuk kedalam toilet khusus wanita.
"Mungkinkah mereka akan sadar dengan kehamilan ku ini? Apa aku harus malu? tapi apa salahku?" pertanyaan pertanyaan itu terus bergejolak dalam hati Viana, ia yang bosan belajar di rumah memang meminta pada Andra untuk datang sesekali ke sekolah meski tak harus full sampai bell pulang berbunyi.
Viana memejamkan kedua matanya dengan tangan mengepal cukup lumayan keras mana kala ia ingat asal muasal ada nyawa lain dalam perutnya kini yang tak lain adalah karna ulah Andra yang tiba-tiba menerobos miliknya secara paksa dan kasar, sakitnya tentu tak hanya pada bagian intinya saja tapi juga hatinya yang sangat kecewa karna itu adalah hal paling berharga bagi Viana yang selama ini sangat menjaga tubuhnya.
Sesal pun tak lagi ada artinya, sebab Tuhan sudah percaya padanya dan Andra atas titipanNya ini, meski sudah ia coba untuk menggugurkannya tapi hasilnya Si jabang bayi tetap bertahan dengan alasan yang tentu itu termasuk salah satu garis takdirnya juga
.
.
.
Viana yang tak sempat makan saat istirahat membuat ia diam saja di satu pelajaran terakhir di kelasnya, antara fokus tak fokus karna perutnya sudah mulai keroncongan padahal satu bungkus biskuit sudah habis ia makan dengan cara sembunyi sembunyi.
"Makan mulu," ucap Lala pelan yang sudah sangat aneh dengan kelakuan Viana.
"Laper, aku kan gak makan tadi."
"Suruh siapa ngilang, kan kita udah nunggu di kantin," sahut Lala lagi yang kesal.
Dan jika sudah begitu, dua sahabatnya akan kembali diam meski rasa penasaran terus meronta ronta dalam hati mereka.
Semua kembali fokus pada apa yang harus dikerjakan hingga akhirnya waktunya pulang tiba. Seluruh siswa dan siswi bersiap untuk keluar dari kelas begitu pun dengan Viana, ia keluar dari kelas dengan langkah pelan dan santai sebab ia yang paling akhir untuk pulang, itu sudah biasa di lakukan Viana jauh sebelum ia menikah dengan Andra.
"Vi---," panggil seorang pria yang tak lain adalah suami Viana sendiri yang ia langsung menghembuskan napas kasar karna berani-beraninya Andra memanggil dengan cukup keras.
"Stop! jangan deket-deket," titah Viana yang membuat Andra menghentikan langkahnya secara mendadak.
"Ish, kamu tuh," keluh Andra tapi lucunya ia tetap menurut untuk berhenti dan kini mereka saling berhadapan dengan jarak yang cukup lumayan jauh.
"Apa?" tanya Viana.
"Hem, aku boleh main futsal gak? janji sebentar aja dan pulang sebelum malam," izin Andra, sudah lama rasanya ia tak punya waktu untuk dirinya sendiri.
"Pergilah, siapa juga yang melarangmu," jawab Viana yang langsung membalikkan tubuhnya.
Andra hanya bisa mengusap tengkuknya sendiri sambil melihat punggung wanitanya menjauh kemudian menghilang, ia juga sudah mengatakan jika sudah ada mobil yang menunggu di gerbang sekolah untuk mengantar pulang.
Dan benar saja, ada seorang Pria dewasa yang langsung menghampiri Viana dan mengatakan jika ia adalah supir yang di minta tuan mudanya dari kediaman Bramasta.
Viana tentu percaya sebab ia juga sempat menoleh kearah belakang karna ada Andra disana melihatnya dari kejauhan sambil menganggukkan kepala.
.
.
.
Saat dirumah, sepi mulai di rasakan oleh Viana di tambah Bunda sedang di kantor Ayah usai menemani suaminya tersebut makan siang bersama klien, mungkin mereka pikir akan Andra yang menemani karna Viana memang tak bercerita jika ia pulang di antar supir dari rumah mertuanya itu.
"Ya ampun, bosen banget," keluh Viana yang mulai uring uringan sendiri sebab biasanya ada Andra yang kadang iseng menggangunya, entah memainkan jari atau rambut.
"Gak! gak mungkin aku susulin dia, malu banget," ujarnya lagi yang memang sempat ada niat kesana barusan, entah ada apa dengannya sampai harus memikirkan hal konyol seperti itu.
Tapi, Viana tak bisa diam begitu saja meski tak terlalu mual tapi kepalanya justru mendadak sakit hingga tak bisa bangun dan pasrah saja di atas ranjangnya, kedua matanya pun sengaja ia pejamkan agar rasa tak enak dalam dirinya berangsur hilang. Namun, baru sekian menit ia melakukannya, Viana langsung terlonjak kaget saat merasa pipinya ada yang tersentuh daging kenyal seperti bibir
.
.
.
Kangen, Mom...