
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hari berlalu begitu saja, Andra tetap tinggal di rumah Viana dan tidur di kamar yang sama meski tak satu ranjang. Tak pernah ada obrolan serius apalagi candaan kecuali tegur sapa biasa. Dua hari lalu pun keduanya masih berangkat dan pulang bersama dari sekolah meski Andra tetap menurunkan dan menjemput di pertigaan jalan, semua di lakukan dan di turuti oleh Andra termasuk hari ini saat Viana izin ke Mall.
"Yakin sendiri?" tanya Andra memastikan lagi.
"Hem, kamu juga mau pergi kan?"
Andra menggangguk, ia memang hari ini akan pergi dengan Papi untuk menemani Tuan Bramasta tersebut melihat proyek baru yang sedang di jalankan oleh perusahaannya.
Kini, yang andalkan Papi tentu hanya Si bungsu karena kedua anaknya sudah menjalankan peran mereka masing-masing terutama Daffa yang sama sekali tak ingin terjun sebagai pengusaha meski ia tetap mendapat bagiannya sendiri. Hal inilah yang kadang menjadi salah satu pemicu pertengkaran Andra dan kakaknya yang di anggap begitu egois melimpah kan semua tanggung jawab hanya padanya seorang sedangkan Daffa bisa meniti karier seperti yang di inginkan. Sejak kecil Andra yang bercita-cita ingin menjadi seorang Pilot seolah tak pernah di izinkan hingga kenyataan harus ia terima saat Si tengah benar-benar masuk ke Perguruan tinggi dengan mengambil jurusan kedokteran, jangan tanya bagaimana murkanya Andra saat itu karna di waktu yang sama Papinya malah memutuskan jika perusahaan Bramasta Group akan jatuh ke tangan Andra yang menjadi harapan satu-satunya keluarga.
"Kamu bisa tunggu aku pulang, nanti aku antar. Aku takut kamu mual disana," tawar Andra yang ia harap di setujui oleh istrinya tapi ia kecewa saat Viana menggelengkan kepala.
"Aku bawa permen, kamu tak perlu khawatir," jawab Viana meyakinkan.
Gadis 18 tahun itu akhirnya semakin membulatkan tekadnya datang ke klinik untuk menggugurkan satu nyawa yang kini ada dalam rahimnya hasil perbuatan dari Sang suami yang memaksa secara kasar dan brutal. Viana di perkOSA dengan hawa napsu kesal bukan karena napsu cinta layaknya pasangan halal yang saling mencintai satu sama lain.
Andra yang lebih dulu turun ke lantai bawah meninggalkan Viana sendirian di kamarnya.
Pria itu tak tahu saja bagaimana rasa takut dan bimbang kini jadi satu di dalam benak Viana.
Aku tahu aku salah, tapi aku gak siap punya kamu sekarang, Dokter dan Mas Daffa aja bilang aku tetap beresiko saat melahirkanmu nanti. Tolong pahami posisi ku ya, Ayahmu hanya terpaksa menerimaku dan kamu tahu rasanya seperti apa? Sakit. Aku tak mau mengemis cintanya karna sekuat apapun ia berusaha nama gadis itu akan tetap ada dalam hatinya. Aku hanya bayangan baginya meski aku memang tujuan pulangnya karna memang ia tak bisa kemana-mana lagi terlebih ada kamu sekarang. Aku tahu lukanya sangat luar biasa, aku dengar sendiri bagaimana dia masih menyebut nama mantannya dalam mimpi....
Cek lek...
"Vi, aku pergi sekarang ya," pamit Andra yang ia pikir Viana akan menyusul ke bawah tapi nyatanya wanita itu tak kunjung turun ke lantai bawah.
"Hem, hati hati," jawab Viana yang buru-buru mengusap air matanya agar Andra tak tahu ia sedang mencurahkan isi hatinya itu pada anak mereka.
Andra yang kini sudah ada di depan Viana meminta istrinya itu untuk bangun, ia usap perut sedikit membuncit itu dengan sangat lembut dengan tangannya sendiri.
.
.
.
Jangan rewel ya selama Daddy gak ada, cubit aja Mommy mu kalau nakal, Ok...