Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 86



🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Ikut dengan Andra....


Viana yang melamun di teras samping, dekat pintu dapur sambil memegang susu coklat di tangannya masih saja meresapi ucapan yang terlontar dari bibir sahabatnya kemarin saat datang berkunjung, ingin rasanya ia mengelak dan menganggap semua itu tak akan terjadi tapi siapa yang bisa menjamin hari esok akan baik baik saja.


Bukankah sudah ada dari dulu jika semua orang punya hak untuk memilih bertahan atau pindah keyakinan?


Tak ada satupun yang bisa melarang saat sudah ingin menggenggam kepercayaan yang lain. Begitu pun dengan Haura dan Andra.


"Tidak!" pekik Viana sambil memegang perutnya yang terasa ada pergerakan.


"Akan jadi apa anakku jika hal itu terjadi," ucap lirih Viana yang dadanya kini mendadak sesak.


"Tapi, bagaimana jika Haura yang nekat?"


Viana langsung meletakkan gelas susunya lalu masuk kedalam rumah, ia melewati Bibi dan Bunda yang ada di dapur begitu saja bahkan tak menoleh saat di panggil sekalipun oleh ibu sambungnya itu.


Cek lek


Viana masuk kedalam kamarnya dan lagi lagi ia mengganggu Andra yang sedang tidur diatas ranjangnya. Tadi ia memang sengaja keluar agar Andra bisa istirahat dengan tenang setelah semalaman mengerjakan tugas dan memijit kaki juga mengusap punggungnya. Hanya hal itu yang bisa di berikan pada sang suami yang selalu mengalah dan sabar menghadapi semua keluhannya sejak semakin besar juga usia kandungannya.


"Andra bangun," ucap Viana sambil menggoyang lengan pria yang tidur sambil memeluk guling tersebut.


Viana tak pernah tahu dan sadar, jika saat ia berkata. 'Andra bangun' di detik yang sama juga ada sesuatu yang langsung aktif tegak dan berdiri ingin di manjakan meski rasanya itu belum mungkin terjadi, sebab area rawa basah masih saja di perboden oleh pawangnya yang tak peka-peka dengan kode yang di berikan oleh Sang kuncen.


"Andraaaaaa, bangun gak?!"


"Apa sih? ngantuk," jawab pria itu dengan mata sama sekali tak di buka.


"Rukun iman ada berapa?" tanya Viana.


"Enam, Vi."


"Kalau Rukun Islam?" tanya Si Bumil lagi yang mulai tak jelas tingkahnya.


Dari pertanyaan yang ia layangkan, ia harap Andra bisa menjaga rasa percayanya pada apa yang sudah ia yakini tentunya dari sejak lahir. Viana tak bisa membayangkan jika sampai di tinggal Andra untuk alasan yang satu itu. Pantas saja mertuanya begitu takut dan nekat menikahkan mereka demi untuk menghindari hal tersebut.


Viana yang sedang tersenyum manis langsung membuang pandangan saat melihat Andra membuka mata dan menatap ke arahnya. Pandangan teduh yang selama ini selalu meyakinkan Viana jika semua akan selalu baik baik saja jika dekat dengan pria itu. Meski sudah melewati hari berdua dalam waktu tak sebentar nyatanya ia masih saja berdebar dan salah tingkah saat di perhatikan seperti itu oleh suaminya, padahal hanya diam saja tak berucap sepatah katapun.


"Kenapa? ada yang salah sama aku?" tanya Viana


"Gak ada, cuma aneh aja denger pertanyaan kamu barusan," kata Andra masih nyaman dengan posisinya sekarang.


"Aku gak nanya, aku justru ngetes kamu, Andra. Beruntungnya ternyata kamu masih ingat dengan kedua rukun tersebut."


"Kenapa?"


Viana langsung menggelengkan kepala, tentu ia tak akan mengatakan apapun perihal apa yang sedang mengganjal dalam hatinya sejak kemarin. Ia juga tak mau menyebut nama gadis itu terus di sela obrolan mereka.


"Kalau rukun suami istri tau gak?" tanya Viana lagi.


"Emang ada?" Andra balik bertanya dengan ekspresi bingung dan nampak berpikir sebab ia takut melewatkan hal tersebut.


"Ada dong," kekeh Viana yang langsung membuat Andra tak enak hati.


"Apa, coba sebutin."


"Rukun suami istri ada Lima, yang pertama itu Istri selalu benar, yang kedua suami selalu salah, yang ketiga jika istri salah suami lebih salah dan yang keempat istri tak pernah salah dan yang kelima adalah jika istri bermasalah yang harus di salah kan adalah suami, sekian dan Terima kasih dan mohon maaf tidak menerima perdebatan apapun karna semua balik lagi ke nomer satu, Ok!"


.


.


.


Pinter banget ya jadi istri, jadi pengen cium tuh bibir yang selalu bener..