
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Lah, emang kenapa? ini kan kamar dan ranjang gue!" sahut Andra dengan lantangnya, dan pastinya ia tak salah mengatakan itu.
Viana yang wajahnya sedikit memerah pun langsung mencubit perut pria di dekatnya itu agak keras sampai Andra meringis dan menahan sakit. Tapi, itu tak di perdulikan sama sekali oleh Viana, ia melakukannya karena malu dan kesal karena mendengar jawaban dari suaminya barusan.
"Sakit banget sumpah, gue gak bohong." cetus Andra dengan ekspresi wajah yang sangat serius, pertanda apa yang ia rasakan memang luar biasa nikmatnya.
"Bodo amat!" balas Viana, ia yang menggeser tubuhnya agar lebih jauh mencoba juga menurunkan satu kakinya.
Namun apa yang terjadi?
Belum juga sampai ke kamar mandi bahkan baru dua langkah ia sudah meringis dan mencari pegangan, Andra yang melihat itupun tentu tak tinggal diam. Ia bangun dan menuntun istrinya untuk membersihkan diri.
"Jangan mikir macem-macem, dari pada badan lo bau, mending diem ya," kata Andra yang mulai mendudukkan Viana di kursi plastik yang ia bawa dari dalam ruang ganti.
"Ini kesempatan dalam kesempitan buat kamu, iya kan?" tuduh Viana dengan sorot mata memicing.
Andra membuang napas kasar, ia berjongkok di depan Viana yang cemberut entah itu pertanda ekspresi apa darinya.
"Vi, gue cuma mau bantu kok, gak ada maksud lain. Kalo lo bukan istri gue, gue juga pasti gak mau," kata Andra meyakinkan.
Tubuh Viana memang terasa tak nyaman, bagaimana pun sejak kemarin ia belum mandi bahkan ********** pun belum ia ganti sama sekali karna Andra hanya membantunya memakai kan piyama untuknya saja.
"Vi, kok ngelamun?"
"Hem, enggak," sahut Viana sambil menggelengkan kepalanya, tak ada pilihan lain akhirnya ia setuju juga saat Andra menawarkan diri untuk membantunya membersihkan tubuh.
Begitu pun dengan Viana yang selama delapan belas tahun tak pernah berpacaran atau dekat dengan pria manapun. Tangan Andra adalah satu-satunya yang menyentuh tubuhnya saat ini.
"Buka ya," izin Andra lagi, napasnya begitu berat karna ia adalah pemuda normal yang punya napsu tentunya.
Viana yang mengangguk pelan membuat Andra berani melepas piyama dan yang lainnya juga termasuk kaos dalam dan celana pendek. Kini, yang tersisa di tubuh Viana hanya Br4 dan kain tipis yang menutupi area paling sensitif nya.
"Andra--," panggil Viana pelan menahan tangan pemuda itu agar tak menyentuh bagian belakang punggungnya.
"Kenapa? belum ganti kan dari kemarin?" tanya Andra dengan menautkan kedua alisnya.
"Aku bisa sendiri, cukup."
"Tangan lo tuh sakit, kalo lo paksa buat di kebelakangin yang ada patah," kata Andra yang malah menakuti Viana.
Kedua mata gadis itu sampai bulat sempurna mungkin sedang membayangkan kejadian yang jauh lebih buruk dari yang ia alami saat ini.
Dan entah kenapa Andra melihatnya Viana seakan jauh berbeda dari biasanya.
.
.
.
Gemesin juga ya nih cewek lama-lama...