
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Rasa tak nyaman terus terselip dihati Viana bagaimana pun ia masih penasaran dengan siapa semalam Andra bertukar pesan hingga membuat pria itu terus tersenyum simpul, karna yang lebih parah Andra tak juga menoleh kearahnya saat di ajak bicara. Aneh bukan?
"Kenapa, Mom?" tanya Andra yang mengagetkan Viana, wanita itu sampai ter lonjak di tepi ranjang.
"Gak ada apa-apa," jawab Viana dengan tangan memegang dadanya sendiri.
"Tadi Mamih telepon gak bisa anter Farah ke rumah sakit, jadi minta tolong kita buta anter, mau ya?"
Viana diam sejenak belum tahu akan menjawab apa di tengah suasana hatinya yang sedang kacau saat ini. Ia tak mau sampai Farah peka dengan diamnya nanti, jangan sampai juga ada kesalah pahaman jika ia benar-benar tak bisa menjaga sikap dan menguasai emosinya di depan Si ibu hamil yang sama sensitifnya.
"Kamu kenapa? kalau gak mau gak apa-apa, nanti biar aku pergi sendiri aja," jawab Andra yang di luar dugaan Viana
Tidak, ini bukan suaminya, Andra tak pernah mau pergi sendiri tanpanya apalagi ia belum mendengar alasan dan jawaban dari sang istriistri yang jelas masih diam tanpa berkata apapun.
"Oh, begitu? baiklah." Viana bangun dari duduknya, ia keluar dari kamar namun diam sejenak di balik pintu yang sudah ia tutup.
Tangannya yang kini sedang meremat kain bagian dadanya seolah pertanda betapa sesaknya dada seorang istri yang mulai di abaikan.
.
.
.
Di lantai bawah, Viana masih tetap bermain dengan Pangeran. Tak ada rencana apapun di hari libur mereka karna Andra masih betah di dalam kamar, entah apa yang sedang di lakukan pria itu, Viana enggan untuk menebak lebih jauh. Kenyataan pagi tadi saja kini sudah membuat moodnya hancur berantakan hingga bersama dengan Sang putra pun ia malah sering melamun.
"Via, apa ada masalah?" tanya Bunda yang entah kapan datang dan duduk di sebelahnya.
"Kok ngelamun, kalau capek istirahat saja sana, biar Pangeran sama Bunda ya," titah wanita berhijab hijau daun tersebut.
"Gak ada, semua baik baik saja, Kok."
Tapi, Bunda tetap melihat ada yang lain di mata anak sambungnya. Bagaimana pun mereka bukan satu dua hari bersama jadi ia tahu jika ada yang tak beres pada Viana. Namun, meski sebagai orangtua Bunda tetap tak bisa memaksa anaknya itu untuk bicara sebab orang punya privasinya Masing-masing, Viana cukup dewasa untuk memilih dan memilah hal apa saja yang ingin ia ceritakan dan apa saja yang cukup ia pendam.
Bunda yang tak mau menuntut akhirnya mengalihkan perhatiannya pada Pangeran yang sedang bermain dengan mobilannya yang terhampar di diatas karpet, padahal bocah itu belum paham betul dengan apa yang di mainkan dan kadang hanya di lempar lempar atau di acak-acak, hanya saja orang-tua, kakek dan neneknya yang paling rajin membelikannya.
"Mom--," panggil Andra yang membuat semua menoleh termasuk putranya.
"Hem, apa?" Viana tak mau lama-lama menatap Andra yang ternyata sudah begitu rapih siap untuk pergi.
"Aku jalan sekarang ya, tapi gak tau kapan pulangnya, jadi gak perlu nunggu aku," pamit Andra sambil meraih tubuh Pangeran yang minta di gendong.
Hati istri manapun akan mencelos seperti dirinya, sebab Viana benar-benar belum menjawab apapun tentang ajakan Andra tadi saat di kamar.
.
.
.
Ndy... Ntuuuut...