Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 42



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Viana hamil, Ra," ucap Andra saat ia duduk berdua di kelas bersama mantan kekasihnya.


Setelah ia keluar dari kelas dan membawa Viana ke rumah sakit, Andra pun ikut tak masuk sekolah beberapa hari sampai keadaan gadis itu kembali pulih. Ia sempat menjadi pusat perhatian saat datang karna kemarin kemarin tak ada satupun pesan yang di balas olehnya mengenai hubungannya bersama Viana. Menurut Andra tak ada yang harus di jelaskan karna ia pikir Viana akan meneruskan sekolahnya di rumah tapi nyatanya semua tak sesuai dengan rencana.


"Kalian sudah melakukannya? tak apa, itu bukan sebuah dosa besar karna itu hak dan kewajiban bagi kalian, benar begitu, kan?" balas Haura yang nampak tenang, tanpa Andra tahu jika sebenarnya hati anak Tuhan yang baik itu sedang tercabik-cabik mendengar pengakuan pemuda yang masih teramat di cintainya.


"Aku yang memaksanya, Ra."


Haura langsung menoleh dengan kedua alis bertautan, ia tak percaya jika Andra bersikap seperti itu karna selama kurang lebih dua tahun mereka tak pernah melakukan hal di luar batas termasuk berciuman.


"Kenapa?"


"Entah, aku hanya kesal saat melihat nya bersama Mas Daffa," jawab jujur Andra, ia selalu menyesal jika ingat hal tersebut.


"Kamu cemburu, Ndra. Bukan kesal," balas Haura, meski dalam hati ia memohon tebakannya itu salah.


"Cemburu? kamu yang ku cintai kenapa dia yang ku cemburui?" tanya Andra, ungkapan hatinya terasa berdesir dalam jiwa Haura.


"Mungkin kamu sudah jatuh cinta juga padanya, kamunya saja yang tak sadar," sindir si gadis cantik yang begitu taat akan Imannya.


"Aku hanya tak suka, Ra. Dia istriku," balas Andra lagi yang kali ini penuh penekanan.


Haura terkekeh kecil, ia bahkan tak pernah tahu rasanya di cemburui oleh Anda. Hubungan mereka selama ini terbilang sehat jauh dari orang ketiga. Haura sangat menjaga jarak dengan yang bukan perempuan begitu pun dengan Andra, jadi saat pemuda itu bilang Tak suka tentu kemungkinan rasa ada dalam hati Andra.


"Jangan hanya di akui, tapi juga harus di cinta, sudah kan?"


"Aku sedang berusaha, Ra."


"Dia sedang hamil, semoga ini jadi awal baik untuk hubungan kalian. Tuhan tak main main memisahkan kita ya, ia langsung mengirim malaikat kecil untuk mu," kata Haura yang masih sempat sempat nya tersenyum dan Andra benci hal tersebut.


"Tapi Viana tak mau, dia selalu mengancam menggugurkan kandungannya, aku takut, Ra."


Haura tentu kaget, tapi lama ia diam dan berpikir akhirnya paham jika ada di posisi Viana apalagi Andra juga menceritakan betapa tertekannya gadis itu yang takut di sebut sebagai perebut Andra dari Haura padahal alasan mereka jauh lebih masuk akal.


"Jangan tinggalkan dia, Ndra. Dia butuh kamu, dan itu sudah kewajibanmu melakukannya. Cinta akan tumbuh seiringnya waktu apalagi ada anak di antara kalian. Aku hanya bisa mendoakanmu, jangan patahkan rasa ikhlasku dengan tak melihatmu bahagia ya," ucap Haura dengan satu tetes air mata di pipinya.


.


.


.


"Gue gak pernah pacaran!" sentak Viana saat ia di kelilingi oleh teman-temannya di dalam kelas.


"Sekali lagi lo tanya itu ke gue, gue taBok mulut lo semua," tambah Viana sambil bangun dan menggebrak meja.


Viana langsung keluar sambil menangis, apa yang di takutkan terjadi, ia bagai di jadikan terdakwa di kursi pesakitan oleh hampir seisi kelas termasuk teman-temannya yang sering membicarakan Andra di kursi belakang.


Viana yang kabur ke belakang sekolah tentu di susul oleh Lala dan Lili, kedua kembar itu tentu khawatir dengan keadaan sahabatnya yang baru saja sehat dan kembali sekolah.


"Aku gak pernah pacaran, kalian tahu itu kan?"


Lala dan Lili hanya bisa saling pandang. Jujur, masalah ini pun sangat menganggu pikiran mereka yang sudah bersama sejak masuk SMA. Tapi, keduanya hanya ingin Viana yang cerita sendiri karna bagaimana pun itu sebuah privasi.


"Iya, Vi. Kita percaya kok," jawab Lala.


"Kenapa mereka gak percaya, hem?" tanya Viana yang kesal sendiri, padahal jelas ia tak pernah mendatangi pria tampan tersebut.


"Mereka---, mereka mungkin cuma penasaran aja, Vi," sambung Lili.


"Kaya kalian, iya?" sindir Vian sambil menghapus air matanya.


Sumpah demi apapun, Viana tak pernah berniat memberitahu hubungannya itu pada orang lain termasuk Si kembar, jadi wajar jika dia gadis itupun sama dengan yang lain, mereka juga sempat di beri pertanyaan saat Viana belum masuk sekolah.


"Hem, kalo lo gak mau cerita gak apa-apa, Vi. kita gak masalah kok."


"Gak ada yang harus aku ceritain, aku gak pernah pacaran sama Andra," keukehnya yang membuat Si kembar mengangguk paham.


Jika di pikir, apa yang di katakan Viana memang benar, ia tak pernah berpacaran sama sekali dengan Andra, jadi siapa pun tak bisa meneduhnya berbohong. Dan Viana masih berharap pernikahannya tak terbongkar sama sekali.


Ia masih bersikeras untuk tetap sekolah karna di rumah ia akan ingat terus dengan kondisinya yang sedang hamil, Viana yang belum bisa menerima tentu sangat benci hal tersebut. Perutnya yang masih rata tentu belum mengundang kecurigaan seisi sekolah jadi ia sangat memanfaatkan waktu yang tinggal beberapa bulan lagi ini.


.


.


.


"Lepas!" sentak Viana yang tak suka tangannya di cekal.


"Kalau aku panggil bisa jawab gak sih?"


"Enggak!"


Andra tetap menahan meski Viana terus berusaha meronta ingin di lepaskan. Dan sialnya masih ada beberapa siswa dan siswi yang melihat mereka berdebat.


"Aku anter pulang."


"Gak mau, aku di jemput Ayah," tolak Viana.


"Ayah lagi ada urusan, Vi. Ayah sendiri yang minta kamu pulang sama aku, kalau kamu gak percaya, kamu bisa denger sendiri," kata Andra yang langsung meraih ponselnya dan kemudian mendengar kan Voicenote dari ayah untuk putrinya tersebut.


"Ada tukang ojek, aku bisa pulang sendiri," jawabnya lagi yang masih membantah semua ajakan Andra padahal jelas memang itu perintah dari ayahnya.


"Susah banget dibilangin nya, Sih, Vi!"


"Yaudah diem, gak usah ngatur ngatur aku," jawab Viana.


Tak ingin semakin berdebat, Andra menarik tangan Viana untuk masuk kedalam mobilnya, kini mau tak mau gadis itu diam saat kendaraan milik suaminya itu sudah melaju.


"Besok mereka pasti pada nanya lagi, kamu bisa ngertiin aku gak sih, Ndra?"


"Diem dirumah, kupingmu pasti aman," cetus Andra, ia juga tak akan memaksa jika bukan Ayah mertuanya yang meminta.


"Kamu gak berhak atur aku masalah itu, ini masa depanku."


"Tapi ada anakku dalam perutmu, Vi."


"Ya udah, nih ambil, aku gak masalah," tantangnya yang membuat Andra mencengkram setir mobilnya.


Viana yang terus marah-marah tak di dengar oleh Andra, fokusnya hanya pada jalan di depan dan selamat sampai tujuan, sebab kini ia juga membawa keturunan Bramasta dalam rahim istrinya.


Andra yang mengantar pulang tak ikut turun dan mampir kerumah mertuanya tersebut, ia biarkan Viana masuk sendiri uang yang tanpa pamit padanya


.


.


.


Di dalam kamar, Viana yang langsung naik keatas ranjang mendadak pusing dan mual, ia tak ingin apapun padahal perutnya sudah sangat perih. Viana yang hanya sarapan di rumah memang tak makan apa apa lagi saat jam istirahat, ia belum berani menginjak kan kakinya ke kantin yang biasa nya ada Andra atau Haura disana.


"Sakit banget ya ampun," keluh Viana yang msih memegangi kepalanya yang kian berdenyut.


Dan saking nikmat nya rasa itu, ia sampai tak sadar jika Bunda sudah masuk kedalam kamarnya.


"Loh, Via, kenapa lagi?" tanya Bunda khawatir, ada rasa iri pada putri sambungnya itu yang bisa lebih dulu menjalani proses kehamilan.


"Sakit banget, Bun. Via gak kuat," adu Viana yang kini sedang memijit keningnya sendiri.


Bunda yang di minta menjaga Viana, tentu langsung sigap mengambil obat khusus untuknya, tapi Viana malah menolaknya langsung sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa? jangan tunggu sakitnya kian parah, Vi."


"Via gak mau, Bun."


"Ya terus kamu maunya apa?" tanya Bunda.


.


.


.


Via pengen makan lontong sayur...