Let's, Divorce

Let's, Divorce
part 83



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Viana yang tak bisa tidur karna bayi dalam perutnya terus bergerak hanya bisa diam menikmati rasa geli sambil menatap langit-langit kamarnya, ia tak bisa berguling guling diatas ranjangnya seperti beberapa bulan lalu karna untuk miring kiri kanan saja ia harus sangat hati-hati.


Entah hidup yang seperti apa yang akan di ambil olehnya nanti setelah melahirkan karna ia memang tetap melanjutkan sisa pendidikannya seperti biasa hanya saja bedanya ia menyelesaikan semua tuganya di rumah. Viana akan tetap ujian dan mendapat surat kelulusan sama dengan teman-temannya termasuk dengan Andra.


Mengingat sosok itu, Viana menoleh ke bawah ranjang tempat dimana suaminya tidur selama ini. Meski sering berpelukan di atas kasur namun saat malam Andra akan tetap pindah ke bawah. Jika Viana bertanya ia hanya memberikan senyum yang sulit di artikan.


"Andra, aku gak bisa tidur," ucap pelan Viana sambil memainkan rambut suaminya yang tidur menelungkup.


"Andra... temenin aku, ih." ulang Viana masih berusaha mengganggu karna ia tak mau melamun terus menerus sampai pagi mengingat ini baru jam 3 malam.


Viana menarik napas kasar lalu di buangnya perlahan, setelah itu ia bangun dengan pelan lalu turun dari ranjang. Tingkah konyolnya malam ini adalah malah ikut tidur di sebelah Andra yang jelas ukuran kasurnya hanya cukup untuk satu orang saja.


"Andra geser."


"Hem, apa??" tanyanya kaget karna merasa tubuhnya di dorong seseorang.


"Geseran, kamu tuh tidur apa pingsan sih?!"


Andra yang mengantuk benar-benar sangat mengantuk hanya membuka matanya sebentar lalu menutupnya kembali, rasanya ia tak sadar jika Viana sudah turun dan tidur disatu kasur yang sama dengannya. Sepulang sekolah tadi memang ada yang ia kerjakan lagi bersama teman temannya dan saat sampai rumah ia malah mendapati istrinya yang uring uringan karna kakinya yang pegal, beban yang kini semakin berat di bawa Viana membuatnya merasa sering lebih cepat lelah dan beruntungnya ia memiliki suami yang sangat mengerti akan kondisinya ini.


Seingat Viana, ia sudah tidur sebelum jam 10 malam saat Andra mengusap pinggangnya yang mendadak nyeri, padahal biasanya ia tak pernah merasakan itu.


Tapi, ia terbangun saat Si jabang bayi mulai melakukan aksi akrobatnya dalam perut, entah apa yang di lakukan anak itu hingga membuat Mommynya terbangun di tengah malam bukan karna lapar.


Viana menoleh lagi kearah Andra yang mendengkur halus, wajahnya masih terlihat tampan padahal rambutnya berantakan. Ia tersenyum dan mulai mengusap pipinya tersebut.


Maaf ya aku sudah mengacaukan hidupmu yang selama ini terlihat baik baik saja. Aku tak pernah menyangka bisa sedekat ini denganmu dan melihat mu setiap hari. Karna aku tahu siapa pemilik hatimu saat itu.


Bicara tentang hati, bolehkah ku ajukan satu pertanyaan padamu?


Apa dia masih disana?


Aku tak berharap bisa menggantikannya, tapi aku ingin menepikan sedikit saja namanya dari hatimu, aku sekarang ingin kamu fokus pada kami, ya kami, aku dan anak kita. Rasanya masih saja sakit saat sadar aku hanya memiliki ragamu karna sulit untuk ku percaya tak ada lagi rasa untuk Si cinta pertamamu itu.


Aku paham, semua butuh proses dan tak akan semudah membalikkan telapak tangan untuk melupakannya, tapi aku yakin kami bisa jika memang ingin melakukannya sebab semua akan terlaksana jika ada niat yang kuat.


Jangan meminta ku untuk menyerah dan mundur setelah sejauh ini ya, karna doaku hanya cukup ingin menetap dengan orang yang bisa memberiku rasa nyaman dan aman, dan sialnya itu kamu, iya kamu yang memang suamiku tapi entah apa bisa ku sebut juga sekaligus jadi milikku?


Otakku rumit jika memikirkan hal itu, kamu terlalu baik untuk seseorang yang hanya pura-pura mencintai.


.


.


.


.


.


Udah ceritanya, Vi??