
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Semua orang masih membicarakan kita, Ndra."
"Biarin aja, gak usah di dengerin ya," jawab Andra menenangkan saat jam pelajaran selesai dan sudah bersiap untuk pulang.
"Hem, maunya gitu, tapi tetep risih juga. Mereka masih menyayangkan hubungan kita berakhir," jawab Haura sambil tersenyum getir.
Andra tak menjawab, urusannya akan panjang jika sudah menyangkut hati yang masih cinta karna sepertinya rasa ikhlas hanya ada di bibir saja saat perpisahan di antara mereka terjadi.
"Kamu mudah sekali melupakanku, karna memang langsung mendapat penggantiku. Lalu bagaimana dengan ku yang masih sibuk merindukanmu, berpisah dengan cara seperti ini sakitnya sungguh luar biasa," ujar Haura yang lalu menarik napas berat dan di buangnya perlahan.
"Takdirnya sudah begitu, aku bisa apa, Ra? bukankah aku masih bersamamu saat itu, dan kita baik-baik saja? Tuhan yang membawa dan memberinya langsung padaku."
"Tapi ini rasanya tak adil, kamu bahagia bersamanya karna bisa melakukan apapun yang tak pernah ku berikan kan?" tebak Haura.
Sebagai orang yang paling dekat, ia juga bisa merasakan kebahagiaan yang di rasakan Andra. Itu jelas berbeda, senyum dan raut wajahnya seakan dunia dalam genggamannya saat ini. Dan Andra memang sulit menyembunyikan itu semua apalagi semalam ia baru saja mereguk manisnya surga dunia yang selama ini ingin ia ulang kembali dengan sensasi yang berbeda namun tetap dengan orang yang sama.
Rasanya masih sangat di ingat oleh Andra dimana ia mencium dan mencuMbbu istrinya itu dengan gairah yang tak terkalahkan. Mulai dari kening, pipi leher hingga area perbukitan yang bulat padat dan indah semua tak lepas dari penjelajahan Andr hingga ia meninggalkan beberapa tanda merah di sana padahal sebelumnya Andra tak pernah tahu cara membuatnya.
"Aku hanya berusaha membahagiakannya, jika aku bahagia yang itu karna aku berhasil."
"Andra!" sentak Haura yang tak mau mendengar hal tersebut.
"Aku bahagia jika melihatnya bahagia, begitu pun sebaliknya. Dan kurasa itu memang tugas semua suami di muka bumi ini, Ra." Andra pamit dan langsung keluar dari kelas meninggal kan Si mantan kekasih yang akhirnya menangis.
"Aku tak bisa begini, Andra. Aku mencintaimu."
.
.
.
Andra melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan sedang karna keadaan jalan memang ramai lancar, tak ada pesanan dari Viana tentu membuatnya semakin tak sabar untuk pulang.
Senyum terus terukir di ujung bibirnya mana kala ia ingat kejadian semalam hingga tak terasa Si jendolan malah aktif di dalam celana seragamnya. Beruntungnya ia sudah mau sampai dan sukur sukur Viana mau melayaninya nanti.
Mobil ia parkirkan di garasi dalam karena tak ada mobil Ayah disana. Ia pun turun dan langsung masuk. Hanya Bibi yang di sapa oleh Andra karena Bunda belum pulang dari pasar untuk berbelanja.
Ceklek
"Kangen banget, Vi," bisik Andra di telinga kanan istrinya sambil tangannya juga mengusap perut yang terasa sangat kencang.
"Sama siapa?" tanya Viana sedikit ketus.
"Kamulah, masa iya sama--,"
"MANTAN!" potong Viana cepat sampai membuat kening Andra mengernyit.
"Mulai, bahas itu lagi."
Andra mengurai pelukan lalu masuk masuk dalam kamar mandi. Niatnya untuk melepas lelah bersama sang istri dengan cara bermanja-manja pupus sudah saat kata mantan keluar begitu saja.
"Tebakannya yang benar atau memang ada yang kasih tau ya?" gumam Andra setelah ia mencuci muka lalu melepas baju seragam sekolahnya hingga ia keluar dengan hanya bertelanjang dada.
Viana yang tanpa senyum hanya memainkan ponselnya di sofa sambil sesekali mengelus perutnya yang terus bergerak, bayi itu seperti tahu jika Daddynya sudah pulang tapi belum mengajaknya bicara seperti biasa..
"Kamu udah makan, Vi?" tanya Andra dari depan lemari untuk mengambil satu kaos rumahan.
"Belum," jawab Viana
Andra pun langsung mengulurkan tangannya agar Viana ikut dengannya menuju ruang makan di lantai bawah. Sudah sejak lama ia keduanya selalu makan siang bersama seperti ini, dan itu memabuat Andra begitu senang karna bisa banyak menghabiskan waktu lebih banyak bersama istrinya.
"Perasaanku tak enak kenapa ya?" tanya Viana yang memang terlihat sangat gelisah.
"Jangan memikirkan yang macam macam, Vi. ingat kesehatanmu, Sayang."
"Hem, harusnya sih begitu, tapi seperti ada yang mengganjal dalam hatiku, dan kuharap itu bukan kamu," sindir Viana.
Ia yang sudah menyerahkan lagi miliknya berharap bisa memiliki Andra secara utuh raga, hati dan cintanya. Tapi, mungkikah itu?
"Aku ngapain? aku selalau pergi dan pulang di jam yang sama, apa itu kurang meyakinkan?" tanya Andra.
"Aku hanya ingin memastikan, jika hubungan kita akan selalu baik baik baik saja," ucap Lirih Viana sambil menatap lekat kearah suaminya.
"Pasti, aku ku pasti kan itu, Vi. Kuncinya kamu percaya padaku ya, Sayang."
"Iya, akan ku percayakan semuanya untukmu."
Andra meminta maaf pada Viana dalam hatinya, kali ini ia tak bisa jujur karna tak ingin ada pertengkaran yang terjadi pada mereka berdua di saat hubungan yang selama ini di usahakan baik baik saja malah justru mengikis rasa percaya Viana padanya lagi.