
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Viana yang pulang lebih dulu langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, hati dan otaknya sedang benar-benar berantakan di tambah Andra yang tak kunjung datang. Semua terasa kacau bagi Viana yang merasa mual dan muntah.
"Kenapa kamu harus ada sih?" ucap lirih Viana sambil memegang perutnya yang masih rata jika dalam posisi berbaring.
"Semua jadi berantakan, aku mau ujian dan jalan-jalan, bagaimana jika teman-teman ku tahu aku hamil, hah?" tambahnya lagi dengan cairan bening sudah ada di ujung matanya.
Rasa takut, malu, kecewa, marah dan tak percaya diri kini bersatu dalam hati Viana yang terisak pelan. Tak ada yang mengerti dirinya karna semua orang hanya memikirkan bayi dalam kandungannya saja.
Viana meraih ponselnya yang ada di dalam tas, mencari informasi tentang sesuatu yang mungkin saja bisa membuatnya lepas dari beban ini.
"Kenapa baru kepikiran sekarang?" gumamnya dengan jari terus berselancar di berbagai situs pencarian obat penggugur kandungan.
Ya, pikiran buntu itu akhirnya singgah juga dalam otak Viana. Ia hanya ingin bebas merangkai lagi mimpinya dan keluar dari rasa takut. Hamil muda oleh pacar orang lain meski sah untuknya tetap saja menjadi beban tersendiri karna terus di sebut sebagai perusak hubungan Best Couple sekolah.
Viana terus mencari tahu, mulai dari pemesanan harga dan efek sampingnya. Tapi keningnya terus mengernyit saat membayangkan apa yang akan terjadi pada tubuhnya sendiri jika kelak ia tetap nekat meminumnya.
Sakit gak sih? bathin Viana.
Ia melempar ponselnya, ia tarik napas lalu di buangnya perlahan. Hati dan otaknya kini seolah sedang berperang dan ia tak tahu harus berbuat apa sekarang . Takutnya juga malah justru berlipat-lipat tapi rasa kesalnya jauh lebih dominan saat mengingat tuduhan dari Haura.
"Benar juga yang di bilangnya, Andra malah lebih fokus padaku dibanding sekolahnya. Kenapa aku tak sampai berpikir kesana? anak ini benar-benar membuat kacau."
Viana turun dari ranjang berniat untuk keluar dari kamarnya, ia ingat ada beberapa cemilan di lemari pendingin yang semoga saja bisa sedikit menghilang kan rasa di aduk aduk dalam perutnya sekarang.
Di lantai bawah, Viana malah menghampiri Bunda yang ada di ruang tengah, wanita berhijab itu sedang menggerutu kesal karna Ayah tak kunjung mengangkat teleponnya, tapi fokus Viana justru bukan pada ibu sambungnya melainkan pada siaran berita yang awalnya tak sengaja ia tonton.
Apa aku kesana saja? setahuku itu operasi kecil setidaknya aku tak merasa sakit seperti meminum obat penggugur kandungan. bathin Viana lagi.
"Vi, kamu ngelamunin apa?" tanya Bunda yang membuat Viana langsung tersentak kaget.
"Hem, enggak Bunda, Via mau ambil cemilan tadi," jawabnya dengan perasaan jantung hampir saja copot.
Viana melanjutkan langkah nya ke arah dapur, ia buka Si lemari pendingin lalu mengambil beberapa makanan termasuk sebatang coklat berukuran sedang. Banyak tanya dalam otaknya yang harus di pertimbangkan oleh Viana, ia pun memilih kembali masuk kedalam kamar untuk mencari informasi yang lain.
Di dalam tempatnya beristirahat dan melakukan banyak hal, Viana meraih lagi ponselnya yang sempat ia lempar saat merasa bimbang dan takut. Kali ini apa yang ia cari tentu berbeda meski dengan tujuan yang sama yaitu bagaimana ia bisa menggugurkan kandungannya sebelum semakin besar dan banyak orang tahu.
"Ya ampun, kenapa semahal ini biayanya?"
"Cari sisanya kemana? masa iya minta sama Andra," ucap Viana, entah setan mana yang kini merasuki hatinya untuk berbuat kejahatan pada anaknya sendiri.
"Coba deh nanti, semoga aja dikasih."
Viana mulai menikmati apa yang tadi dia ambil dari dapur meski tetap rasanya begitu sulit untuk di telan, dan saat ia sedang berusaha itulah Andra masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk pintu membuat Viana langsung menoleh, buru buru ia hapus air matanya sebelum Andra semakin dekat menghampiri.
"Kenapa nangis?" tanya Andra yang ternyata tetap bisa melihat kebasahan di wajah cantik alami istrinya yang terus marah-marah.
"Laper," jawab Viana asal tapi ini jujur dari hatinya.
"Ini kan lagi ngemil."
"Tapi gak ketelen, enek banget," adunya lagi yang kemudian membuat Andra tersenyum simpul.
Tanpa berkata apapun lagi, pria itu keluar dari dalam kamar meninggalkan Viana yang aneh dengan sikapnya tesebut, tapi kurang dari lima belas manit nyatanya Andra datang dengan nampan di tangannya.
"Makan ya, aku suapin," ujar Andra, ia tahu Viana hanya akan lahap jika makan dari tangannya meski sebenarnya itu adalah modus dari si jabang bayi.
Viana hanya mengangguk lalu membuka mulutnya, ia yang memang terasa lapar tentu tak menolak tawaran dari Andra karena yang ia tahu ia hanya ingin mengenyangkan perutnya
Suapan demi suapan yang Andra berikan tak terasa membuat piring diatas pangkuannya kosong dan itu pertanda jika makanannya habis.
"Lagi?" tanya Andra yang kali ini di jawab dengan gelengan kepala.
"Aku gak mau makan, aku maunya---," Viana yang jantungnya semakin berdebar sampai memotong ucapannya sendiri karna merasa tercekat di tenggorokan.
"Kamu mau apa?" tanya Andra aneh.
.
.
.
Uang....