
🍂🍂🍂🍂🍂
Pangeran yang tiba-tiba demam saat pagi tentu membuat semua orang yang ada dirumah panik terutama Viana yang rasa cemas dan khawatirnya masih saja berlebihan jika sudah menyangkut Sang buah hati.
"Gak apa-apa, Mom. Nanti kita ke dokter ya," ucap Andra menenangkan tapi Viana tetap terisak sedih.
Wajar memang mengingat Pangeran begitu dekat dengan Mommynya, tak perduli anak itu bukan anak ASI tapi nyatanya ikatan tetap diantara mereka padahal Viana dulu sempat kembali down saat keluarga Bunda datang menengoknya dan melihat Pangeran adalah anak Sufor.
*Rajin makan sayur dong biar ASInya banyak
*Wah, padahal sayang uangnya kalo buat Sufor
*Anak sekarang mau bikin doang emang sih!
*Biasa, sakit sedikit aja udah nyerah
*Takut payUDAra nya gede mungkin
*Hem, padahal ribet yang jadi punya banyak perlengkapan...
Begitu banyak kalimat kalimat yang di dengar Viana kala itu, jika bukan Andra yang paham dengan situasi mungkin Baby Blues yang dialami istrinya akan jauh lebih parah.
Rasa sabar pasangan suami istri itu terus di uji hingga mendewasakan mereka sebelum waktunya, tapi semua berbuah manis dan indah kala cinta merekah sempurna di tambah tumbuh kembang Pangeran yang sehat dan menggemaskan.
"Aku nggak tega minumin obatnya, Dadd," ucap lirih Viana yang memilih selalu tak mau melihat saat Pangeran minum obat atau imunisasi ketika bayi.
"Kan biar sembuh, Sayang," balas Andra, setakut apapun Viana ia akan selalu tenang jika sudah suaminya yang bicara.
Viana mengangguk, ia yang sedari tadi menggendong Pangeran akhirnya diturunkan ke ranjang untuk minum susu lagi. Tapi, batita lucu berpipi bulat itu menangis dan terus menggelengkan kepala tanda menolak apa yang kini di sodorkan padanya.
Gendongan pun di ambil alih Andra, ia tetap merayu agar Pengeran berhenti menangis tapi yang terjadi anak itu malah memuntahkan isi perutnya hingga tercecee di tubuh Andra, di saat yang sama juga Mami datang karna mendapatkl kabar dari Bunda.
"Loh, Sayangnya Omma kenapa?" tanya Mami panik sambil meraih cucu kesayangannya itu.
Andra yang kotor di biarkan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sedang Viana juga langsung mengganti pakaian putranya.
"Sejak kapan demam?"
"Baru pagi tadi, semalam sampai subuh aku bikin susu masih biasa, Mih," jawab Viana takut dan segan untuk bercerita pada ibu mertuanya.
"Sudah di beri obat?" tanya Mami lagi yang di jawaban anggukan kepala oleh Viana.
Merasa tak ada yang tega akhirnya mereka membawa Pangeran ke rumah sakit, Sedia payung sebelum hujan mungkin itulah gambaran perasaan para orang tua kini terhadap Pangeran.
.
.
.
"Tak apa-apa, cuma demam biasa saja. Semua masih aman," ucap dokter usai memeriksa cucu laki-laki Bramasta, bahkan Papi ikut menyusul juga saat tahu Pangeran di bawa kerumah sakit.
"Nanti sembuh kan?" tangan Viana yang masih saja khawatir.
"InsyaAllah, tetap berikan kehangatan, minum susu seperti biasa, air putih, sayur dan buah yang cukup," pesan dokter lagi.
Tapi, apapun yang dikatakan wanita berjas putih itu nyatanya tetap membuat Viana ketakutan.
Viana dan Andra pun keluar dari ruang periksa bersama Pangeran menemui Bunda, Mami dan Papi yang menunggu di luar, raut wajah ketiganya tak kalah khawatir karna sempat mendengar cucu kesayangan mereka menangis.
"Gimana? Pangeran kenapa?" tanya Mami.
"Cuma demam aja," jawab Andra.
"Tadi nangis, kenapa?" sambung Bunda.
"Gak mau lepas dari Mommynya, biasalah," Andra tersenyum kearah Sang istri sambil mengeratkan rangkulan.
Di rasa tak ada yang harus di cemaskan, mereka pun memilih untuk pulang. Tapi, Mami meminta anak dan menantunya itu untuk menginap di kediaman Bramasta karna bagaimana pun Oppa dan Ommanya ingin sekali ikut andil menjaga cucu mereka.
Bunda ikut lebih dulu ke rumah besannya dan barulah ia pulang bersama dengan Sang suami yang tak lain adalah Ayah Viana.
"Kamu istrahat ya, Vi. Jangan sampai ikut sakit juga, " kata Andra saat ia, Viana dan Pangeran sudah didalam kamar.
Kini, Viana mau lagi masuk ke ruangan yang pernah membuat ia trauma hebat, sikap kasar Andra dalam melakukan hak dan kewajiban secara bruTAl memang terus membekas meski tak membuat Viana takut untuk mengulangnya lagi. Ia senang dan masih percaya karna sampai detik ini suaminya tak lagi mengulangi hal yang sama seperti saat pertama kali dulu.
"Pangeran belum tidur, nanti aja bareng," tolak Viana sambil menggeleng kan kepala.
Pangeran yang berbaring di tengah ranjang terus di usap pipinya yang masih saja gembul padahal susu yang masuk kedalam perutnya hanya sedikit.
"Ya sudah, kalau Pangeran tidur kamu juga tidur ya," ucap Andra.
"Memang kamu mau kemana?" tanya Viana serius.
Andra yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung mengernyitkan dahi pasalnya raut wajah Viana tak ada manis-manisnya.
"Kemana? aku gak kemana-mana," jawab Andra sambil meraih tangan istrinya yang sedari tadi di pakai mengelus pipi putra mereka.
Viana menunduk, sikapnya memang kadang berlebihan dalam bertanya dimana dan dengan siapa suaminya berada, mungkin karna Andra bukan sekedar kekasih melainkan suami dan ayah anak yang sudah ia perjuangankan saat masa kehamilan dan melahirkan satu tahun lalu, jadi tak. heran jika takut di tinggalkan menghantui Viana.
Belum lagi teman-teman kampus yang kebanyakan gadis cantik yang jauh lebih langsing darinya sebab tubuh Viana belum juga kembali normal seperti sebelum ada Pangeran.
Rasa minder tentu ada, mereka yang masih muda tentu masih ingin juga coba coba apalagi segala godaan hampir setiap saat datang silih berganti terutama pada Andra yang siapapun tak mungkin tak suka padanya, ia yang seorang putra bungsu Bramasta sudah jadi rahasia umum jika ia jugalah yang akan menjadi pewaris dari semua perusahaan keluarganya.
"Jangan pergi, tetaplah disini," mohon Viana yang langsung berhambur kedalam pelukan suaminya.
Andra yang langsung mendekap Viana malah tergelak seraya menciumi pucuk kepala istrinya dengan sangat gemas, untuk menenangkan wanita halalnya, ia pun membaringkan Viana dan Pangeran di atas tubuhnya agar demi memberi rasa nyaman dan aman meski hanya dari sebuah pelukan.
"Cintaku sudah habis padamu, Mom," bisik Andra dengan mencium lagi kening surga putranya tersebut.
"Terimakasih, aku tak meminta apapun padamu, cukup hanya aku dan Pangeran ya?" mohon Viana lirih.
.
.
.
Tentu, karna kebahagiaan kalian adalah tanggung jawabku...