
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Mau?" tawar Viana pada Andra saat keduanya sudah masuk kedalam mobil, tepatnya setelah pria yang harus punya stok sabar itu telah menaruh buah-buahan di kursi belakang.
"Enggak, kamu aja," tolak Andra sambil menyalakan mesin kendaraanya untuk siap melaju kembali ke rumah sakit.
Permasalahan buah tangan untuk Mami ternyata hanya alasan bagi Si bumil yang ternyata ingin batagor, entah memang sulitnya ia minta atau memang dasarnya wanita itu menyebalkan yang jelas Andra sangat menikmati semua hari-harinya bersama Viana.
Andra hanya sesekali menoleh kearah Viana yang sedang makan Batagor, padahal sebelum pergi ia masuk dulu ke dapur untuk mengambil sekotak kue. Kini, apa saja ada di dalam lemari pendingin di dapur rumah itu demi menuruti hawa lapar Viana yang tak tahu waktu.
Semua bisa di makan wanita itu entah yang berat atau sekedar cemilan, semua orang senang melihat Viana semakin berisi dengan pipi yang kini mirip bakpao.
"Gak pedes nih, kalo pedes pasti enak," keluhnya setelah meminum air jeruk dalam kemasan botol.
"Gak enak aja abis," ledek Andra menahan tawa.
"Sayang kalau gak abis mubazir," bela Viana pada diri sendiri tapi sambil mencibir.
Andra hanya tersenyum, berhentinya mobil di lampu merah ia gunakan untuk mengusap perut Viana yang kini sudah terlihat sedikit buncit apalagi jika sedang duduk, itulah yang kemarin di perdebatkan mereka berdua karna Viana mulai bingung ia yang masih ingin ke sekolah takut ada yang sadar dengan bentuk tubuhnya.
"Sehat sehat ya kalian berdua," ucap Andra sambil tersenyum.
"Aamiin."
.
.
.
Mobil kini sudah sampai lagi di parkiran rumah sakit, kedua turun dan langsung menuju ke kamar rawat inap tempat Mami kini berada.
Jangan tanyakan bagimana senangnya wanita paruh baya itu saat anak menantunya datang sebab ini adalah kejutan dari putra bungsunya yang sengaja tak mengabari.
Viana akan sangat malu sekali jika sampai tak datang menjenguk meski semua ini katanya di rahasiakan darinya, Mami yang selama ini begitu baik padanya membuat Viana tak tega saat melihat nya hanya berbaring.
"Maaf, sayang. Mami hanya tak ingin kamu khawatir. Kamu harus fokus dengan bayimu ini," ujar Mami yang memang hanya itu alasan keluarga menyembunyikan kondisi wanita itu.
"Tapi aku nanti di cap jadi Mantu durhakim," cetus Viana yang kini melirik kearah suaminya.
Uhuk... uhuk
Andra yang merasa tersindir langsung tersedak saat ia memakan buah jeruk yang di bawanya sendiri barusan.
Dua wanita itu pun mengobrol bersama hingga akhirnya, Viana pun pamit saat Andra mengajaknya pulang, raut wajah sedih jelas terlihat di wajah Mami saat di tinggalkan tapi Viana berjanji untuk datang kembali nanti entah di rumah sakit atau di kediaman Bramasta.
"Kenapa sih ngajakin pulang terus?" tanya Viana.
"Aku takut kamu laper, Vi. Cukup lumayan lama log kita disini, emang kamu gak pengen makan?" sahut Andra yang mengkhawatirkan hal tersebut.
"Iya sih laper."
"Nah, kan! terus mau makan apa? mumpung di jalan," tawar Andra.
"Aku mau martabak kacang coklat aja, Anget sama manis kayanya enak banget," jawab Viana sambil membayangkan apa yang di inginkannya tersebut .
"Hem, Ok."
"Andra, kok semenjak hamil jadi terkacang kacang ya?" tanya Si bumil bingung, mulai dari senang makan sate, somay dan kini martabak.
.
.
.
Hem, kan pas bikin akunya di kacangin