
🍂🍂🍂🍂🍂
"Hallo, Assalamu'alaikum, Andra," ucap Bunda saat panggilan telepon tersambung pada menantunya.
"Waalaikum salam, Bun."
"Andra, Viana nangis terus pengen lontong sayur, kamu bisa tolong cariin? Ayah gak bisa pulang, Bunda gak bisa bawa motor, gimana ya?"
"Lo--lontong sayur? tengah hari bolong begini, Bun?" tanya Andra memastikan jika apa yang di dengarnya tak salah, ia juga sambil melihat jam yang menggantung di dinding kamarnya.
"Iya, bisa tolong cari?" ulang Bunda yang di iyakan langsung oleh Andra.
Sambungan telepon pun di akhiri, Andra yang belum mengganti seragamnya kembali memakai jaket lalu keluar dari kamar, baru saja ia turun dari tangga ternyata ada suara Mami yang memanggilnya. Wanita itu tersenyum simpul saat putra bungsunya bilang akan cari lontong sayur untuk Viana.
"Istrimu ngidam, cepet belikan sana. Awas kalau cucu Mami ileran," ancam Mami yang membuat Andra langsung membuang napas kasar.
Ia yang sudah di beri ilmu perngidaman sepertinya tak akan hidup tenang jika Viana benar-benar seperti ibu hamil pada umumnya. Andra yang pamitan pun tentu langsung di beri semangat oleh Maminya yang terlihat bahagia sekali.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, ia mencari kemana saja yang sekiranya ada penjual lontong sayur, jika waktu pagi mungkin tak akan sesulit ini karna di pasar pun pasti banyak, lalu apa kabar jika jam jam segini?
"Mau marah, tapi itu hasil bikinan gue!" umpat Andra yang sebenarnya kesal.
Tapi setelah pusing mencari, akhirnya ia dapat juga daerah pinggiran kota. Tempatnya cukup lumayan jauh, tapi demi sang jabang bayi ia tetap menempuhnya.
.
.
.
Ada rasa lega dan senyum tersungging di ujung bibir saat Andra masuk kedalam rumah mertuanya, di tangannya juga sudah ada sebungkus lontong sayur yang di inginkan Viana, ia sengaja memisahkan semuanya agar bisa di hangatkan lagi oleh Bunda yang ia temui di dapur.
"Nangis terus, mual muntah juga, kasihan lihatnya," ujar Bunda sambil menyiapkan apa yang di berikan Andra padanya barusan.
Bunda hanya tersenyum, menantunya itu salah jika bertanya padanya karena Bunda belum pernah merasakan dan ingin sekali merasakan tapi Tuhan justru lebih dulu memberinya cucu di banding anak.
"Biasanya ya gitu, harusnya kalian bisa sama-sama, jadi kalau Viana butuh sesuatu bisa langsung. Bingungnya kalau tengah malem," ucap Bunda yang belum apa-apa sudah khawatir.
Andra menunduk bingung, tentu ini juga yang ia inginkan tapi semua ada keputusan ada pada Viana, ia tak mau memaksa karna akan berakibat pada bayi mereka.
Andra pun langsung membawa apa yang di inginkan istrinya ke dalam kamar, Viana menoleh sambil menautkan kedua alisnya.
"Mau apa kesini?" tanya nya ketus.
"Katanya mau lontong sayur, nih aku bawain, makan ya," jawab Andra yang tak di percaya Viana, tapi jika melihat apa yang dibawa pria itu rasanya ia tak ingin menolak.
Viana mengambil nampan dari tangan Andra, ia letakaan di atas karpet lantai dan mulai memakannya, tapi baru satu suap ia sudah mual kembali. Viana terus memaksa makanan itu masuk kedalam perutnya karna memang lapar sekali.
"Minum dulu, Vi."
"Enggak, enek banget," tolak Viana sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Andra yang tak tega langsung menarik mangkok berisi sisa lontong yang masih di mangkok.
"Aku suapin coba ya," tawar Andra.
Viana membuka mulutnya dan mengunyah apa yang kini sudah masuk, keduanya melakukan itu hingga tak terasa habis tak tersisa.
.
.
.
Ternyata makannya mau sama aku ya, Vi....