
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
17 tahun kemudian..
Viana yang baru keluar dari kamarnya langsung berjalan sedikit buru-buru menuju kamar anak tunggalnya, Pangeran.
Siswa SMA yang tampan, pintar dan pastinya baik hati idaman para gadis di sekolah maupun di luar sekolahnya. Tapi, dari semua yang ingin jadi kekasihnya justru ada satu teman sekelasnya yang berkali kali mematahkan hati Pangeran.
Ya, entah apa kurangnya pemuda itu hingga tak terhitung sudah berapa kali ia di tolak tanpa alasan jelas.
"Pengeran, ayo bangun!"
"Lima menit lagi, Mom," jawabnya dengan mata terpejam enggan di buka padahal ia sudah bangun sejak sejam yang lalu.
"Mommy tunggu 30 menit lagi, kalau belum turun juga, Mommy seret kamu!" ancam Viana yang nyaris setiap pagi ia lontarkan tapi Pangeran tetap tak ada kapoknya.
"Hem, iya."
Viana pun kembali keluar, ia balik ke kamarnya untuk memastikan Sang suami sudah selesai membersihkan diri.
"Udah bangun Si Endut?" tanya Andra, panggilan itu tetap melekat pada putranya meski kini sudah jauh berbeda.
"Bangun kalau di bangunin, tapi kayanya udah bangun cuma males bangun," jawab Viana sambil meraih dasi untuk di pakaikan di leher suaminya.
"Gimana sih, udah bangun tapi gak mau bangun?" kekeh Andra yang tak paham dengan yang di katakan Sang istri berusan tentang putra mereka.
"Intinya, anak kamu itu MAGER!" Cetus Viana.
"Aw! pelan-pelan dong ngiket nya, kamu mau jadi janda?" omel Andra saat Viana mengikat si dasi cukup kencang hingga terasa sedikit mencekik lehernya.
"Janda kaya raya, boleh juga," balasnya sambil tertawa tapi langsung mendapatkan hukuman dari Andra dengan cara menggigit bibir wanita itu hingga menjerit.
"Aku gentayangin kalau kamu kawin lagi!"
Ya, mereka masih tetap sama, mencintai karna apa adanya memang tak merubah rasa sebab sudah menerima baik buruknya pasangan sejak dari awal. Keduanya sepakat untuk sama-sama jauh lebih baik ke depannya tanpa mencoba mencari pelarian dengan alasan bosan.
.
.
30 menit waktu yang di berikan nyatanya tak cukup bagi Pangeran, terbukti ia telat 8 menit sampai di meja makan yang tentunya sudah ada Daddy dan Mommynya.
Masih di rumah yang sama, namun hanya ada mereka bertiga di bangunan dua lantai tersebut.
Ayah yang meninggal 10 tahun lalu akibat serangan jantung membuat Bunda memutuskan untuk tinggal di salah satu pondok pesantren di kota lain, wanita baik bak bidadari itu hancur dan hampir depresi saat di tinggalkan suaminya secara mendadak usai sarapan pagi hari.
Jadilah, kini hanya Viana, Andra dan Pangeran. Yang awalnya pria itu ingin mandiri tinggal di tempat lain akhirnya harus mengalah untuk tetap di rumah peninggalan mertuanya dengan alasan Sang istri yang memang anak tunggal. Terlalu banyak juga kenangan di rumah tersebut yang pastinya sulit Viana tinggalkan begitu saja.
"Mandi gak Ndut?" tanya Andra iseng saat putranya baru saja menarik kursi meja makan.
"Enggak, dingin banget."
Viana yang mendengar itupun hanya bisa menarik napas berat lalu di buangnya perlahan.
"Kebiasaan!"
"Irit sabun, Mom," sahut Pangeran.
Uhuk.. uhuk...
Mendengar kata Sabun entah kenapa Andra ingat lagi dengan rutinitas sebelum mandinya jika sedang----,
Hem, punya istri dengan trauma berat memang cukup menyiksa pria itu dulu, dimana sabun adalah tempat pelampiasan untuk mendapat pelepasan. Ia rela di marahi Viana yang kesal karena sabunnya cepat sekali habis.
"Kenapa, Dadd?" tanya istri dan anaknya berbarengan namun hanya di jawab dengan
gelengan kepala dan senyum mencurigakan.
Usai memanjakan perut di pagi hari, mereka mulai melanjutkan aktifitas masing-masing. Andra yang pergi ke kantor karna kini ia adalah Direktur utama di perusahaan Bramasta Group sesuai dengan keinginan Papih yang dua tahun ini menghabiskan waktunya di kursi roda sedangkan Mami juga d
Begitu pun dengan Viana yang sudah beberapa tahun ini sibuk mengurus toko kue dan bunga peninggalan Ibu mertua rasa kandung tersebut.
Sedangkan Pangeran sudah berangkat ke sekolah dengan motor sportnya.
.
.
.
Si tampan anak tunggal kaya raya itu sampai di parkiran 5 menit sebelum bell masuk kelas. Dan biasanya ia hanya akan menyapa teman yang menyapanya saja, selebihnya Pangeran akan diam seperti batang pisang yang lewat.
"Ran, pulang nanti liat yang latihan balap motor buat malam minggu yuk," ajak Rival teman sebangku Pangeran.
"Dimana?"
"Tempat biasa, mau ya. Soalnya gue gak ada temen numpang," jawab Rival lagi.
"Sialan lo!" omel Pangeran pada teman sekaligus sahabat karna mereka cukup lumayan dekat di banding dengan yang lain.
Bell masuk beberapa jam lalu kini berganti dengan bell istirahat, semua siswa tak terkecuali Pangeran pun keluar kelas. Tujuan pemuda itu kali ini bukan ke kantin seperti yang lain tapi ke ruang OSIS sebab ia adalah ketuanya.
Ada beberapa yang harus ia periksa sebelum akhirnya memanjakan lidah dan perut yang mulai keroncongan.
"Sudah semua, Ran. Yuk Kantin," ajak Puteri sekertaris OSIS yang sering bersamanya.
"Hem, iya." keduanya keluar dari ruangan tersebut dan bergegas menuju kantin, banyak yang menebak jika mereka berpacaran tapi nyatanya Pangeran tak lebih menganggap teman. Karena,
"Apa?" sentak seorang gadis dengan galaknya saat di hampiri oleh Pangeran.
"Liat doang, emang gak boleh?"
"Enggak!" jawabnya lagi yang selalu kesal jika bertemu Pangeran yang tak pernah lelah berusaha ingin masuk kedalam hatinya.
"Pelit banget! kalau gak mau di liat, muka lo harusnya pakein karung," ledek Pangeran sambil tertawa tapi jangan tanya seperti apa sorot mata pemuda itu yang pastinya teduh dan ada cinta luar biasa disana.
Bagaimana gadis itu akan balik menyukainya jika Pangeran manisnya kadang salah alamat. Bukan di buat Baper seperti Daddynya ia justru lebih sering merasa ingin di buat di lempar sepatu oleh gadis incarannya tersebut.
"Lo yang gue karungin!"
"Gak apa-apa, kita sekarung berdua," kekehnya lagi yang membuat Rival yang baru datang menggeleng kan kepala.
Tiada hari tanpa keributan yang di lakukan oleh keduanya yang kini sedang duduk berdua saling berhadapan.
"Yang ada sepiring berdua, bukan sekarung berdua," cetus Rival.
"Itu udah gak aneh, Val," sahut Pengeran yang tak lepas menatap gadis kesayangannya.
"Udahlah, lo itu selalu bikin mood makan gue ancur."
"Sini gue suapin, gue gak akan nolak," kata pemuda tampan yang senyumnya melebihi manisnya semangkok es buah tersebut.
Tak ada balasan apapun darinya, gadis itu pergi meninggalkan Pangeran yang masih setia menatap punggungnya.
"Satu, dua, tiga, empat, nah kan nengok!" tebaknya yang selalu benar lalu tertawa hingga membuat gadis itu kesal dan mengepalkan kedua tangannya saat mendengar teriakan putra tunggal Bramasta.
.
.
.
.
Ay lop yu Pull PANGERAN SENJA...