Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 129



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Selalu ada pelangi usai hujan, itulah pepatah yang sering di dengar usai menghadapi masalah. Tapi, berbeda bagi Andra karena bukan pelangi yang datang melainkan lahar cintanya yang akan siap membanjiri lembah imut sang istri.


"Udah, aku capek," tolak Viana saat salah satu tangan suaminya berada di atas bagian daging keNyal yang menantang.


"Emang aku ngajakin lagi?" ledek Andra.


Dua kali sudah lebih dari cukup baginya, meskipun ingin 'Nambah' rasanya lebih nikmat jika esok pagi saat bangun tidur atau saat mandi berdua itupun jika keadaan mendukung dengan belum bangunnya Pangeran. Sebab, anak itu selalu sesuka hatinya saat ingin bangun pagi yang artinya tak bisa di tebak dan tak punya jam khusus juga.


"Ya udah tidur, aku capek," ucap Viana yang sudah memejamkan mata sambil mengeratkan pelukan. Tubuh yang polos tanpa apapun membuat sensasi lain saat masuk kedalam dekapan pria itu.


Jangan bilang jika mereka tak punya kegiatan lain di luar rumah. Sebab dengan sadar mereka tahu jika rasa bahagianya hanya terletak pada pasangannya saja. Menghabiskan waktu bersama nyatanya semakin mengeratkan cinta mereka yang awalnya terpaksa.


"Ini semuanya udah tidur, Mom. Tinggal nunggu mimpi aja," sahut Andra bergumam.


Jam 3 pagi adalah waktu saat ini, sudah bisa dibayangkan apa saja yang sudah mereka lakukan dalam rentan 6 jam lamanya semenjak Pangeran terlelap.


.


.


.


Pagi yang cerah pun di sambut oleh pasangan suami istri yang sudah di membersihkan diri masing-masing.


"Langit cerah banget ya, Mom." Andra yang berdiri di depan jendela kamar sampai tersenyum lebar.


Otaknya kembali melanglang buana membayangkan liburannya nanti padahal Viana belum memberikan jawaban sama sekali dengan ajakan suaminya tersebut.


"Emang kenapa kalau cerah? mau main layangan?" ledek Viana sambil membuatkan susu. Jangan sampai Pangeran bangun saat susunya belum siap.


Ia hanya tahu, tapi tak pernah merasakan apa yang biasanya anak anak dulu seusianya lakukan. Andra yang tumbuh di kalangan keluarga kaya raya memang tak sembarangan dalam bergaul tapi bukan berarti ia tak punya banyak teman karna kini terbukti ia menjadi sosok yang mudah bergaul dan tak pemilih. Andra jarang sekali memiliki musuh karna tingkahnya pun selalu di batas wajar.


Viana yang hanya tersenyum langsung menyuSUii Pangeran yang sudah membuka matanya. Jika tidurnya cukup tanpa gangguan anak itu akan bangun dengan senyum lebar namun mata yang terpejam saking bulatnya Si pipi.


Tok... tok.. tok...


Suara ketukan pintu mau tak mau mengalihkan pandangan suami istri tersebut. Viana yang kerepotan membuat Anda yang membuka kan pintu.


"Bunda," seru Andra saat ternyata sosok ibu mertua lah yang ada di depan pintu.


"Sudah siang, kalian gak kuliah?" tanya Bunda yang memang hampir waktunya sarapan.


"Pangeran baru bangun," jawab Andra sambil menggeser kakinya agar wanita berhijab itu masuk ke dalam kamar sang Putri.


Bunda yang mendekat kearah ranjang tampak senang melihat Pangeran, bayi kesayangannya itu tumbuh jadi anak yang sehat dan menggemaskan semakin hari yang membuat ia pun semakin sayang padanya.


"Kalian jadi liburan lusa? Pangeran mau sama Bunda atau Mamih?" tanya wanita itu dengan santai dan polosnya tanpa memikirkan perasaan bocah baperan yang kini mulai terisak.


.


.


.


.


Ndud.. Entuuuut...