Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 60



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Viana yang melepas tangan Andra langsung berlari saat suaminya itu baru saja ingin membuka mulut untuk membalas sindiran yang di layangkan untuknya. Kadang ia bingung sendiri dengan segala bentuk amarah Viana yang selalu menyangkut pautkan si mantan kekasih. Jika itu sebuah luka sama saja ia selalu memberi garam di atasnya padahal rasa sakit itu perlahan memudar dan kering.


Karna hanya rasa tak ingin berdebat di depan orang banyak, Andra membiarkan Viana pulang sendiri, sebab akan serba salah untuk Andra meski ia sudah berusaha melakukan yang terbaik menurut versinya.


Pesan dari Mami yang memintanya untuk pulang dulu pun lekas dituruti, Andra akan mampir sebentar ke rumah orang tuanya sekalian mengambil beberapa barangnya.


Mobil sport mewah milik anak bungsu Bramasta itu melaju dengan kecepatan sedang, meski sudah lewat dari jam makan siang tapi keadaan jalan masih saja tetap ramai lancar dan ini juga yang membuat Viana lebih senang membawa motornya sendiri di banding harus antar jemput dengan mobil atau taksi online.


Tak sampai 60 menit kereta besi itu pun sudah ada di garasi rumah mewah kediaman Bramasta. Andra turun dan langsung menatap tajam kearah satu mobil yang tak kalah mewahnya, siapa lagi jika bukan milik kakak laki-lakinya.


Andra masuk dengan langkah santai karna tak terlalu terburu-buru, ia yang baru mau naik ke lantai atas ternyata mendengar namanya di panggil dan itu sontak membuatnya menoleh.


"Andra, baru pulang sekolah?" tanya basa basi seorang pria dewasa degan kacamata yang bertengger di batang hidungnya.


"Menurut Mas Daffa, gimana? apa aku terlihat baru pulang mancing?" Andra balik bertanya.


"Istrimu tak ikut? apa kabar dia, terakhir meneleponku katanya sering sakit bagian bawah perut dan muntah terus." pertanyaan Daffa tanpa sadar menyulut emosi Andra yang memang sudah kesal sejak tadi.


"Dia ceritakan itu semua padamu?"


Daffa hanya mengangguk, apa yang dirasanya wajar dan biasa ternyata tidak bagi adiknya. Andra marah dan menunjukkan dengan keras dada kakaknya itu dengan jari telunjuk.


"Jangan macam macam dengan istriku, atau aku akan menghabisimu!" ancam Andra yang tak pernah merasa takut padahal mereka sedarah satu ayah dan ibu.


Andra naik ke lantai dua dengan menaiki tangga, ia mengambil beberapa baju, seragam dan juga buku. Semua ia masukkan ke dalam tas yang akan ia bawa kerumah mertuanya. Senang tak senang ia akan disana mendampingi istrinya tak perduli Viana selalu mengomel karna memang seperti itu sifatnya di tambah kini ia pun tengah hamil muda, bisa di bayangkan se berantakan apa mood wanita itu.


"Buru buru sekali, mana Viana? tak di ajak atau dia yang tak mau ikut?" tanya Mami saat sudah duduk bersama di sofa.


"Andra gak bilang mau pulang, jadi gak ajak Via," jawab Andra yang berharap jika wanita paruh baya di sampingnya itu tak kecewa.


"Oh, ya sudah. Asal kalian tidak bertengkar. Mami hanya rindu istrimu, minggu depan kita jalan-jalan ya, ajak Via untuk refresing agar tak stress."


Andra hanya mengangguk karna ini adalah ide luar biasa yang di berikan Mami untuknya juga Viana karna keduanya bisa jalan-jalan tanpa takut orang yang di kenal melihat kedekatan mereka.


"Iya, Mih, nanti Andra bilang Viana ya, do'akan dia sehat."


"Daffa bilang Via sempat sakit karna terus muntah, lalu bagaimana sekarang?" tanya Mami yang terus khawatir.


"Baik, mual muntah nya sudah sedikit berkurang, Mih," jawab Andra, tentu ia tak mengatakan jika itu semua karna kedekatan mereka.


Mami pun seperti biasa memberi banyak nasihat dan pesan, ia yang pernah jadi anak, istri, ibu dan menantu tentunya sangat paham posisi Viana. Mami tak pernah membedakan kasih sayang pada semuanya, semua sudah ada porsinya masing-masing sesuai kebutuhan siapa yang lebih dulu di perhatikan.


"Ya sudah, Andra pamit ya, Mih."


"Iya, Nak. hati hati dijalan ya, ingat semua yang sudah Mami katakan padamu," kata Mami sambil mengusap pipi anak bungsunya.


.


.


Semoga Viana bisa membuat mu tak bersedih lagi atas masa lalu, menerima takdirmu yang sekarang dan berdamai dengan luka yang pastinya tetap tersisa, hingga tanpa sadar kamu akan menyesal kenapa tak sejak lama mengenalnya...