Let's, Divorce

Let's, Divorce
Episode 47



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Viana yang tak tahu jika Andra pulang sempat mencari di bawah ranjangnya tempat dimana pria tampan itu tidur saat menginap di rumahnya tapi apa yang di cari ternyata tak ada disana.


"Pulang kali ya," bathin Viana yang lalu bangun karna merasa mual lagi dalam perutnya.


Di jam 1 dini hari, Viana sudah berkali-kali bolak balik kamar mandi. Ia yang lemas harus tetap memaksakan diri keluar dari kamar untuk menuju dapur, perut yang terasa lapar membuatnya ingin memakan apapun itu demi bisa mengganjal perutnya. Tapi, tak ada satupun yang menggugah seleranya.


Oeeeeeekkkkk


Lagi lagi Viana memuntahkan isi perutnya yang tak ada apapun di wastafel. Ia benci dengan keadaan ini apalagi harus mengganggu ART nya hingga wanita baya itu mendekat.


"Loh, Mbak Via kenapa?"


"Mual banget, Bi," sahut Viana dengan kedua mata berkaca-kaca.


Kamar Ayah dan Bunda yang cukup jauh dari dapur tak membuat mereka tahu jika anak perempuan satu-satunya itu kini sedang menahan gejolak dalam perutnya.


"Bibi buatkan teh madu, mau?"


"Enggak, teh tawar saja, Bi," tolak Viana yang malah minta yang lain pada orang yang sudah bekerja lama dengannya itu.


"Ya sudah, Mbak Via duduk dulu ya, biar bibi buatkan, semoga nanti gak mual lagi," Ucap Bibi yang hanya di balas dengan senyuman oleh Viana.


Dengan kedua tangan yang hampir keriput itu, Bibi membuatkan apa yang di inginkan oleh Nona nya tersebut, dan tak hanya sampai di situ karna Bibi juga ikut menemani hingga segelas teh tawar hangat yang dibuatnya hampir habis.


"Mbak Via yang sabar ya, semua yang hamil memang begini, tinggal kita nikmatin saja. Karena, banyak yang justru ingin," kata Bibi sambil mengusap punggung anak majikannya tersebut.


"Termasuk Bunda," jawab lirih Viana.


"Itu Mbah Via tahu, anggap itu pengganti kebahagiaan di rumah ini. Mbak Via harus menjaganya karna ini amanah dari sang pemberi kehidupan," Pesan wanita baya tersebut.


Viana berhambur ke dalam pelukan Bibi yang di anggap seperti neneknya sendiri, tak ada sekat status di antara keduanya kecuali saling menghargai satu sama lain.


Bibi paham bagaimana menjadi Viana yang harus hamil muda terlebih masih sekolah seperti ini. Tapi tak ada juga yang bisa mengubah takdir akan ada hikmah dan hadiah di balik masalah dan cobaa yang menerpa.


"Mbak Via adalah wanita beruntung karna sudah melewati beberapa proses."


"Proses apa?" tanya Viana.


"Setelah menjadi anak, istri dan kini menjadi ibu, benar kan?"


Viana mengangguk paham, memang benar yang di katakan Bibi barusan tapi kenapa di waktu secepat dan semuda ini di saat semua Teman-temannya sibuk mencari tempat kuliah untuk nanti tapi ia malah sibuk merasakan mual muntah seperti ini. Viana merasa ini tak nadil sama sekali baginya.


"Mbak Via istirahat ya, kasian dede bayinya," titah Bibi yang di jawab angguk kan kepala, tapi baru saja ingin kembali ke kamar, Viana memuntahkan apa yang baru saja ia minum.


Bibi yang tak tega pun memapah Viana sampai ranjangnya.


"Butuh sesuatu lagi, Mbak?" tanya Bibi.


"Enggak, Bi. Terimakasih," jawab Viana sambil mencoba berbaring.


.


.


.


Kalau masih mual coba telepon Mas Andra aja, mungkin dede bayi inget ayahnya..