Let's, Divorce

Let's, Divorce
Bab 38



🍂🍂🍂🍂🍂


Kabar perpisahan Andra dan Haura masih saja santer terdengar meski kurang lebih dua bulan berlalu, banyak siswi yang mendekati Andra secara diam-diam bahkan terang-terangan, entah itu sebuah memberi perhatian, kejutan dan hadiah hadiah kecil. Begitu pun dengan Haura yang bukan hanya satu dua siswa yang mencoba menarik perhatian gadis itu.


Rasa prihatin dan rasa menyayangkan sebuah hubungan yang berakhir ternyata hanya klise semata karna nyatanya kini justru mereka bahagia dan mengambil kesempatan seakan berlomba siapa yang akan jadi pemenang untuk menggantikan Si masa lalu.


Viana sudah muak dengan semua cerita teman temannya seakan ingin tenggelam ke dasar bumi, ia benci saat nama suaminya di sebut dan juga di puji sedemikian rupa, padahal tanpa mereka tahu Andra adalah pria paling brengsek bagi Viana. Rasa benci itu seakan menjalar sampai ke akar hati gadis itu karna terbukti sampai detik ini Viana masih menghindar dari apapun yang menyangkut tentang pria tesebut.


"Vi, lo gak buruan ke ruang ganti?" tanya Lala yang kembali masuk kedalam kelas dan masih ada sahabatnya disana.


"Gak tau nih, pusing banget. Lemes gini badanku kenapa ya?" keluh Viana yang merasakan aneh dengan tubuhnya sendiri.


Lala yang sudah berganti baju dengan seragam olahraga raga langsung duduk di samping Viana yang akhir akhir ini terasa lain, awalnya itu hanya pikiran Lala saja tapi ternyata Viana sendiri pun menyadarinya.


"Lo sakit? agak lain sih," ujar Lala.


"Enggak, kaya kurang istirahat soalnya cepet capek," sahut Viana sambil mengusap perutnya yang kadang keram dan sakit di bagian bawah.


"Ya udah, lo gak usah ikut olah raga deh."


"Mana bisa, aku udah keseringan izin, La."


"Hem, iya ya. Mungkin efek kecelakaan dulu jadi badan lo masih sering sakit-sakitan," tambah Lala lagi yang hanya di jawab anggukan kepala.


Ia yang kembali keluar meninggalkan Viana di dalam kelas dengan beberapa teman teman wanitanya yang masih cekikikan di belakang, mereka semua adalah fans garis keras Andra yang setiap waktu selalu membicarakan suami sirinya tersebut.


Viana yang membuka tasnya mulai panik saat melihat isinya tak ada celana olah raga yang ia butuhkan sekarang untuk pelajaran pak Riki, yang Viana temukan hanya bajunya saja padahal ia sudah sangat yakin jika ia membawa dan sudah memasukkannya kedalam tas.


Dengan perasaan kesal, mau tak mau ia ke ruang ganti dengan hanya membawa bajunya saja, sudah bisa di bayangankan jika ia pasti mendapatkan hukuman dari guru yang terkenal rewel tersebut. Viana masuk ke dalam salah satu bilik yang kosong, hanya ada tiga siswi disana yang tak begitu akrab dengannya, mereka hanya saling melempar senyum dan menyapa sekedar basa basi semata.


Hanya lima menit, Viana kaluar dengan hanya memakai kaos olah raga dan tetap memakai rok seragam sekolahnya, tentu itu menjadi pusat perhatian siswa siswi mulai dari ruang ganti sampai lapangan tak terkecuali pak Riki, Lala dan Lili, sahabat Viana.


"Kamu apa-apaan, Viana?" tanya guru olah raga tersebut.


"Kamu ini alasan saja, gimana caranya olah raga pakai rok pendek gitu, kamu gak malu sama siswa siswa di lapangan?" omel Pak Riki yang membuat Viana tak berani mendongak kan wajahnya.


"Maaf, Pak."


"Kamu saya hukum, tak perlu ikut olah raga saya karena pakaian kamu itu."


"Loh, Pak, tapi--," protes Viana yang tak mau terus terusan tak mendapat nilai.


"Kamu lari keliling lapangan 5 kali, cepat!" titah Pak Riki yang membuat kedua bola mata gadis cantik yang terlihat pucat itu terbelalak besar.


"Pak, saya ikut aja, saya gak mau lari lapangan. Saya lagi lemes dan pusing," tolak Viana, untuk alasan dua hal tersebut tentu ia tak bohong sama sekali.


Seperti yang sudah ia katakan kepada Lala, jika Viana memang benar benar tak enak badan bahkan baru mendengar hukumannya saja perutnya sudah keram.


"Cepat! tunggu apa lagi?"


"Pak, saya mohon, Pak." Viana sampai menangkup kan kedua tangannya agar bisa tetap mengikuti pelajaran olah raga saja tanpa hukuman lari lapangan.


Tapi, bukan pak Riki namanya jika mudah bernegosiasi. Ia tetap pada pendiriannya menghukum menantu Bramasta itu untuk lari lapangan.


Mau tak mau dan suka tak suka Viana pun menurut, padahal rasanya ia tetap tak sanggup untuk lari dalam keadan pusing, mual dan nyeri bagian perut bawah.


Baru saja dua putaran dan itu pun hanya lari pelan tiba-tiba ia yang sudah sangat lemas di teriaki oleh entah itu siapa sebab setelah mendengarnya pandangan Viana langsung kabur dan berakhir dengan tak sadarkan diri.


.


.


.


Tolong... Viana berdarah....