Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 51



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Enggak, saya cuma mau Sate ayam saya biar dia nih yang kipasin," pintar Viana sambil melirik kearah Andra yang duduk di dekatnya saat ini.


"Aku? yang kipasin satenya, Vi?" tanya Andra bingung dan memastikan apa yang di perintah Si ibu hamil.


"Iya, biar sekalian otak kamu adem," balas Viana.


Itulah jeleknya sifat wanita itu, ia yang bertanya ia juga yang kesal. Di jawab jujur salah di bohongi apalagi. Andra memang cukup manis tapi ia tak ada baik baiknya di mata Viana sejak dulu apalagi untuk sekarang yang jelas sudah membuat hidupnya kacau.


"Aku gak bisa, Vi."


"Jangan bohong! bikin anak aja bisa," sindir Viana jelas dan padat jadi tak salah jika bukan Andra saja yang kaget tapi juga pelayan yang jelas masih berdiri di dekat mereka sekarang.


"Laen dong, jelas beda banget," sahut Andra dengan wajah sedikit menahan malu.


Bukan Viana namanya jika ia mau mengalah dan menarik ucapannya jadi kini Andra mau tak mau dan suka tak suka harus membuat sendiri sate pesanan ibu dari anaknya itu.


Andra bangun dari duduknya, ia ikut dengan Si pelayan ke area masak untuk mengipasi puluhan tusuk sate yang berjejer rapih diatas bara api.


Dan rasa kesal di hati Andra harus berlipat ganda saat tahu jika Viana mengikutinya dari belakang.


Jadilah ia tak punya alasan untuk sedikit berbohong sebab Andra hanya suka makanannya tapi tidak dengan asap dari si sate itu saat sedang di bakar.


Anak bungsu yang tampan itu cukup menjadi pusat perhatian karna di kira salah satu pegawai kedai sate tersebut meski rasanya tak mungkin dan masuk akal.


"Maaf ya, istri saya lagi hamil," ucap Andra tak enak hati namun mampu mematahan bibit kagum dari para wanita yang melihatnya.


"Udah punya pawang ternyata."


"Wah, di cicil ternyata."


"Pasti korban kecelakaan atau ONS" .


"Anak orang kaya, ganteng dan manis banget, kenapa jodohnya cepet banget sih?!"


Itulah beberapa kalimat yang di dengar oleh Andra tapi Ia mohon tidak untuk Viana sebab wanita itu bisa uring uringan tak jelas lagi jika ada ucapan atau pertanyaan yang macam macam karena ia tak pantas mendapat semua itu. Ia tak suka ujung-ujungnya di pandang hina dan jijik dari orang yang hanya menyimpulkan tanpa mau bertanya lebih dulu.


Beruntungnya para pelayan disana mengizinkan karna sang pemilik kedai memang tak ada di tempat, biarlah nanti Andra melebihkan uang untuk mereka semua saat pembayaran nanti.


Lebih dari 15 menit akhirnya apa yang sedang di perjuangkan Andra matang dan siap di nikmati, ia dan Viana lalu kembali ke meja mereka lagi yang sempat di tinggalkan.


Satu piring sate berisi 20 tusuk berserta sop buntut sungguh sangat menggugah selera siapapun yang melihatnya, asap yang masih mengepul menandakan jika kedua makanan itu baru saja matang sempurna.


"Nunggu apa? ayo di makan," titah Andra yang mulai was-was takur Viana ingin ganti menu padahal Andra hampir saja muntah karena menghirup asap di depan wajahnya tersebut.


"Enggak ah," tolak Viana sambil menggeleng kan kepalanya.


"Loh kenapa?" tanya Andra semakin gelisah.


"Gak tau, kadang ada maunya aja, " sahut Viana lagi.


.


.


Makan, Vi.. apa mau ku suapi lagi biar cepat habis?