
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Permisi, senang bertemu dengan Anda Tuan Reza Rahardian Wijaya," sapa Papih pada rekan bisnisnya yang terkenal jauh lebih kaya raya bahkan masuk kedalam deretan pengusaha sukses dan konglomerat.
"Tuan, Bramasta? Ya ampun, kita bisa bertemu disini, makan malam juga?" tanya Reza sambil bangun dari duduk begitu pun dengan istrinya, tapi tidak dengan satu bocah yang masih anteng sendiri.
"Iya, Tuan, makan malam bersama dengan besan kami, tapi mohon maaf jika kami menggangu waktu Anda," balas Papih yang sebenarnya tak enak hati tapi suatu kehormatan juga baginya bisa bertemu dengan keluarga Rahardian di luar pertemuan antar para pengusaha.
Dan bisa dibuktikan, jika memang keluarga pria yang baru melepas jabatan tangannya itu sangat ramah dan tidak sombong sama sekali.
"Tak apa, saya dan istri hanya makan malam biasa, pulang jalan jalan dengan cucu kami," ucap Reza sambil melirik kearah istri dan cucu sulungnya.
Melisa, wanita cantik itupun tersenyum menyapa Mamih tapi perhatiannya teralih pada bayi montOKk yang sedari tadi tersenyum juga ke arahnya, ia melemparkan tawa yang membuat kedua matanya kian menyipit.
"Lucu sekali, siapa namanya?" tanya Nyonya besar Rahardian.
"Pangeran, Nyonya," jawab Mamih yang ikut senang menganggapi keramahan Melisa, ini pertama kalinya mereka bertemu sebab dari kabar yang sering beredar jika Tuan Rahardian selalu menyembunyikan wanita halalnya itu dari publik sejak awal dengan alasan tak ingin wanitanya banyak di tatap pria lain, efek dari kebucinan tingkat dewa di atas rata rata dan pastinya tidak masuk di akal.
"Lucu, pipinya bulat kemerahan," kata Melisa sambil mengusap wajah Pangeran, jika saja kurang tahan rasa gemasnya mungkin bayi besar itu akan ia gigit tangannya yang seperti roti sobek.
"Mirip kamu ya, Ra. Khumairahku," timpal Reza yang menatap penuh cinta pada pasangan halalnya. Dan benar saja, wanita itupun langsung kemerahan seperti nama panggilannya selama ini.
"Mas Reza, Ih." Melisa yang malu langsung di buat salah tingkah, karna bagaimana pun mereka tak lagi muda sebab sudah punya beberapa cucu meski nyatanya hanya satu yang dibawa yaitu samudera ErRainerly Rahardian Wijaya.
Untuk mengalihkan rasa salah tingkahnya, melisa menoleh kearah Samudera, dan mulai menggoda anak itu yang sering merajuk ingin punya adik pada PapAy dan MiMoynya, tapi sayang sampai detik ini Sang ibu yang menyadang status Dokter bedah tak kunjung juga hamil menggantikan bayi yang pernah pergi sebelum di lahirkan.
"De', gak mau pegang dede bayi?" goda Melisa pada cucu kesayangannya yang asik dengan apa yang sedang ia makan.
"Ntal minta tobeli dede gak?" tanya Samudera Sang putra mahkota Rahardian Wijaya.
Semua yang mendengarpun tertawa bersama, basa basi terus berlangsung hingga akhir nya papih dan mamih pamit sebab tak enak juga pada besan mereka yang menunggu.
"Tentu, silahkan."
Mereka yang sudah berpisah, namun nyatanya tak menyurutkan Pandangan Melisa pada Bayi dalam gendong Mamih. Ada rasa lain dalam hati wanita berhati malaikat itu seolah ada sesuatu yang ia sendiri tak tahu apa tapi yang jelas serasa sudah dekat dan akan dekat dengan Pangeran.
"Kenapa, Ra?" tanya Reza.
"Hem, enggak. Lucu bayinya," jawab Melisa sambil tersenyum dan senyum itu selalu membuat pria didepannya semakin jatuh akan cintanya.
"Mau juga punya bayi?" godanya lagi tanpa henti.
"Apaan sih! inget umur, Mas!"
.
.
.
Tapi aku ingetnya belalai gajah yang maen di hutan belantara...
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Eh... eh.. eh..
Ada Jajah 😂😂😂
Hayo, siap jodoh Pangeran?
apa ada kaitannya dengan keluarga Rahardian?