Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 21



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Berani menyentuh istri ku lagi, akan ku patahkan tanganmu!" ancam Andra dengan sorot mata tajam tak main main.


Daffa yang tahu bagaimana watak adiknya hanya tersenyum lalu menegak minumannya yang sudah ia keluarkan dari lemari pendingin.


"Aku hanya membantu, mungkin saja kamu tak perduli dengannya," sindir Daffa.


Jika saja terlihat, mungkin pria dewasa itu akan kaget dengan tanduk yang keluar dari kepala Andra, emosinya mulai terpancing dan siap untuk di luapkan.


"Jangan urus urusanku, apalagi istri dan rumah tangga ku, paham!"


Daffa mengangguk, ia yang tak ingin berdebat karna takut Mami tahu pun akhirnya kembali mengalah. Ia pergi lebih dulu meninggalkan Andra yang masih menyiapkan makanan yang di tebaknya untuk sang adik ipar.


.


.


Selesai menata semua makanan di atas nampan, kini Andra kembali ke dalam kamar, ia naiki satu. persatu anak tangga karna di rumah mewah itu tak ada lift. ( Yang ada Lift cuma di rumah utama keturunan Gajah 😅) meski sulit akhirnya pintu bisa di bukannya walau harus menyeimbangkan tangan satunya dengan nampan.


"Vi, makan dulu ya," ujar Andra yang sedang berjalan semakin dekat ke arah ranjang.


Viana hanya mengangguk karna ia sedang melakukan panggilan telepon yang jika di dengar itu pasti Bunda. Mungkin, Viana sedang menceritakan apa yang terjadi padanya saat ini. Ia memang terlihat mandiri dan ketus tapi jika di perhatikan kesehariannya ia tetep anak perempuan tunggal yang manja.


"Bunda udah di kasih tahu?" tanya Andra.


"Hem, udah."


"Gak minta lo pulang kan?" selidik Andra yang entah kenapa tak ingin terjadi.


"Ngapain pulang? ini jatah lo di rumah gue."


"Aku gak bisa kaya gini di rumah kamu, Ndra. Aku bingung kalau mau apa-apa dan ngapa ngapain," jelas Viana memohon pengertian.


"Emang lo mau apa? tinggal ngomong doang ke gue, gak usah banyak alesan, Ok." tegas Andra seolah tak ingin ada bantahan dari istrinya.


"Aku butuh mandi, aku butuh salin dan lainnya, Ndra."


"Tar gue bantuin."


Uhuk.. uhuk.. uhuk..


Viana tersedak karna kaget mendengar penawaran dari Andra, pemuda itu pasti sadar semerah apa wajah Viana tadi saat di gendong dari kamar mandi hingga ranjang dan berlanjut membantu memakai kan baju. Viana merasa dirinya kini aneh karna tubuhnya yang selama 18 tahun di jaga sudah si sentuh oleh Andra, meski halal tapi rasanya tetap tak ikhlas mengingat ada gadis lain di antara mereka berdua.


"Pelan-pelan, lagian kenapa? gue itu kan bukan siapa-siapa buat lo," ujar Andra sembari menyodorkan air putih pada Viana.


"Status mu memang suami, tapi tetap saja kamu itu asing buatku. Ada sesuatu yang akan membuat kita terus berjarak," balas Viana, ia mengatakan itu dengan pelan dan lirih bahkan menolak untuk melanjutkan makannya yang baru berapa suapan.


"Haura, maksudmu?" tanya Andra.


"Menurut mu siapa? selagi kita belum jauh melangkah, belum ada kenangan apapun dan yang terpenting belum melakukan hak dan kewajiban, sebaik mari---,"


.


.


Aku tak akan menceraikanmu meski ribuan kali kamu mengajak ku..