
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Gak usah ke PeDe'an," cetus Viana yang hanya dibalas senyum simpul dari Andra, entah kenapa hatinya senang dan damai bisa memperlakukan Viana dan calon anaknya seperti ini.
"Kan kenyataannya gitu, Vi. Dari tadi gak ketelen kan? tapi pas aku suapin tuh abis semangkok," kekehnya lagi menggoda.
Viana hanya mencibir lalu bangun dari duduknya. Ia yang di bantu Andra berjalan ke kamar mandi.
Sambil menunggu istrinya yang entah sedang apa, Andra membereskan semua sisa makan Viana.
Cek lek
Suara pintu kamar mandi pun sontak membuat Andra yang duduk di tepi ranjang pun menoleh. Ia letakkan ponselnya ke dalam nakas dan kemudian meraih tangan Viana.
"Mau apa?" tanya Viana takut, dan itu jelas terlihat dari raut wajah si ibu hamil.
"Aku gak akan apa-apain kamu, Vi."
Andra tetap menarik tangan Viana kearah ranjang tempat ia duduk barusan, ia duduk kan Viana disana tepat di depannya sekarang.
"Aku sisirin ya, kata Mami kalau lagi hamil suka rontok, meski gak semua sih, moga aja kamu enggak ya, rambutmu bagus, Vi," puji Andra yang sudah ada sebuah sisir di tangannya.
Viana bagai terhipnotis saat tangan Lembut suaminya itu menyentuh surai panjangnya yang basah.
"Jangan pakai hairdryer ya, takut bayinya kenapa kenapa," ucap Andra lagi yang tetap tak mendapat jawaban dari wanita halalnya.
Entah seperti apa ekspresi Viana saat ini, karna memang posisinya membelakangi Andra, tapi yang Andra rasakan Viana cukup tenang tak lagi memberontak.
"Nanti malam beli susu buat kamu mau gak? sekalian beli jajanan. Takutnya kamu lapar, Vi. Kemarin cuma dikasih obat sama Vitamin aja kan dari dokter, aku lupa belum beliin susunya."
Viana masih diam, ia yang hamil saja tak kepikiran sampai sana tapi Andra yang seorang laki-laki bisa ingat hal tersebut, meski mungkin itu juga pesan dari Mami tapi sebagai suami dan calon Ayah ternyata ia tak mengepelekan hal tersebut.
"Terserah," jawab Viana.
Beberapa saat keduanya saling diam, sampai akhirnya Andra pindah ke depan istrinya, ia raih kembali tangan Viana yang ada di pangkuan.
"Bisa kita mulai dari awal, Vi?"
Viana menatap kedua mata Andra dengan serius sambil mencoba menelisik yang ada disana, dan sialanya Viana menemukannya ketulana tapi bukan cinta untuknya.
"Mulai yang seperti apa?"
"Jalani semua sesuai janji pernikahan kita, cukup aku, kamu dan anak kita," jawab Andra.
Viana pun tertawa kecil, ia menarik tangannya lagi lalu duduk menjauh dari Andra. Ia tak suka posisi seperti ini, semakin dekat dengan pria itu Viana justru semakin ingat rasa sakit miliknya yang di hantam habis habisan sampai terasa sesak.
"Aku tak yakin, selesaikan saja hatimu dulu baru datang padaku," balas Viana yang kini tangannya sudah melipat di dada.
"Aku sudah selesai dengan Haura, Vi. Apalagi?" tanya Andra sembari meyakinkan Sang istri jika kini fokusnya hanya pada satu tujuan yaitu Viana dan anaknya saja.
"Aku bilang hatimu, bukan status pacaranmu, kalian hanya berpisah raga, tapi cinta kalian masih kuat 'kan?" sindir Viana pada pria berstatus kan suami tersebut.
Andra menarik napas lalu dibuangnya perlahan, yang di katakan Viana memang benar dan ia kini tak ingin salah berucap apapun lagi.
"Kalian masih satu kelas, aku tahu itu tak mudah untukmu, jangan di paksa hanya demi aku, karna aku tahu ---,"
.
.
.
Kamu pasti hanya bisa menahan untuk tidak menyapanya tapi tidak untuk memikirkannya...