Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 93



Dua bab ini awalnya sama, karna ke post ulang padahal udah di hapus. Kemarin dari jam 11 siang itu gak lolos2 udah revisi ulang, sampe hapus bab eh malah nongol lagi dia 😂😂..


Yang liat posting teteh kemaren pasti ngerti tentang beberapa Bab yang masih RIVIEW..


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Apa yang di rasakan ibu hamil tentu sama saja mau tua maupun muda, itu juga lah yang dirasakan Viana sekarang di akhir akhir masa kehamilannya di trimester ketiga.


Sulit tidur saat malam dan seringnya buang air kecil adalah keluhan yang pastinya sangat bosan ia adukan pada Andra, dan tak jarang pria itu menemaninya begadang padahal di sekolah ia sedang sibuk-sibuknya melakukan melakukan banyak aktivitas mulai dari ulangan hingga ujian praktek. Tapi, Andra tetap sabar mengusap atau memiijit semua bagian yang terasa nyeri dan tak nyaman di tubuh istrinya.


Andra tak bisa marah atau kesal karena jika melihat perjuangan Viana selama 9 bulan mengandung anaknya sungguh sangat luar biasa dimana kadang wanita itu sudah tak bisa lagi menangis saat merasakan berat, ngilu dan sakitnya. Sehebat apapun Andra nyatanya tak bisa ikut merasakannya, meminta nikmat itu sedikit saja pun ia tak mampu, jadi tak salah jika wanita memang layak di Ratukan karna apa yang di lewati nya sungguh tak main-main.


"Sudah, Ndra. Aku pegel," ucap Viana yang meminta Andra menghentikan pijitan nya di bagian pinggang yang terasa sangat panas luar biasa.


"Kamu mau kemana?" tanya Andra saat melihat Viana turun dari ranjang.


"Enggak, cuma jalan jalan sebentar aja kok," jawab Viana.


Kini mereka berada di rumah Ayah dan Bunda, Viana tetap ingin di sana karna meski kadang sesekali pulang ke kediaman Bramasta.


Pernikahan mendadak, tanpa kenal dan masih muda membuat Viana canggung dengan kata MERTUA, ia memang sudah menerima dan paham bagaimana posisi dan cara menghargai. Tapi, untuk dekat layaknya pada orangtua sendiri Viana masih sulit, ada saja rasa tak enak hati dan takut jika sudah bertemu dengan kakak kandungnya Mikha.


Dan jika sudah begini, Andra hanya bisa mengawasi Viana yang bolak balik bak setrikaan dalam kamar.


Ia tak bisa lanjut tidur meski matanya sudah sangat ingin terpejam.


"Mules gak, Mom?"


"Enggak, cuma panas pinggang aja."


Menurut HPL, Viana akan melahirkan kurang lebih 10 hari kedepan. Tapi entahlah karna itu tentu hanya perkiraan manusia sebab yang tahu pasti adalah Tuhan sang pemilik kehidupan dimana ia yang mengurus tentang kelahiran, kematian, jodoh dan rejeki setia hamba-Nya.


"Nanti siang ke rumah sakit ya," tawar Andra yang khawatir.


"Lusa aja, kan emang waktunya cek lagi," jawab Viana yang enggan bolak-balik karna akan membuat tubuhnya semakin lelah.


Viana yang memilih melahirkan normal memang hanya bisa menunggu, padahal team dokter rumah sakit sudah menawarkan untuk operasi Caesar di minggu-minggu ini mengingat Viana masih sangat muda dan beresiko pendarahan. Tapi, keras Kepalanya membuat semua orang bungkam terkait suaminya sendiri.


"Kalau udah ngerasa gak enak ya gak apa apa kesana aja, gak usah nunggu lusa," ujar Andra yang dijawab gelengan kepala oleh istrinya sedangkan Andra hanya bisa membuang napas kasar, Viana tak pernah tahu bagaimana ia khawatir selama ini


.


.


.


Usai pulang dari sekolah, Andra membawa kedua pesanan Viana yaitu Si kembar. Mereka kini lebih sering berkumpul hanya demi menemani Si calon ibu agar tak stres dirumah yang sama-sama sedang melakukan banyak ujian meski waktunya tak sama dengan di sekolah, yang artinya pihak guru menunggu kesiapan dari Viana.


"Viaaaaaaa, kita dateng bawa manisan buah," teriak Lala dengan senangnya.


"Iih, mauuuuu," jawab Viana tak kalah senang juga, sedang Andra yang berdiri di ambang pintu hanya bisa tersenyum kecil.


Andra tak pernah mengganggu sama sekali jika istrinya sedang berkumpul seperti ini. Ia biarkan apa yang ada dalam diri wanita itu lepas dan bebas sesuka hatinya asal senang dan tak berlebihan.


"Kok gak pedes sih?" tanya Viana yang mencicipi apa yang di bawa sahabatnya.


"Gak boleh sama laki lo," jawab Lala.


Apa yang akan di bawa untuk Viana tentu harus mendapatkan izin lebih dulu dari Andra, ia hanya tak ingin banyak makanan sembarangan masuk kedalam perutnya istrinya kar'na akan di nikmat juga oleh anaknya nanti.


"Andra galak banget, Sumpah!" cetus Lili yang tak menyangka jika sosok calon ayah yang tampan itu akan berubah menjadi monster jika sudah berhubungan dengan istrinya.


"Masa sih?" tanya Viana pura pura tak percaya padahal ia tahu itu dengan sangat jelas.


"Hem, sampe ngancem-ngancem barusan, mana ngomel mulu gak boleh ini dan itu," timpal Lala yang membuat Viana tertawa kecil.


"Aneh ya, jadi bucin banget sama Via," ledek Si kembar yang tahu betul bagaimana hubungan Andra yang sebelumnya.


"Iyalah, kan udah gak maen sabun lagi," goda Lala yang langsung membuat kedua pipi Viana merah merona menahan malu luar biasa. Meski beberapa kali kembali berkumpul tapi ini adalah pertama kalinya mereka membahas hal yang sedikit mesum.


"Enak ya, Vi. Ah, iri gue."


"Enak lah, kan halal, nikah sana," jawab Viana sambil mencibir. Ia bisa berpuas hati dan bangga. karna bisa melakukannya bersama sang suami.


"Sama siapa? lagian kalo seandainya di jodohin macem kaya Andra pasti gak nolak juga kan?" ucap Lili.


Viana hanya tersenyum, mereka bisa berkata seperti itu karna ia tak pernah menceritakan aib suaminya, bagaimana Andra masih sering menyebut nama sang mantan dalam tidur, bagaimana brutalnya malam pertama mereka dan bagaimana perjuangan Viana ingin menjadi satu-satunya dalam hati pria tersebut.


Jika saja sahabatnya itu tahu, Andra tak akan di puja sebagai sosok suami idaman karna yang sebenarnya yang pernah terjadi semua itu jauh dari kata indah.


Biarlah masa-masa itu berlalu dan menjadi sebuah pengingat dimana nanti ada hari keduanya mulai bosan dalam hubungan pernikahan mereka karna rasa itu pasti akan datang meski dalam hati masing-masing sudah mulai menguatkan jika tak akan ada celah untuk orang ketiga.


"Siapapun jodoh kalian itu adalah takdir karna Tuhan gak mungkin kasih kalian pasangan jika bukan yang terbaik."


Ketiganya berpelukan dan kembali bercanda serta mengobrol banyak hal. Semua mereka lakukan hanya demi melepas penat. Tak jarang Lala dan Lili juga membahas hubungan mereka dengan pacar masing-masing yang tak kalah seru dengan drama rumah tangga Andra dan Viana.


.


.


.


"Syukur ya, mereka bisa jadi teman baikmu, Nak. Setidaknya kamu tak merasa sepi," ujar Bunda saat Viana menghampirinya di ruang tengah.


"Iya, Bun. Aku juga awalnya ragu makanya gak cerita apapun sama mereka selama ini.


" Gak apa-apa, rejeki itu bisa apa aja, termasuk teman yang baik. Kalian sudah saling percaya, mendukung dan memahami satu sama lain, jadi jangan saling mengecewakan," pesan Bunda dengan segala Nasihat-nasihatnya.


"Termasuk Bunda ya, Bunda rejeki paling istimewa bagi Via, Bunda jangan tinggalin Via ya," mohon Viana yang kedua matanya sudah berkaca-kaca memahan sedih dan haru.


Entah bagaimana hidupnya kelak jika Bunda tak hadir di waktu yang tepat seperti ini, sebab ia bagai malaikat tak bersayap dengan segala kebaikkannya dibanding dengan ibu yang tak tahu dimana rimbanya. Rasa rindu itu seringkali Viana curahkan lewat air mata dalam pelukan suaminya. sejahat apapun wanita itu yang sudah jelas berselingkuh, ibu tetap ibunya yang mengandung dan melahirkan dan kini Viana semakin ingin menghormati wanita itu yang pernah merasakan apa yang Viana rasakan selama 9 bulan lamanya, rasanya itu tak mudah dan nikmat luat biasanya. Wajaralah jika imbalannya adalah surga di hari akhir nanti.


"Bunda gak akan kemana mana, masih dsini dengan kalian," jawab wanita berhijab biru muda tersebut.


"Terima kasih sudah mau menyembuhkan luka ayah dan mengobati trauma anakmu ini, Bun. Via akan selalu berdoa untuk kebahagiaan Bunda," ujar Viana yang rasanya itu semua tak cukup untuk membalasnya.


"Bunda sudah bahagia, termasuk ada ini nantinya," Jwab Bunda sambil mengelus perut putrinya yang besar dan bulat bulat.


.


.


.


Satu minggu berlalu, HPL pun semakin dekat waktunya dan Andra semakin dibuat pusing dengan jadwal ujiannya dalam waktu beberapa hari ini, mereka pun sempat berdebat dan hampir bertengkar saat Andra meminta Viana untuk melakukan operasi Caesar beberapa hari lalu. Maksud hati, Andra hanya ingin tenang tak seperti sekarang yang entah pagi, siang sore maupun malam bayi itu akan lahir dan Andra sangat takut jika tak bisa menemani walau orang tuanya sudah meminta Izin agar putra mereka bisa pulang kapanpun itu saat dalam keadaan Urgent.


"Perasaanku kenapa gak enak gini sih?!" gumam Andra pelan setelah memakai seragam sekolahnya.


Ia yang sudah rapih pun langsung menghampiri istrinya yang sedang minum susu, rutinitas pagi yang tak pernah terlewatkan.


"Nanti kalau ada apa-apa jangan di rasain sendiri ya, langsung bilang Bunda," pesan Andra yang sangat khawatir dan tak tega meninggalkan Viana.


Jika di lihat lihat perut Viana yang sudah sangat di bawah seolah menandakan jika anak mereka sudah tak sabar untuk lahir, tapi itu masih rahasia Tuhan yang entah kapan waktu yang tepat mempertemukan mereka.


"Iya, aku gak rasain apa-apa kok" jawab Viana seolah memohon pada suaminya agar tak terus mengkhawatirkannya.


Andra hanya mengangguk lalu menangkup wajahnya bulat namun tetap canti istrinya tersebut untuk di ciumi dengan penuh sayang dan gemas.


"Ya udah, kita sarapan ya," ajak Andra sambil mengusap perut bak buah semangka tersebut


"Yuk, aku juga laper banget," jawab Viana, ia yang di bantu bangun oleh suaminya tiba-tiba memekik kesakitan bersama keluarnya cairan dari bagian inti tubuhnya.


Paniknya Andra tentu membuat suasana kamar menjadi gaduh karna meski sudah di bekali ilmu suami siaga ia tetap saja takut dan heboh sendiri.


"Aku panggil Bunda, kamu diem di sini ya," ujar Andra yang lalu langsung keluar dari dalam kamar istrinya.


Di lantai bawah yang kebetulan ada Ayah menjadi sama paniknya di hari sepagi ini yang seharusnya mereka menikmati sarapan sebelum melakukan aktivas.


Kini, dua pria itu sudah memapah Viana untuk masuk kedalam mobil, mereka akan langsung menuju rumah sakit yang sudah di siapkan untuk menyambut keturunan Bramasta tersebut.


"Sakit banget, aku gak kuat," ucap lirih Viana saat di perjalanan.


"Kuat ya, Sayang. Aku mohon." Andra terus menciumi wajah Viana yang kini keduanya sudah berurai air mata.


Semua rasa mereka rasakan termasuk rasa takut kehilangan, Viana tak menyangka akan sesakit ini dan Andra tak siap melihat perjuangan sangat istrinya yang cukup mendadak karna sebelumnya tak ada tanda apapun yang diberikan Viana kecuali perasaan Andra yang memang tak enak saat bangun tidur.


Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu akhirnya sampai di rumah sakit, sudah ada beberapa suster yang menunggu di lobby karna akan Langsung dibawa ke ruang pemeriksaan setelah mendapat kabar Viana akan melahirkan.


Semua team dokter sudah bersiap di ruang persalinan karna Viana sudah masuk ke pembukaan lima, dan ini tergolong cepat mengingat tak adanya tanda-tanda seperti ingin melahirkan seperti pada umumnya yaitu mulas dan keluar flek lebih dulu.


"Sabar ya, Via. Semua akan baik baik saja," bisik Bunda yang tak kalah takut karna ini juga pengalaman pertamanya, apalagi ia juga tak pernah tahu rasa nikmatnya melahirkan.


"Sakit banget, Bun. Sakit!"


Tangan Viana yang sudah dingin dan lemas terus di ciumi Andra yang menangis sesegukan. Ia ingin rasa yang katanya sakit itu di berikan saja padanya sebab ini salahnya yang sudah membuat Viana hamil di usia muda dengan segala resiko yang harus ia Terima seorang diri.


Andra yang terus merutuk dirinya sendiri sambil di tenangkan. Jika semua terjadi karna suka sama suka mungkin rasanya takkan sesakit ini bagi Andra.


Beberapa jam berlalu akhirnya dokter mengatakan jika pembukaan Viana sudah sempurna dan kini saatnya ia sudah bisa melahirkan secara normal sesuai yang di inginkannya selama ini meski suami, keluarga dan pihak dokter menyarankan cara lain yang resikonya jauh lebih kecil meski semua tetap kuasa Sang Pemilik Hidup.


Viana yang sudah lemas terus di kuatkan oleh Andra dan Bunda, tangisnya hanya air mata tanpa jeritan yang selama ini mungkin terjadi pada orang yang sedang menahan sakit melahirkan. Itulah yang membuat Andra semakin sedih dan tak bisa berbuat banyak selain berdoa agar istrinya bisa selamat.


"Aku disini, Vi. Aku di sini, Sayang," bisik Andra yang hanya dijawab anggukan kepala.


Tak ada drama marah-marah atau pukul dan cubit seperti yang selama ini Viana lakukan, hanya ada lelehan air mata dengan tatapan kosong kearah langit langit seolah ada yang sedang ia pikirkan.


"Siap ya, Nona."


Genggaman tangan yang lemas terasa dingin bagi Andra, Viana yang tak bertenaga banyak berkali-kali gagal mengejan dan itu membuat team dokter dan perawat cukup kewalahan menanganinya, hingga terus di coba dan akhirnya suara tangis bayi laki-laki menggema ke seisi ruangan bersalin.


.


.


.


Aku mencintaimu, selamat jadi Ibu yang hebat ya Mommy untuk Pangeran RaViansyah Bramasta.