
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Viana yang menunggu di sofa ruang tamu lantai bawah akhirnya tersenyum saat melihat Andra turun dari tangga, pria itu langsung menghampiri dan duduk di sebelah Viana.
"Kirain kemana, gak ada di kamar," kata Andra yang wajahnya begitu segar karna habis mandi.
"Mami sakit?" tanya Viana langsung tanpa basa basi.
"Kata siapa?" Andra balik bertanya dengan ekspresi kaget sebab selama ini ia sedang menyembunyikan hal tersebut dari isterinya.
"Gak penting dari siapa, jawabnya iya atau tidak Ndra?!"
Andra mengangguk pelan, yang di tanyakan Viana memang benar. Wanita hebatnya itu kini memang sedang sakit dan sudah di rawat selama dua hari tepatnya kemarin dan hari ini, sampai sekarang Andra maupun keluarganya yang lain belum tahu kapan Nyonya Besar Bramasta itu di izinkan pulang kembali.
"Aku mau jenguk Mami, boleh?"
"Tentu, sekarang?" tanya Andra yang sudah tersenyum lebar.
Kini gantian Viana lah yang mengangguk, keduanya langsung bangun dan kembali lebih dulu ke kamar untuk mengambil kunci mobil, ponsel dan tentunya dompet.
.
.
.
Suami mana pun akan senang ketika membawa istrinya menjenguk orangtua yang sedang sakit, begitu pun dengan Andra meski sepanjang jalan ia terus mendengar ocehan Viana yang menyalahkannya.
"Mami cuma gak mau kamu khawatir, Vi."
"Tapi tetep aja, kamu jahat sama aku. Gimana nanti sama Mbakmu itu?"
Viana yang masih saja kesal pada kakak iparnya akan semakin di Pandang buruk oleh Mbak Mikha nanti jika sampai tahu ia tak menjenguk mertuanya itu sebab Viana tak yakin jika wanita itu akan paham dengan kekhawatiran Andra dan Mami.
Anak sulung keluarga Bramasta itu memang lain, ia sangat ketus dan banyak mengatur jadi tak salah jika Papi langsung memberikannya rumah agar mandiri dan jauh dari yang lain demi menjaga kewarasan orang lain di rumahnya.
"Tetep aja, bisa makin benci sama aku kalau tahu aku gak jenguk Mami," sindir Viana, istri mana pun pasti akan berburuk sangka jika kakak suaminya seperti Mikha.
Andra hanya tersenyum kecil, bingung baginya jika karna mereka berdua adalah istri dan saudaranya sendiri. Mobil yang melaju dengan kecepatan sedang pun akhirnya sampai, tak ada yang mereka bawa membuat Viana hanya turun dari mobil namun belum juga melangkah padahal Andra sudah menarik tangannya.
"Malu loh gak bawa apa-apa, seenggaknya jeruk sekilo gity," kata Viana saat mereka masih di parkiran.
"Mami gak boleh makan sembarangan, Vi," jawab Andra yang memang ia lah yang melarang istrinya membawa apapun.
"Yang penting bawa." kekeuh Viana, seumur umur baru kali ini ia datang menjenguk hanya membawa ponsel di tangan apalagi ini kepada ibu mertuanya sendiri, sumpah Demi apapun Viana tak mau di cap sebagai menantu tak tahu diri meski nyatanya anaknya sendiri yang menyepelekan hal tersebut.
Andra akhirnya meraih kedua tangan istrinya, ia tatap wajah cantik alami Viana yang merengut kesal, sudah biasa baginya mendengar ocehan wanita itu tapi Andra justru menganggapnya adalah sesuatu yang berbeda yang tak pernah ia rasakan selama ini termasuk dari kisah masa lalunya.
"Mami gak perlu apapun, kamu sudah datang aja beliau sudah bahagia, doakan saja Mami cepet sembuh," ujar Andra memberi pengertian.
"Tapi aku mau bawa buah."
"Via, buah apa sih?" tanya Andra, firasatnya mendadak berpikir jika ini bukan sekedar masalah buah tangan untuk Mami.
"Buah-buahan, tadi kan ada tuh kios buah sebelum lampu merah yang sebelahan sama tukang batagor," jawab Viana.
"Jadi kamu mau beli buah apa batagor?" Andra kembali bertanya.
.
.
.
Kamu beli buah, aku beli batagor...