
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Loh, Viana mau kemana?"
Andra yang kaget melihat istrinya belok buru-buru mempercepat langkahnya, ia tetap tak ingin Viana tahu jika di perhatikan sejak tadi.
Semakin lama wanita yang sedang hamil itu semakin jauh masuk kedalam gang yang cukup lumayan ramai orang lewat, entah yang berjalan kaki maupun motor karna untuk mobil rasanya tak akan muat.
"Gado-gado," gumam pelan Andra saat Viana berhenti di teras sebuah rumah dengan ada meja di depannya.
Andra yang memilih bersembunyi di balik pohon jambu tak berniat menghampiri karna menurutnya ini masih aman tapi yang tak aman adalah waktunya, hanya tinggal 10 menit lagi bel sekolah berbunyi sedangkan Viana malah duduk kursi plastik sambil memainkan ponselnya.
"Masa iya dia mau sarapan lagi? tadi gue suapin nasi goreng sama telor juga kerupuk larinya kemana?" kata Andra sambil mengusap tengkuknya sendiri, mau aneh tapi Viana adalah ibu hamil yang kata Mami memang gampang sekali lapar.
Andra yang masih di posisinya tetap memperhatikan dari jauh meski kadang ia heboh sendiri saat di gigit semut atau nyamuk. Ia tak mungkin meninggalkan Viana sendiri walau harus kembali izin tak masuk sekolah, entah alasan apa lagi yang akan di berikan Andra mengingat mobilnya jelas ada di parkiran sekolah.
.
.
"Ini, Neng, gado-gadonya," ucap seorang wanita dengan jilbab coklat dan celemek hitam yang menutupi tubuh gemuk Si penjual gado gado itu.
"Iya, Bu. Terimakasih."
Viana mendekatkan piring yang baru saja di letakkan di atas meja, dengan kedua mata berbinar ia seolah sedang mendapatkan harta karun tak terhingga.
"Minumnya mau teh atau air putih, Neng?"
"Ada, mau yang tawar atau manis?"
"Tawar aja, Bu," jawab Viana, sambil menunggu minumannya datang, ia melanjutkan lagi makannya yang nampak sangat enak, karna pedas dan manisnya sungguh terasa dan menggugah seleranya.
Viana ingat tempat ini secara mendadak, saat perutnya tiba-tiba berbunyi ketika sedang berjalan menuju sekolahnya, bukannya lurus ia malah belok dan masuk kedalam gang, kalau tak salah ingat, ia pernah kemari saat ikut melayat ke salah satu teman Si kembar. Viana yang takut memilih mampir ke warung yang beruntungnya masih ada sampai sekarang.
Semua memory itu kembali berputar dalam ingatannnya, dulu yang ia pikirkan hanya tugas sekolah, main dan jajan. Tapi sekarang, ia malah harus memikirkan nyawa lain dalam perutnya yang tak pernah ia mau. Ujian sudah di depan mata, List beberapa universitas pun sudah tersusun rapih dalam otaknya beserta indahnya hari perpisahan dan jalan jalan kelulusan ke luar kota nanti, jika di hitung dengan usia kandungannya, itu sudah masuk trimester dua yang otomatis perutnya pun sudah sedikit membesar.
Viana buru-buru menegak minumannya, ia benci jika harus memikirkan hal tersebut, karena seperti ada awan hitam yang langsung menutup semua impiannya.
"Bu, sudah," kata Viana sambil bangun dari duduknya serta mengeluarkan selembar uang untuk membayar gado-gado dan air teh hangat. Jangan tanya berapa uang jajannya sekarang karna kini tak hanya Ayah yang memberi, sebab suami dan mertuanya pun tak tanggung tanggung jika sudah mentransfer untuk jajannya.
Viana berjalan menuju jalan besar, ia akan tetap ke sekolah dan masuk di pelajaran di jam setelah istirahat nanti, ia yang masih memblokir nomer Andra tentu merasa aman.
"Mereka bohong, katanya aku mual kalau gak ada Andra, ini buktinya aku gak apa apa jauh dari dia, itu modusnya, pasti!" cetus Viana yang kesal sendiri merasa di permainkan.
.
.
.
Siapa bilang? ini juga karna aku deket sama kamu dari tadi...