Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 130



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Bundaaaaaaaaaa," teriak Viana dan Andra secara bersamaan.


Bunda yang tak paham kenapa anak mantunya terlihat kesal pun hanya mengernyitkan dahi.


"Kenapa?" tanyanya bingung sendiri.


"Jangan berisik ih, kan nangis tuh pengen ikut," kata Viana kesal sambil meraih tubuh montOK Pangeran yang masih menangis.


"Hahahaha, maaf, Bunda gak tahu kalau kalian akan kabur pas liburan nanti," balas wanita berhijab itu sambil tertawa.


Dan, percayalah, setelah ini pasti Si bayi berpipi bulat itu akan semakin posesif pada Mommy dan Daddy nya.


Miiiih, entut.


"Ikut kemana? Mommy kan mau kuliah, Sayang," jawab Viana yang gemas tapi kesal.


Entuuuuuut.


"Pangeran sama Bunda yuk, kita sarapan ya, Ganteng," rayu Bunda yang masih saja tertawa tapi Andra yang ada di pojokan sofa malah terduduk lesu.


Bayangan Viana memakai Lingerie saat nanti di Hotel buyar seketika gara-gara Si Endut ingin ikut, bagaimana pun mereka akan tak tega nantinya. Meninggalkan Sang putra hanya demi sebuah liburan karna untuk kuliah saja Viana kadang mengalah jika Pangeran sangat rewel tak mau di tinggal.


"Ya udah yuk, kita sarapan," ujar Viana masih menggendong Pangeran yang semakin berat.


Entuuuuuut.


"Iya dek, iya. Kan ini sama Mommy turun ke bawah, kita sarapan sama sama," jawabnya lagi sambil menahan hati untuk menggigit pipi Pangeran.


Viana dan Bunda yang sudah keluar dari kamar tentu di susul oleh Andra, langkahnya begitu berat seolah sedang patah hati.


Sedangkan di ruang makan, ada Ayah yang menunggu. Pria paruh baya itu langsung mengambil alih Pangeran dari gendongan putranya.


"Jagoan Ayah kenapa?"


"Memang jadi? Pangeran gak di ajak kan?" tanya Ayah lagi.


Entuuuut..


Gelak tawa pun terjadi antara Ayah dan Bunda. Tapi tidak dengan Andra serta Viana yang hanya bisa menghembuskan napas kasar pertanda sedang menikmati rasa kecewa mereka.


"Biar pangeran disini, nanti Ayah ajak jalan jalan ke kebun binatang, iya kan Bun?" ucapnya sambil menoleh ke arah istri mudanya.


"Hem, iya. Kita nanti liat binatang ya, Pangeran mau liat apa?" tanya Bunda sambil menghapus sisa kebasahan di wajah cucu rasa anak baginya itu.


Iyooong.


"Depan rumah banyak kucing, ngapain jauh jauh ke kebun binatang," kata Ayah sambil tertawa lagi.


Kehadiran Pangeran benar-benar obat lelah dan semangatnya di usia tua sekarang ini. Luka karna perselingkuhan pun sudah terkikis habis terganti oleh gelak tawa saat melihat tingkah lucu Sang Cucu.


Puas merayu dan sarapan, pasangan suami istri muda itupun bergegas untuk pamit ke kampus, hanya ada satu mata kuliah hari ini jadi memungkinkan mereka akan pulang siang menjelang sore nanti.


Drama perpisahan sudah menjadi makanan sehari hari bagi pasangan muda tersebut. Tapi selalu terselesaikan dengan lambaikan tangan dari Pangeran meski sambil menangis sedih sebab tak mau di tinggalkan.


"Huft." Anda membuang napas kasar saat sudah masuk kedalam mobil dan menyalakan mesinnya juga.


"Kenapa?" tanya Viana tanpa menoleh karna ia sedang memakai seatbelt.


"Hem, Orang-orang segede kita biasanya kucing kucingan dari orang tua, eh kita malah kucing kucingan dari anak," jawab Andra santai tapi ia tak sadar jika itu memancing emosi wanita di sebelahnya.


.


.


.


Cie... yang punya pengalaman gak di restuin! capek ya jadi kucing!!!!