Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 106



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Andra tunggu," panggil seseorang yang tak lain adalah adik sepupunya sendiri.


"Apa?"


"Mau langsung pulang?" tanya Farah yang tadi berlari namun kini sudah ada di depan pria tersebut.


"Hem, iya, kenapa sih?" Andra yang buru-buru karna Pangeran belum sembuh benar tentu tak ingin membuang waktu percuma seperti ini.


"Ya udah deh, tadinya mau minta tolong ka kamu," ucap Farah yang langsung terlihat raut sedihnya.


"Apa?"


Farah malah menggelengkan kepalanya, ia paham dengan ketergesaan yang di rasakan Andra karna tahu jika pria itu sudah beranak istri dan ia juga kenal dengan Viana meski hanya sekilas bertegur sapa.


"Ya sudah aku pulang ya," pamit Andra dirasa tak ada yang harus di bicarakan diantara mereka lagi.


Farah melepas kepergiaan pria itu dengan tatapan sendu, ia bingung harus bicara pada siapa lagi jika bukan pada Andra sebab ia merasa kini tengah b


sendiri tak punya tempat berkeluh kesah.


"Aku harus bagaimana?" ucapnya lirih sambil memegang perutnya sendiri.


Farah berlalu meninggalkan kampus, ia pergi ke suatu tempat yang tak ada satupun yang tahu ia melangkah kemana, hatinya sakit dan pikirannya kini sedang kacau tak beraturan.


Pergaulan bebas yang ia lakukan dengan Sang kekasih yang belum satu tahun di pacarinya itu ternyata membuahkan hasil seorang bayi yang kini sedang ia kandung, belum tahu betul berapa usianya yang jelas hasil dari garis dua di alat tes kehamilan pagi tadi sudah membuat dunia seorang Faradisha gelap seakan tak ada masa depan.


Farah yang melajukan mobilnya pun kini mau tak mau memberanikan diri mencari tahu tentang si jabang bayi, ia datang ke salah satu rumah sakit terdekat karna sudah tak sabar dan penasaran, belum ada rencana apapun dalam benak gadis itu kecuali hanya ingin memastikan jika kini ia sedang berbadan dua.


.


.


.


Sampai di bangunan bertingkat yang di tuju, Farah langsung memasuki ruang pemeriksaan setelah ia mendaftarkan dirinya.


Farah yang kini berhadapan langsung dengan dokter kandungan merasakan debaran jantung yang luar biasa hebatnya, ini baru pertama kalinya ia datang dan bertemu dokter seorang diri tanpa dampingan dari orangtua.


"Bisa di periksa sekarang?"


"I--iya, Dok," jawab Farah terbata karna takut, ia berikan lagi salah satu tangannya untuk di periksa tekanan darahnya sambil terus di tanya tanya termasuk kapan terakhir gadis itu menstruasi.


Semua di ceritakan oleh Farah tanpa ada yang terlewat dan itupun harus ia ingat ingat lebih dulu agar lebih meyakinkan wanita berjas putih tersebut.


Ternyata, semua tak sampai disana sebab Farah di minta untuk berbaring di sebuah ranjang dengan alat di sisi kanannya yaitu monitor kotak yang tak terlalu di pahami oleh Farah yang selama ini hanya sakitnya hanya seputaran demam dan batuk biasa.


"Janin sudah terlihat ya, sudah masuk usia 11 minggu dan itu artinya sudah hampir masuk trimester kedua," jelas dokter yang bagaikan petir bagi Farah karna meski ia sudah tahu sedang amil tetap saja hatinya berharap semua adalah kekeliruan Si alat tespek.


"Jika bisa, untuk pemeriksaan selanjutnya harus di dampingi pasangan atu orang tua ya, karna terlalu banyak resiko yang mungkin saja terjadi mengingat usiamua masih cukup muda," ujar Sang dokter yang tak balas apapun oleh Farah.


Farah keluar dari ruangan tersebut dengan langkah gontai, ia yang takut dan tak kuasa menahan sesak dalam hati memilih masuk lebih dulu ke toilet yang tak jauh dari sana, dari dalam bilik kecil itulah Farah meluapkan semua emosinya dan rasa sesal karna sudah bodoh termakan rayuan cinta dari Sang kekasih.


"Aku harus apa?" gumam Farah dengan lelehan air mata di wajah cantiknya.


Otaknya kali ini benar-benar buntu tak bisa berpikir sama sekali. Ia tak berani bicara pada orangtuanya dan takut jika harus jujur pada kekasihnya. Kini ia hanya bisa merutuk dirinya sendiri dan tenggelam dalam rasa sesal.


Dua puluh menit sudah Farah berasa di dalam bilik toilet, ia keluar dengan wajah yang sedikit menundukkan untuk menyembunyikan wajah berantakan nya saat ini.


Triiing..


Pintu Lift terbuka, Farah masuk dengab sikap yang masih sama tapi meski begitu tentu orang terdekatnya tetap bisa mengenalinya dengan jeli.


"Farah, kamu ngapain disini?" tanya Andra dengan menarik tangan gadis itu untuk memastikan, Andra berani melakukannya karna mereka masih kerabat dekat dari pihak Mami.


"Andra!"


Keduanya mau tak mau saling pandang, begitupu dengan Farah yang reflek mendongak kan wajahnya hingga semua terlihat jelas oleh Andra.


"Kamu kenapa? siapa yang sakit?" tanya Andra lagi, entah kebetulan yang seperti apa bisa mempertemukan mereka di dalam lift seperti ini.


"Aku--, aku tak apa-apa, aku hanya menjenguk temanku yang sakit," jawab Farah yang jelas berbohong.


"Sakit apa? sampai sebegini sedihnya?" selidik Andra bingung dan tak percaya.


"Enggak, bukan apa-apa."


Mereka yang sudah berada di lantai dasar langsung keluar dari dalam kotak besi tapi Andra tetap mengikuti Farah sampai ke mobilnya.


"Pulang sana, anak istrimu pasti menunggu," usir Farah yang takut Andra bertanya lagi.


"Gak apa-apa, aku kesini cuma ambil obat. Aku akan pulang setelah kamu jujur padaku," balas Andra masih memaksa Farah jujur lewat sorot matanya.


"Aku sudah jujur, tak ada yang ku sembunyikan," kata Farah meyakinkan tapi pria itu malah menggelengkan kepala.


Andra terus mendesak dengan beberapa ancaman kecil dan itu mampu membuat Farah takut dan rasa takutnya itu malah berefek pada perutnya.


Farah yang meringis kesakitan langsung di bawa masuk lagi ke dalam rumah sakit, ada aliran darah di selang KangAanyya yang membuat Andra panik dan itu mengingatkannya pada kejadian Viana beberapa tahun lalu.


Beberapa menit berlalu, dokter keluar dengan perasaan lega ia hampiri Andra yang sedang merasa sangat khawatir.


.


.


.


Syukurlah, bayinya selamat.