
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aroma patah tulang mulai terasa ya, Mom," ledek Andra usai makan malam, ia yang melihat putranya merengut sudah bisa di pastikan usai di tolak lagi cintanya.
"Patah hati, Dadd!"
"Oh ya? siapa?" Andra yang senang menggoda semakin jadi meledek Pangeran.
"Patah hati itu kalau di tolak nya 1 2 3 kali, kalau udah gak ke itung jari remuk hati namanya ya, Dadd," timpal Viana yang malah ikut ikutan, dan itu membuat kepala Pangeran kini rasanya ingin meledak.
"Mommy sama Daddy mentang mentang jodoh ledekin anak aja sampe kompak!" ucapnya kesal lalu masuk kedalam kamarnya di lantai dua.
Tak ada yang berubah dari bangunan itu, bahkan kamar Ayah dan Bunda pun tetap sama dan terawat sebab Viana masih berharap wanita bak bidadari itu akan kembali padanya.
Andra yang masih terkekeh langsung di peluk oleh Viana, pria yang selama ini selalu ada untuknya dalam keadaan apapun.
"Pangeran segede gitu udah sibuk patah hati, kamu segede gitu malah sibuk mikirin pacar sama istri ya, Dadd?" sindir Viana.
"Inget aja, Mom."
Sudah tak pernah ada perasaan marah dan cemburu, tapi untuk iseng memancing huru hara, si mantan cukup menjadi pemantik yang memberi warna dalam rumah tangga mereka.
"Nikahin aja, Dadd. Kamu bilang tuh sama orang tua Senja." ide konyol pun muncul di Kepala Viana mentang mentang ia berhasil menjalani rumah tangga di usia muda.
"Tuan Biantara? duh berat, Mom. Masih keluarga Rahardian itu," jawab Andra yang bingung sendiri.
Siapapun akan segan rasanya jika secara sengaja ingin berbesanan dengan keluarga tersebut, karna apapun yang mereka punya rasanya tak pernah sebanding sama sekali.
.
.
.
Di dalam kamar, Pangeran yang berbaring di tengah ranjang hanya bisa memandangi foto Senja yang menjadi wallpaper ponselnya. Apapun itu semua selalu terselip foto putri bungsu Biantara.
"Gue ganteng begini di tolak terus, gue jadi penasaran nanti yang nikahin lo Nja, apa ada yang lebih ganteng dari gue?" gumamnya sambil mengelus layar benda pipih mahalnya.
Tak pernah ada alasan pasti memang membuat Pangeran semakin penasaran. Padahal ada puluhan gadis yang siap menjadi pacarnya meski tengah malam sekalipun. Tapi sialnya, hati Pangeran yang hanya ada satu itu sudah tepaut dengan satu nama yaitu RahaSenja Putri Biantara.
Si cantik yang tak banyak tingkah namun membuat siapapun akan jatuh hati padanya, tak sedikit juga siswa yang menaruh hati pada adik Awan tersebut termasuk para kakak kelas dan ketua OSIS sebelumnya. Dan nasib mereka pun sama seperti Pangeran yaitu pernah di TOLAK.
Tok.. tok.. tok...
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Pangeran dari layar ponselnya, ia yang bangun langsung turun dari ranjang untuk membuka pintu kamar.
"Iya, Mom."
"Ada Putri, temui dulu sana jangan ngelamun terus," titah Viana saat rumahnya kedatangan tamu seorang gadis cantik yang cukup dekat dengan putranya.
"Ngapain?" tanya Pangeran bingung.
"Entah, tanya aja sendiri," jawab Wanita itu, menikah dan menjadi orang tua muda nyatanya membuat Andra, Viana dan Pangeran cukup santai dalam bersikap.
Pangeran yang sebenarnya malas namun mau tak mau harus tetap menemui Putri yang sudah jauh datang ke rumahnya yang entah untuk apa.
"Put, kenapa?" tanya Pangeran saat sudah di teras.
"Hay, ini bukumu, tertinggal." Putri langsung menyodorkan benda yang tertinggal milik Pangeran.
"Oh, iya. Makasih ya, harusnya tak perlu repot repot kan besok bisa," ujar Pangeran meski ini tak aneh baginya. Tapi sedikit basa basi tak salah juga.
"Aku sekalian lewat, Ran. Kamu sibuk ya?" tanya Putri.
"Hem, sedikit."
"Sibuk mikirin Senja pastinya, iya kan?" ledek Putri padahal hatinya mencelos menyebut nama gadis lain.
"Tau aja," kekeh Pangeran, wajar sekali Putri berkata seperti itu sebab orang orang tahu bagaimana Pangeran mengejar Senja selama ini.
"Ya udah, terusin deh kalau gitu."
.
.
.
Hem, pasti dong. Gue harus tetap mengagumi Senja meski tak berpotensi memilikinya...