
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Makan, Vi.. apa mau ku suapi lagi biar cepat habis?" tawar Andra sambil tersenyum padahal hatinya cukup merasa khawatir, ia yang seharian ini bersama Viana tentu tahu apa saja yang di makan wanita itu dan yang pastinya itu semua tak cukup mengenyangkan entah bagi perutnya atau juga bayi mereka.
"Makan saja punyamu," jawab Viana yang matanya tak lepas dari piring milik Sang suami.
"Mau berdua denganku? nasi gorengnya lumayan enak," kata Andra yang tak minta persetujuan lagi tapi ia langsung menyodorkan sendok ke depan mulut Viana.
Dan Andra kembali tersenyum saat istrinya mau menerima dan langsung mengunyahnya. Entah sudah berapa suap nasi goreng yang lahap di nikmati Viana karna Andra pun ikut memakannya, ini bukan pertama kalinya bagi mereka makan satu piring dan sendok bersama karna tentunya pengalaman ini pertama bagi mereka, jangankan Viana yang jelas tak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun sebab Andra saja tak sejauh ini bersama masa lalunya.
Mungkin, ikatan halal lah yang membuat mereka bisa jauh lebih intim karna tak ada yang perlu di takutkan atau di sesali nantinya, apalagi jika mengingat benteng tinggi Andra dan Haura yang bisa di pastikan semua yang terlewati akan menjadi sebuah kenangan.
"Satenya mau juga?" tanya Andra saat piring di depannya kini kosong tak tersisa.
"Dua aja," jawab Viana.
Tapi, Andra tentu tak hanya mengambil dua tusuk seperti apa yang di minta istrinya melainkan semua dengan piring piringnya. Dari yang Andra amati sejauh ini, ucapan Viana kadang berbanding terbalik dengan sikapnya dan Andra cukup paham akan hal tersebut, disini tugasnya hanya berusaha untuk saling menyamankan diri karna jika rasa nyaman itu ada, mungkin rasa cinta dan takut kehilangan akan tumbuh secara perlahan di antara mereka.
"Habis, Vi, sopnya juga mau sekalian?"
"Ish, apaan sih, kamu pikir perutku tuh karung?" cetus Viana sambil memalingkan wajah untuk menyembunyikan rasa malunya karna ia ingat betul dengan penolakan makannya tapi apa yang terjadi justru ia menghabiskan satu piring nasi goreng milik Andra dan satu porsi sate pesanannya meski semangkuk sop buntut rasanya begitu menggugah selera.
Viana hanya diam tapi dalam hati ia tetap menggerutu kesal sebab kata bayi masih terlalu asing dan aneh di telinganya karna bagaimana pun selama ini yang ia harapkan hanya adik dari pernikahan Bunda dan Ayah bukan anak yang lahir dari rahimnya sendiri.
Viana yang sekali lagi menolak akhirnya membuat mereka memutuskan untuk pulang.
Di dalam mobil, Andra mencoba mengajak istrinya itu bicara dengan sengaja memelankan laju kendaraannya tersebut.
"Vi, pulang kerumah ku ya," ajak Andra, sebagai anak rasanya ia merasa bersalah karna terus membuat Maminya sedih sebab Andra tak bisa membawa pulang istrinya ke kediaman Bramasta.
"Mau apa? sama saja," jawab Viana yang di artikan sebuah penolakan bagi Andra.
"Mami minta kamu pulang." mohon pria tersebut.
.
.
.
Pulang? pulang ke tempat yang sudah membuatku sekacau ini sekarang, begitu maksudmu?