Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 73



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Kamu sudah datang?"


Andra yang memang hanya seorang diri di dalam kelas langsung mendongakkan kepalanya karna ia yakin pertanyaan itu pasti untuknya, ia tersenyum simpul saat melihat sosok si masa lalu tepat di depannya, siapa lagi jika bukan, Haura, gadis cantik yang ia rindukan namun sedang di lupakan.


"Hem, iya," sahut Andra yang kemudian kembali pada layar ponselnya, bukan tak berani menatap lama Haura tapi ia hanya tak mau karna ada janji ya harus ia tepati.


"Mau sampai kapan begini? Apa sebegitu tergantungnya Viana padamu sampai kalian seolah tak terpisahkan, Hem?" tanya Haura yang membuat pemuda tampan di depannya itu kembali menatapnya.


"Maksud mu apa?"


"Andra, kita mau lulus! aku gak mau liat kamu kaya gini sering gak masuk kelas tanpa alasan yang--,"


"Viana butuh aku, Ra!" tegasnya pada sang mantan kekasih sebelum mengomel panjang lebar.


Andra paham dengan yang di maksud Haura, sejak awal mereka menjalin kasih memang sudah sepakat untuk tidak sampai menganggu nilai pelajaran dan itu terbukti selama 2 tahun keduanya tetap menjadi kebanggaan pihak sekolah karna selalu masuk di peringkat 10 dari seluruh murid SMA Pelita Harapan.


Tapi, itu tentu berbeda karna yang kini menjadi pasangan Andra bukan sekedar kekasih melainkan seorang istri yang perhatian dan kewajibannya tak bisa disamakan dengan hubungan pacaran seperti dulu.


"Kamu juga butuh masa depan, Andra!" balas Haura dengan kedua mata berkaca kaca, sakitnya semakin terasa saat pemuda yang masih sangat ia cinta menyebutkan nama lain.


"Aku paham, tapi ini gak yang seperti kamu pikirkan, Ra. Kamu tak perlu khawatir ya, aku tahu dan semoga bisa menjalani semua peran ku dengan baik, dimana aku harus menjadi siswa, suami dan calon ayah untuk anakku," jelas Andra yang terasa perih saat mengatakan itu semua, tapi ia harus membuka mata hati Haura jika hubungan mereka tak punya celah dan kesempatan lagi untuk mengulang hal yang sama.


"Tak usah ragu, Ra. Aku baik baik saja, dia yang sudah di takdirkan untukku akan ku jaga semampuku, karna sedalam apapun aku masih mencintaimu nyatanya ia tetap bersamaku dengan berbagai alasan yang membuat kami tetap bertahan," jawab Andra meyakinkan lagi.


"Itu karna kamu tak pernah mau bercerai dan hanya ingin menikah satu kali dalam hidupmu, bukan?"


Andra mengangguk, ia sering mengatakan ini pada Haura sejak mereka bersama dulu. Niat yang sangat di kagumi dan di puji oleh gadis itu karna memang sebuah perceraian dari manusia itu sendiri sangat teramat di benci oleh Tuhan dalam keyakinan manapun.


"Iya, Ra. Semoga ini juga yang akan terjadi padamu nanti ya. Aku masih menyebut nama mu dalam setiap doa ku meski kini permintaanku jauh dan berbanding terbalik tapi semua tetap yang terbaik untukmu, aku hanya ingin kamu memiliki jodoh yang cintanya jauh lebih besar dari ku, Ra. Maaf, aku--,"


"Cukup, Andra. Doamu ku Aamiinkan, karna sainganku adalah istri pilihan dari Tuhan dan orang tuamu," potong gadis itu yang kini terisak sedih meratapi hatinya yang masih jadi pemilik pemuda yang berstatuskan suami orang tersebut.


"Terimakasih."


.


.


.


"Tapi aku tak akan segan menegur Viana lagi jika ia terus seenaknya padamu."