
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Semua yang di katakan Appa cukup membekas di hati Senja, ia telisik lagi hatinya berharap ada nama Pangeran disana tapi hasilnya Nihil, tak ada getaran apapun yang di rasakan oleh gadis itu padahal ia sudah menutup matanya.
Dari sekian pemuda yang menyukainya, memang hanya Pangeran yang sangat gigih meminta cintanya. Entah apa yang membuatnya sebegitu jatuh dalam menyukai putri bungsu Biantara tersebut.
"Belum tidur, Sen?" tanya Ola saat tahu adik sepupunya itu masih melamun dengan mata menatap langit langit kamar.
"La, emang beneran ada ya?" tanya Senja tanpa menoleh.
"Ada apa?"
"Iya, aku pernah denger kalau cinta bisa hadir karna terbiasa, memang beneran ada?" Senja mengulang pertanyaan, namun kali ini lebih detail dan langsung ke tujuan.
"Ada, cinta itu kan di jemput, bukan di tunggu, Sen," jawab Ola, si gadis cantik Rahardian yang tak pernah nampak dekat dengan lawan jenis kecuali dengan kakaknya sendiri.
"Masa?"
"Memang, kalau kamu laper nasi yang nyamperin?" kekeh Ola, ia yang tadinya sudah mengantuk malah merasa lucu sendiri dengan kegalauan sepupunya itu.
"Apa aku terima Pangeran aja ya? masalah cinta urus nanti dah," kata Senja yang mulai pasrah.
Jujur, pemuda itu sudah sangat membuatnya pusing karna ia bisa meraih hati keluarganya. Bukan hanya Awan yang memang satu sekolah dan otomatis berteman tapi orangtuanya terutama Mimih.
"Jangan gitu, hubungan gak hanya cinta tapi juga nyaman, Sen. Kalau kamu gak nemuin rasa nyaman si cinta lama datang dan itu malah bikin masalah baru. Bener kata Awan," ucap Ola mengingatkan lagi jika sudah menyangkut hati tentu itu bukan perkara yang mudah.
"Bener gimana? Awan tuh gak bener benernya!" cetus Senja yang lebih banyak ributnya di banding akurnya bersama Sang kakak.
"Benerlah, KASIAN TUH ANAK ORANG!"
.
.
.
Hatchi...
"Siapa nih yang ngomongin gue?" gumam Pangeran yang sedang bermain Game di perangkat komputernya.
Meski mudah bergaul dan banyak teman, bukan berarti Pangeran adalah anak yang bebas. Ia biasa main hanya saat pulang sekolah yang artinya saat matahari tinggi di langit karna jika sudah terbenam dan berganti bulan, Pangeran justru lebih betah di rumah terlebih ia di wajibkan untuk makan malam bersama Mommy dan Daddyny.
Sebagai anak tunggal, hanya ia harapan satu-satunya jadi orangtuanya pun tak ada teman dan musuh lagi selain dirinya saat di rumah yang selalu membuat para penghuninya nyaman.
Merasa fokusnya buyar karena bersin dan panas di bagian telinga, Pangeran pun memilih keluar dari kamarnya. Tanpa di sangka, masih ada Daddynya di ruang tengah sedang menonton TV tanpa Mommy yang mungkin sudah lebih dulu masuk ke kamar.
"Ndut, tumben belum tidur?" tanya Andra saat ia di hampiri putranya.
"Belum ngantuk, Mommy mana?"
"Sudah tidur, pusing katanya," jawab Andra.
"Mommy sakit?" tanya Pengeran lagi namun kini di jawab dengan gelengan kepala.
Dua pria beda generasi namun ketampanannya 11 12 itu duduk berdampingan diatas karpet padahal ada sofa disana, Andra yang menoleh pun langsung tersenyum dan itu membuat Pangeran merasa aneh.
"Kenapa?" tanya Si mantan bayi yang kini sudah remaja.
"Kamu udah gede," kekeh Andra dengan bangganya, padahal masih jelas dalam ingatannya tiap drama yang di lakukan Pangeran terutama saat anak itu masih Batita.
"Gede dong, Daddy udah kan udah punya calon mantu," jawab Pangeran dengan menaik turunkan alisnya.
Andra tak terkejut, ia malah mencebik karna ia tahu pada siapa hati putranya selama ini berlabuh. Jika saja gadis itu bukan keturunan Biantara dan Rahardian mungkin sudah ada yang di lakukan Andra untuk putranya tersebut. Tapi, untuk bekerja sama dengan perusahan sebesar itu saja sulit apalagi untuk ber besanan. Meski nyatanya keluarga Bramasta termasuk yang kaya raya namun akan tetap bagai seujung kuku di mata Rahardian Group.
"Sainganmu Harta Tahta dan kuasa, Ndut. Sekolah dulu yang bener biar sukses," pesan Andra.
"Kenapa? Daddy mau nikahin aku sama SenSen sekarang?" goda Pangeran, ia tentu tahu jika kedua orang tuanya itu dulu menikah saat masih berseragam sekolah.
"Cih, laganya pengen nikah, pipi!S aja masih di pegangin," balas Andra yang kini tawanya pecah seketika.
"Gak bisa, Dadd, kalau gak di pegangin!"
"Bisa, siapa bilang gak bisa," jawab Andra dengan otak ajaibnya.
"Masa? pipi!S apa?" tanya Pangeran.
.
.
.
Pipi!s HALAL..