Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 133



🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Setelah drama panjang yang cukup melelahkan bagi pasangan tersebut, akhirnya mereka bisa bernapas lega di dalam mobil. Andra dan Viana benar-benar hanya berdua merayu Pangeran untuk tidur agar anak itu tak semakin curiga jika ada Bunda yang ikut menenangkan, walau nyatanya Wanita itu sudah sejak beberapa waktu lalu menunggu di ruang tengah bersama sang suami yang akan siap menggantikan peran anak dan menantunya.


Mereka tak pernah marah atau protes saat Viana dan Andra ingin keluar saat ada yang penting atau sekedar jajan di luar. Bagi pasangan itu, Pangeran adalah obat di kala sepi yang tak terbayar oleh apapun. Meski kadang bagi Ayah, melihat Pangeran seperti melihat putrinya saat kecil dulu, kadang juga terbesit bayangan si mantan istri yang sudah sangat melukai hatinya kala itu.


"Let's go, Mom." dengan semangat 45 Andra langsung menekan pedal gas mobilnya untuk siapa meluncur ke tujuan yang hanya ia yang tahu.


Ya, Viana pasrah bahkan tak bertanya sama sekali kemana sebenarnya mereka akan pergi, yang wanita itu tahu hanya perkara hotel dan 3 warna Lingerie yang akan di pakainnya nanti saat mereka bersama. Andra benar benar mengeluarkan lagi beberapa baju yang akan di bawa oleh istrinya dengan Alasan ia tak butuh semua itu.


Perjalanan yang entah akan kemana itu di habiskan Viana dengan tidur, sedangkan Andra masih fokus pada jalan di depannya dengan musik yang mengalun pelan agar tak mengantuk sebab tak ada yang menemani.


.


.


.


Entah pastinya berapa jam, yang jelas mereka sampai saat matahari mulai terbit. Andra yang sudah mematikan mesin mobilnya mulai bersiap membawa Sang istri masuk kedalam dengan cara di gendong ala Bridal Style.


Cek lek


Pintu sebuah kamar di buka dan Andra langsung membaringkan tubuh istrinya di tengah ranjang dengan sangat hati-hati, berharga Viana tak terusik apalah bangun.


"Tunggu sebentar ya, Sayang," bisik Andra sambil mencium pipi Viana sekilas.


Andra yang keluar lagi dari dalam kamar langsung menemui seseorang yang ternyata sedang menunggunya di ruang tamu.


"Pak, Terima kasih ya, bapak bisa pulang, nanti kalau saya butuh bantuan di telepon ya," ucap Andra pada pria baya di depannya kini.


"Iya, Den. Telepon bapak aja nanti ya," jawabnya masih menunduk kan kepala.


Andra yang sudah sangat lelah hanya mengangguk lalu memberikan beberapa lembar uang untuk Si bapak tadi sebelum ia benar-benar pergi, setelah yakin tak ada lagi yang harus ia urus, Anda pun kembali ke kamarnya tempat kini Ratu dalam hatinya berada.


Jaket yang sudah ia buka, dilemparnya asal di salah satu sofa yang ada di dalam sana, Anda naik ke atas ranjang lalu menarik tubuh Viana agar masuk kedalam pelukannya.


Lelah dan kantuk yang ia rasakan lepas begitu saja saat menatap wajah polos istrinya sambil di ciumi kening dan pucuk kepalanya juga, sebagai tanda betapa ia sangat menyayangi wanita halalnya kini.


"Aku tak menyesal berjuang melupakannya hanya demi bertahan denganmu, Terima kasih sudah membuatku jatuh cinta sedalam ini, Mom."


.


.


.


Sinar mentari yang teramat terang yang masuk lewat pantulan jendela pun akhirnya membangunkan Viana yang tidurnya sudah sangat cukup. Ia menggeliat dalam pelukan Andra yang mendekap nya seolah seorang tawanan.


"Ini dimana? seperti bukan kamar hotel," gumamnya yang masih mencoba mengumpulkan kesadaran.


Perlahan Viana melepas diri untuk turun dari ranjang, ia melangkah kearah jendela lalu membuka gorden abu-abu yang tak terlalu tebal.


"Tapi ini dimana?" lanjutnya lagi yang kemudian membuang napas kasar, dan rasa penasaran itulah yang kini membuat Viana memilih keluar dari kamar meninggalkan Andra yang masih terlelap. Ia yakin jika pria itu baru saja tidur karna dengkuran nya cukup menggelitik di telinga.


Viana berjalan selangkah demi selangkah sambil mengedarkan pandangan, ia masih mengingat ingat apakah pernah ke tempat ini sebelumnya tapi jawabannya tentu TAK PERNAH.


"Hem, ini seperti Villa, katanya mau ke hotel, kenapa jadi di puncak?" Viana mengusap tengkuknya sendiri yang lagi dan lagi di buat tak paham oleh pria yang tak lain adalah ayah dari putranya sendiri.


Pemandangan luar biasa indahnya kini ada didepan mata, hawa dingin dan angin di pagi hari mampu membuat Viana memeluk dirinya sendiri.


Tapi, ia langsung ingat dengan Pangeran, semuda apapun umurnya tetap menjadikan ia seoarang ibu yang tak pernah bisa jauh dari sang putra.


Senyum terulas di ujung bibir merah alami Viana mana kala ia membayangkan gelak tawa Pangeran yang menggemaskan, hingga akhirnya ia memilih untuk kembali ke kamar.


Didalam tempat tersebut, Viana mencari barang barangnya yang entah ada dimana. Setiap sudut kamar itu ia cari tapi koper miliknya tetap tak ia temukan termasuk di dalam lemari atau pojokan ruang.


"Apa mungkin masih di mobil?"


Kunci kendaraan mewah sang suami yang ada diatas nakas pun buru-buru di ambilnya. Dengan langkah tergesa Viana kembali ke luar menuju garasi yang sempat ia lihat saat berdiri di teras beberapa waktu lalu


"Nah, bener kan!" Viana hanya mengambil tas kecil di kursi depan dan membiarkan kopernya tetap di mobil, malas rasanya mengeluarkan benda yang cukup berat tersebut karna tujuannya hanya ingin mengambil ponsel.


Andra tentu tak sempat membawanya sebab kedua tangannya sudah ia pakai untuk menggendong Viana sampai ke kamar.


Viana yang sudah kembali masuk memilih duduk di salah satu sofa ruang tamu yang cukup luas bagi ukuran sebuah Villa yang mungkin bisa di gunakan juga untuk ruang kumpul keluarga besar sebab ada beberapa kursi besar disana.


Ponsel mahal keluaran terbaru yang ada di tangannya pun mulai di nyalakan oleh Viana, ia mencari kontak nama Bunda lebih dulu dan mengabaikan beberapa pesan yang masuk.


Waktu yang lumayan sudah cukup siang di yakini Viana jika putranya pasti sudah bangun dari tidurnya usai drama panjang yang tak mau lepas dari pelukan Mommynya.


Sekali, dua kali hingga tiga kali suara nada tunggu yang di dengar akhirnya berubah dengan suara Sang ibu sambung berbarengan dengan hadirnya wajah cantik wanita berhijab tersebut. Ya, Viana memang selalu melakukan panggilan Video call saat ingin ingin tahu sedang apa Pangeran saat mereka berjauhan.


"Iya, Vi, kenapa? kamu sudah sampai, Nak?" tanya Bunda langsung memberondong pertanyaan.


"Sudah, Bun. Pangeran sudah bangun?" Viana balik bertanya sesuai dengan tujuan utamanya menelepon.


"Sudah, tunggu sebantar ya, Pangeran sedang main dengan Ayah," jawab Bunda sambil berjalan dari dapur menuju ruang tengan.


"Sayang, mommy telepon nih," ucap Bunda seraya memperlihatkan layar ponselnya di hadapan Pangeran.


.


.


.


Miiiih.. Abul yaaaaa