Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 76



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Motor!"


"Mobil aja, Vi, nanti kamu masuk angin," mohon Andra saat Viana kekeh ingin naik motor, ia menerima ajakan suaminya untuk makan malam di luar sambil jalan-jalan karna rasanya sudah sangat lama sekali keduanya tak melakukan hal tersebut.


"Tapi aku pengen tengok tengok, banyak yang aku liat kalau naik motor." Bukan Viana rasanya jika tak keras kepala dan ingin semua maunya di turuti.


"Habis hujan, Vi. Dingin"


Viana langsung diam karna sepertinya ia lupa akan hal tersebut, hujan memang baru saja reda dan ia juga tak bisa membayangkan akan sedingin apa angin di luar sana karna meski memakai jaket pun rasanya akan tetap ngilu.


Andra tersenyum, tanpa persetujuan Viana ia tarik tangan wanita halalnya ke arah mobil yang terparkir di garasi bersamaan dengan milik Ayah, Viana yang pasrah pun hanya mengikuti. Ia masuk dan duduk dengan posisi senyaman mungkin.


"Aku mau makan angkringan ya, mau sate satean," pinta Viana yang terlihat senang saat Andra sudah menyalakan mesin mobil mewahnya itu.


"Masih doyan aja sama sate, Vi."


"Hem, aku emang suka sama semua bentuk sate sekalipun telur puyuh," jawab Viana dan hanya tertawa kecil, ia baru ingat jika mereka pernah makan bubur Ayam bersama dengan toping jeroan yang cukup lengkap, saat itu buburnya memang hanya setengah Porsi tapi satenya satu piring besar dan hampir habis semua.


Andra melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang sambil mencari cari tempat makan yang cocok dengan yang di cari Viana karna ia tak punya rekomendasi tentang kedai angkringan sebab Si masa lalu kurang suka dengan makanan tersebut.


.


.


Lebih dari 30 menit mobil pun akhirnya menepi, Andra turun lebih dulu lalu membuka pintu bagian kiri untuk Viana keluar dari dalam kendaraannya tersebut.


Mereka yang saling berpegang tangan langsung memesan apa saja yang di inginkan.


"Dua atau tiga kalau perlu."


"Inget, ada anak kita disini," bisik Andra yang sebisa mungkin pelayan tempat makan tersebut tak mendengar.


Viana merengut kesal, tapi ia tak bisa kembali proetes karna Andra terus mengelus perutnya.


"Lusa kita periksa di rumah sakit biasa ya, aku masih Khawatir karna kemarin bukan dokter yang biasa memeriksamu, Vi."


"Aku gak apa-apa, masa mual dan muntah ku sudah lewat," jawab Viana.


"Kan sudah ku bilang karna kamu---,"


"Mulai! bicara sekali lagi akan ku sentil bibirmu!" ancam Viana yang membuat Andra tak kuat menahan tawanya.


Viana benar-benar malu meski memang benar adanya jika ia tak bisa jauh dari Andra, bahkan saat di tinggal sekolah pun keduanya sesekali melakukan video call meski hanya dalam hitungan menit ketika ada waktu senggang. Viana sedang menikmati semuanya, jika Andra masih belajar mencintainya ia justru sedang berusaha untuk menerima apapun yang sang suami berikan, karna mencintai yang sudah ada dan seharusnya sedikit lebih sulit di banding saat jatuh cinta pada pandangan pertama, dan sialnya mereka tak merasakan hal tersebut.


"Aku suapi ya, biar lahap makannya."


"Gak usah, malu banyak orang yang liat nanti," tolak Viana sambil menggelengkan kepala, jika dirumah mungkin tak masalah tapi ini adalah angkringan pinggir jalan yang cukup ramai pengunjung.


.


.


.


Malu apa? bahkan aku bisa menciummu di depan mereka jika kamu mau.