Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 131



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Si Mommy, suka ngungkit masa lalu ih," sahut Andra yang menangkap sinyal tak baik dari wanita halalnya.


"Apa? memang aku ngomong apa? kan aku nanya, capek ya jadi kucing?" tanya ulang Viana yang kali ini bernada sindiran dengan sedikit mencebikkan bibirnya.


"Banget, Mom. Kalau mau tahu capeknya gimana jalanin hubungan ya cuma hubungan beda keyakinan. Disana ada sabar yang luar biasa meski perpisahan jelas ada didepan mata," jelas Andra.


Ia pejamkan matanya, masa lalunya memang sudah selesai jauh di kubur dan tak teringat lagi tapi ia masih ingat bagaiamana rasanya menjadi orang paling egois yang hampir saja menentang takdir yang jelas ada pembatas yang tak boleh ia lewati.


"Tapi--, Sebelum perpisahan itu terjadi, Tuhan sudah persiapkan gantinya yang jauh lebih dari segalanya," tambah Andra lagi yang kini membuat Viana tersenyum.


Benar memang, hanya orang-orang yang punya sabar luar biasa yang bisa menjalani hubungan tanpa ujung yang jelas selama salah satu tak ada yang mau mengalah. Sebab, yang di tentang itu bukan ciptaannya melainkan penciptanya.


"Terima kasih sudah tidak mengambilnya dari apa yang ia yakini," ucap Viana sembari mengelus pipi suaminya yang kian tampan karna semakin terlihat dewasa.


"Terima kasih juga sudah sabar menemani segala prosesku, Mom. Aku tak mungkin sekuat ini tanpamu," jawab Andra sambil tersenyum simpul.


Viana yang terharu langsung merentangkan tangan, tak perduli dengan Seatbelt yang menghalangi yang jelas ia sedang ingin di peluk oleh prianya. Pria yang ia selalu ingin ia tinggalkan saat melihat yang seharusnya tak ia lihat.


.


.


.


Hari yang di tunggu pasangan itupun tiba, sudah sejak siang keduanya mulai membereskan barang meski nyatanya Andra tak meminta Viana untuk membawa baju kecuali untuk pergi dan pulang nanti..


"Udah, Mom. Ngapain sih bawa daster," kata Andra saat Viana menaruh baju kebesaran kaum emak-emak.


"Kan udah ku bilang, kamu cukup pake Lingerie disana dan telANjanG selibihnya," jelas Si pria mesum yang masih berharap semua akan sesuai rencana yang ia inginkan.


"Aku gak ada kerjaan laen nanti?" tanya Viana dengan tangan melipat di dada.


"Gak ada! kerjaan kamu cuma layanin aku sampai selesai."


"Ya udah ngapain jauh jauh harus ke luar kota? disini aja ayo kalau mau di layanin, mau pake gaya apa? lalat terbang, kecoa kejepit, kuda lumping, atau singa lompat, hah?" oceh nya yang tak habis pikir dengan ide konyol pria yang dua tahun lalu menikahinya itu.


"Wah, singa lompat boleh tuh," kekeh Andra yang senang sendiri, saking mesumnya otak pria itu sampai mengira istrinya serius mengajak ia hiya hiya di waktu siang bolong begini padahal jelas Pangeran pun ada bersama mereka.


Plaaaak


"Otakmu harus ku iket pake karet dua biar gak kemana-mana terus, Dadd. Ampun ih, Mamih tuh ngidam apa sih pas hamil kamu?" Viana mulai mengoceh kemana-mana tapi Andra masih saja mengusap keningnya yang di pukul pelan dengan botol susu.


"Gak apa apa otaknya Traveling, asal tujuannya tetap satu yaitu cukup ke lembah imutnya kamu aja, maen deh sampe puyeng terus muntah, iya gak Ndut," jawab Andra yang menoleh kearah putra mereka, Pangeran yang mendengar namanya dipanggilpun langsung menyahut.


.


.


.


Apa....