Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 79



🍂🍂🍂🍂🍂


Cup..


Satu kecupan mendarat sempurna di pipi Viana dari Andra yang sudah pulang, ia memang langsung masuk kedalam kamar dan naik ke ranjang saat melihat Istrinya ada di sana.


"Loh, kok--?" tanya Viana bingung sendiri.


"Belum selesai, tapi pengen pulang," jawab Andra yang mengerti meski Viana tak melanjutkan ucapannya.


"Kenapa?"


"Kangen kalian," sahutnya lagi yang kini sudah mendaratkan kembali bibirnya namun di perut Viana.


Rasa geli tentu dirasakan oleh Si Bumil yang mood nya masih naik turun tak jelas, kadang bagai anak kucing yang manja dan kadang juga mirip Singa lapar yang siap menerkam lewat sorot matanya saja. Semakin Viana tahan napas atau tertawa tentu Andra semakin senang menggodanya, sekarang pria itu tak ragu untuk menyentuh dan Viana juga sudah tak meras risih saat Andra memeluk, menggenggam dan menciumi kening atau pipi. Keduanya juga sering bercanda di atas kasur tapi jika malam, Andra aja tetap tidur di bawah. Ia tak akan menuntut apapun pada Viana meski kadang Jendolannya sangat di sekeder di tanya oleh si pawang halalnya itu..


Tak apa, ini sudah lebih dari cukup. Melihat Viana tenang dan tak stress memang tujuan Andra dan semua keluarganya. Apapun akan mereka lakukan agar wanita itu selalu dalam keadaan bahagia meski level bahagia semua orang tentunya berbeda beda dan Andra masih berusaha untuk terus memahami perasaan sang istri.


"Geli, Andra!"


"Kalau begini geli gak?" bisik Andra saat ia mencium pipi Viana namun dekat dengan telinga jadi suaranya seolah langsung membuat hati Viana berdesir.


Plaaaak


Viana langsung memukul punggung Andra yang langsung membuat pria itu mengaduh bukan karna sakit tapi karna kaget. Bukan bangun ia malah menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher Viana.


"Diem, aku kangen sama Baby," ujar Andra sambil memainkan hidungnya sampai wanita yang ada dalam dekapannya itu tergelak lagi.


"Kangen sama Bayi kenapa aku yang di peluk gini sih?" protes Viana tapi anehnya ia tak berusaha untuk melepas pelukan.


"Curang! berarti kalo aku kesel sama bayi, aku boleh ya gigit Daddy nya," balas Viana tak mau kalah.


Andra pun mengangkat tubuhnya, kini mereka saling menatap dengan posisi wajah begitu dekat lagi.


"Mau gigit apanya?" tanya Andra, lagi lagi napasnya begitu hangat di rasakan oleh Viana.


"Hem mau---,"


Satu kecupan kini Andra berikan lagi di kening istrinya yang terlihat panik, karna itu bukan seperti pertanyaan tapi sebuah tantangan. Semua yang di lakukan pria itu selalu saja meninggalkan kesan lain padahal itu semua hanya hal-hal sederhana contohnya ciuman kecil barusan yang kini anak sekolah Dasar saja sudah melakukannya.


Tapi rasanya begitu lain bagi Viana yang memang karna Mungkin baru Andra yang melakukannya di seumur hidupnya.


"Jangan!" cegah Viana saat bibir Andra kembali dekat tapi malah ke bibirnya.


Viana tak siap, ia tak mau memberikan apa-apa lagi pada Andra sekalipun halal dan wajib untuknua, Viana hanya takut sakit seperti yang sudah sudah karna saat itu Andra sama sekali tak memberinya ampun.


"Iya, Maaf ya, Vi," jawab Andra yang kali ini bangun lalu turun dari ranjang.


"Kamu mau kemana?" tanya Viana.


.


.


.


Kamar mandi...