
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Setelah pulang dari kampus, Andra dan Viana memilih menjenguk Farah lebih dulu di rumahnya yang sudah tiga hari ini tak masuk kuliah. Bangunan yang nampak sepi itu sudah biasa bagi Andra tapi aneh untuk Viana yang baru pertama kali menginjakkan kakinya.
"Langsung ke kamarnya aja ya," ajak Andra tanpa melepas genggaman tangannya dari sang istri.
Viana yang tak masalah hanya mengangguk kan kepala, ia akan melangkah kemana pun suaminya pergi asal bersama, bukan berlebihan hanya saja wanita itu yakin jika prianya bisa menjamin ia akan selalu merasa aman dan nyaman dimana pun mereka berada.
Ceklek
Pintu di buka oleh Andra setelah mengetuk pintu dan di izinkan masuk, keduanya melangkah bersama menuju ranjang tempat dimana kini Farah berbaring.
"Kamu masih sakit?" tanya Andra yang duduk diatas kursi meja belajar sedangkan Viana di tepian tempat tidur.
"Aku pusing, lemes sama mual, Ndra," jawab Farah pelan.
Andra langsung melirik kearah Viana, wanita halalnya itu pasti paham dan tahu betul kondisi adik sepupunya sekarang karna ia pernah merasakan bagaimana jadi ibu hamil.
"Sudah di minum obatnya?" tanya Viana sembari mengusap lengan Farah yang meringkuk memegang selimut.
"Sudah, hanya obat yang bisa ku telan saat ini," jawabnya lagi parau karna ada tangis yang sedang Farah tahan.
Andra yang bingung hanya bisa meminta adik sepupunya itu untuk sabar, sudah berkali-kali ia ingin bicara dengan Dhani kekasih Farah tapi gadis itu selalu melarang dengan alasan biar ia saja yang nanti bicara. Andra cukup paham dan memang tak ingin terlalu jauh ikut campur dalam masalah yang cukup rumit ini. Ia dan Viana yang sah sudah menikah saja kaget dan tak percaya apalagi Farah yang hanya ada status pacaran saja.
"Lalu kamu mau makan apa? kasihan bayimu jangan siksa dia dengan menahan terus menerus," tawar Andra.
"Tapi--," balas Andra yang tak diteruskan karna mendapat kode dari Viana lewat sorot mata.
Jangan kan orang lain, karna diri sendiri pun kadang tak paham dengan keadaan saat hamil muda seperti ini, maunya sering di luar nalar, rasanya tak bisa di ungkapkan dan moodnya berantakan, itulah yang Viana dan mungkin semua calon ibu di dunia.
"Tak apa, jangan di paksa jika tak mau yang penting kamu tenang dulu ya, makan tak harus nasi tapi bisa di ganti dengan buah, kue atau cemilan lain," ucap Viana memberi solusi karna melihat Farah sama seperti melihat dirinya sendiri dua tahun lalu yang hanya meringkuk seperti ini.
"Hem, apa ya, aku juga bingung karna belum masuk nasi sejak kemarin, minum air putih pun harus pelan pelan," kata Farah yang memang terlihat kebingungan.
"Mau ku buatkan jus dulu sambil menunggu kamu ingin makan apa," tawar Viana lagi, menghadapi ibu hamil tak bisa dengan keras dan buru-buru seperti orang lapar biasa.
"Entah, aku takut muntah, tapi--," ucap Farah yang melirik ke arah Andra yang masih duduk dengan kedua tangan melipat di dada.
"Tapi apa?" tanya Andra dengan dahi mengernyit ditambah perasaannya mendadak tak enak saat melihat sorot mata dan senyum penuh arti dari adik sepupunya itu.
.
.
.
"Aku ingin buah jambu di samping kantin sekolahku dulu."