
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Farah hamil, Mom," jawab Andra pelan bahkan hampir tak terdengar.
"Adik sepupumu, Farah?" tanya Viana memastikan yang di ucapkan suaminya barusan tak salah.
Andra mengangguk, bingung rasanya karna sudah mengingkari janji tapi Andra juga tak bisa menyembunyikan hal ini karna ia tak ingin wanita halalnya salah paham apalagi semakin merajuk. Akan ada kebohongan kebohongan yang lain untuk menutupi kebohongan yang pertama dan ia tak mau itu terjadi sebab tak akan ada habisnya melainkan bagai bom waktu.
"Denganmu?"
"Hey! aku tak semurahan itu membiarkan Jendolanku ini bermain main dengan yang lain, Sayang," jawab Andra kesal bercampur gemas, bisa-bisanya Viana meragukan kesetian suami tampannya itu.
"Yakin?"
"Ya ampun, Mom. Sumpah Demi apapun, bukan aku yang bikin, sedoyan doyannya aku, aku cukup kamu aja," jelas Andra meyakinkan.
Siapapun tak akan ada yang bisa menjamin, meski satu rumah dalam segala hal tapi ada saatnya mereka tak bersama dan tak menutup kemungkinan apapun bisa terjadi.
Viana bukan type istri posesif, apapun kegiatan Andra di luar ia tak akan banyak mengekang selagi dalam hal positif, entah itu tugas kuliah, futsal, basket atau sesekali nongkrong dengan teman-temannya. Andra yang di bebaskan malah justru tak enak hati menerima kesempatan itu, mana mungkin ia main-main sedangkan istrinya harus sibuk mengurus putra mereka yang makin aktif dan butuh pengawasan ekstra.
"Aku tak bisa bayangkan jika itu kamu, aku juga tak bisa memberi ancaman apapun padamu jika kamu sampai hati bermain hati di belakangku, Dadd," ujar Viana yang sudah memasrahkan seluruh hidup dan hatinya pada Andra.
"Saat aku memilih bertahan padamu, bukankah kamu tahu jika aku harus berjuang melupakan satu orang? dan aku tak akan lupa bagaimana kerasnya aku hanya ingin kamu saja yang mengisi seluruh hatiku, biarkan kita selalu damai seperti ini ya, aku tak akan macam macam," balas Andra seolah mengingat kan seperti apa hubungan mereka dulu yang tak mudah hingga sampai di posisi ini.
"Kamu tahu, jika orang lama justru yang paling berbahaya, karna kalian punya banyak kenangan," balas Viana yang kini sudah mendongak.
Viana yang masih mendongakkan wajahnya tak di sia-siakan oleh Andra, ia dekatkan bibirnya hingga daging kenyal itu kini saling menempel lalu melu maaaat lembut satu sama lain, semakin lama ciuman itu pun semakin dalam dan menuntut lebih.
"Percayalah, semua yang ada dalam diriku tak akan ku bagi pada siapapun, kamu yang terakhir untukku," ucap Andra yang hanya di balas anggukan kepala.
Keduanya kembali bercumBUU dengan tangan yang sudah aktif kemana-mana, lengUUHan pun mulai lolos dari bibir masing-masing yang masih sibuk memberi kenikmatan.
"Mumpung gak ada Pangeran, yuk, Mom." ajak Andra saat Si Jendolan mulai angguk angguk Geleng-geleng dalam sarang.
"Enggak, aku mau mandi," tolak Viana yang langsung ingat pada anaknya.
"Ya udah di kamar mandi," jawab Andra lagi yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari istrinya.
"Enggak! awas kalo nyusul," ancam Viana.
"Terus ini gimana, udan kaya gini mana bisa di lemesin sendiri!" protes Andra yang memperlihatkan Si Jendolan yang siap aktif salto dalam lembah imut.
.
.
.
Pikir aja sendiri, atau mau ku sentil dulu, sini!!!