
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Pagi, Endut," sapa Andra yang menghampiri Pangeran di ranjang sedangkan Viana sedang membuatkan susu seperti biasa.
"Mau pulang gak?" tanyanya lagi yang di jawab anggukan kepala.
Entah paham atau tidak tapi biasanya jawaban anak itu selalu tepat termasuk yang tadi.
"Kita pulang dulu, atau sore aja abis kuliah??" kini pertanyaan di lempar untuk Viana.
"Terserah," sahut ibu satu anak itu yang sepertinya masih merajuk.
"Ya udah, pulangnya aja ya."
"Terserah." lagi dan lagi hanya satu kata itu yang di ucapkan oleh Viana.
Andra yang mendengarnya pun hanya bisa membuang napas kasar, ia alihkan perhatiannya lagi pada Pangeran yang bertepuk tangan saat menerima botol susu besarnya.
"Susu Si Endut masih ada? nanti sebelum pulang kita belanja dulu ya," tawar Andra, mungkin dengan mengajak Viana hati wanita itu bisa sedikit luluh.
Iyaaah
"Lah, kenapa kamu yang jawab, Ndut? Daddy tanya Mommy loh, ajak Mommy juga loh bukan kamu, Ganteng," ledek Andra yang tertawa.
Siapa yang di tanya, siapa juga yang menjawab itulah kebiasaan Pangeran meski hanya sebatas kaya IYA. Tapi, selalu saja mengundang gelak tawa serta mencairkan suasana.
Viana yang ikut tertawa kecil langsung memalingkan wajahnya saat sadar Andra sedang melirik ke arahnya saat ini.
Anak memang sering menjadi sebuah jembatan bagi orang tuanya yang kadang harus siap dan mau tak mau mengesampingkan ego demi terlihat baik baik saja di depan anak mereka.
.
.
Selesai bersiap, ketiganya keluar dan turun dari lantai atas menuju ruang makan untuk sarapan pagi yang terlewat karna Mami, Papih dan Daffa sudah selesai dari satu jam lalu.
Mereka tak pernah menyinggung anak dan menantunya itu sebab tahu jika Andra dan Viana harus berkali-kali bangun untuk membuatkan susu dan mengganti diapers pada Pangeran.
Sekesal apapun Viana, ia tak pernah lupa akan perannya sebagai istri. Wanita cantik itu tetap melayani sang suami seperti biasa meski yang berbeda hanya dengan diam seribu bahasa.
"Buahnya habisin dulu," ucap Viana pada Pangeran yang duduk dan ikut sarapan bersamanya di kursinya sendiri.
Meski masih belum terlalu bisa makan sendiri, nyatanya anak itu jarang sekali ingin di suapi dan Viana harus ikhlas jika Si tampan kesayangannya itu harus kembali di bersihkan, sebab Pangeran biasanya akan jauh lebih lahap saat makan ketika sudah di mandikan.
"Udah siang, Mom," ujar Andra sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
Viana hanya mengangguk, ia gendong Pangeran stelah di bersihkan lalu di bawanya ke kamar ibu mertua setelah di ciumi oleh Andra sembari berpamitan.
Sebenarnya momen ini adalah yang paling di benci oleh keduanya, meninggalkan Pangeran berjam-jam yang kadang saat pulang anak itu sudah lelah saat ingin di ajak bermain. Tapi, ada saja tingkah Andra yang memancing buah hatinya untuk aktif kembali.
Setelah menitipkan Pangeran, Viana langsung bergegas ke garasi mobil tempat dimana suaminya menunggu, mesin yang sudah di nyalahkan malah tak kunjung membuat pria itu menjalankan kendaraannya.
"Ada apa lagi?" tanya Viana sambil menoleh dengan kening mengernyit.
"Aku minta maaf, Mom," ucap Andra yang akan melakukan hal sama berulang kali.
"Kamu tahu kan, maafku itu untuk apa?" tanya Viana yang sambil mengingat kan, dan itu langsung di jawab dengan anggukan kepala.
.
.
.
Aku minta maaf bukan karna kesalahanku, tapi semata hanya karna aku takut kehilanganmu...