Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 70



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Sudah ku coba, Vi."


"Benarkah?, padahal aku yakin jika kamu bukan tak bisa tapi kamunya yang tak mau, mempertahankan dia terus dalam hatimu bukan hanya kamu saja yang terluka tapi aku pun sama, disaat aku harus membawa bayi ini dalam tubuhku kamu justru sibuk masih merindukannya," cetus Viana.


"Enggak, Vi. Kamu salah, meski aku masih belajar setidaknya aku terus mengesampingkan rasa ingin tahuku tentangnya dengan cara mengingatmu," jawab Andra yang memang itu yang sedang ia lakukan sekarang.


"Jangan punya pikiran kesana lagi ya, aku cukup hanya ingin kamu dan bayi kita, dan ku mohon jangan lakukan kesalahan yang sama lagi. Kita mulai semua dari awal lagi, Ok."


"Aku harus gimana, Andra?"


"Senyamannya kamu aja, kamu maunya gimana?" Andra balik bertanya dengan mengusap pipi Viana.


"Apa semua orang akan tahu dengan kehamilanku ini?" tanya Viana yang mulai ragu untuk datang ke sekolah karna ia tak bisa menjamin Haura akan tutup mulut.


Jika ingat hal tersebut, rasanya Viana ingin sekali memukul kepala Andra agar ia tak sebodoh itu menceritakan kehamilannya pada sang mantan yang mungkin saja menaruh dendam padanya sebab baik bagi Andra tapi tidak bagi Viana. Berpisah karna keadaan dan terpaksa tentu lukanya berbeda dan luar biasa, Viana tentu harus waspada karna apapun bisa terjadi padanya.


"Diamlah dirumah kalau begitu, jangan cari penyakit lagi," sahut Andra.


"Dan kamu?" tanya Viana.


"Aku akan tetap sekolah seperti biasa, kenapa? jangan bilang kamu--"


"Enggak, itu justru lebih bagus karna aku tak mau jadi alasan kebolosanmu selama ini," sindir Viana.


Andra mengernyitkan dahi, ia tak paham karna tak pernah punya pikiran sejauh itu, yang ia tahu ia akan selalu ada untuk istri dan anaknya.


.


.


.


"Vi, kalau kita tinggal berdua gimana?" tanya Andra saat dokter sudah mengizinkan ia pulang esok.


"Berdua? maksdmu?"


"Papih minta kita tinggalin salah satu apartemen punyanya, biar kita ada lebih banyak waktu berdua tapi tetep ada Mbak kok yang temanin kamu," jawab Andra lagi yang membuat kening Viana mengernyit.


"Ada berapa kamar disana?"


"Terserah, kamu tinggal pilih satu diantara tiga Apartemen milik Papi, ada yang besar dan sedang. Tapi semua lebih dari dua kamar tidur dan ada kamar tamunya juga, itu sih yang aku tahu," jelas Andra sambil mengingat ingat karna selama ini ia tak perduli dengan samua itu, yang Andra tahu uang jajannya lancar setiap bulan.


Viana nampak berpikir sejenak, tinggal berdua dengan Andra akan sangat membosankan jika pria itu sedang tak di rumah, kasihan juga pada Bunda jika di harus di rumah tanpanya. Namun, benar juga yang Andra katakan, jika mereka memang butuh waktu bersama lebih banyak karna akan pada siapa ia mengadu jika bukan pada suaminya.


"Terserah, yang jelas kamar tidur harus lebih dari dua, satu untukmu dan satu untukku."


"Kita pisah kamar maksudmua?" tanya Andra


"Iya, kenapa?"


.


.


.


Gak jadi deh, mending di rumah mu saja, tak apa aku tidur di bawah asal sekamar denganmu.