Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 125



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Ndy Ntuuut...


"Eh, nanti ya kalau mau ikut, sekarang Daddy mau ke rumah sakit, Endut sama Mommy ya," tolak Andra langsung tanpa basa basi apapun, padahal Pangeran meronta tak seperti biasanya.


Viana dan Bunda hanya diam, tapi wanita berhijab itu tetap memperhatikan putrinya yang sama sekali tak ada niatan untuk mengambil Pangeran dari suaminya.


Andra yang masuh merayu menoleh kearah Viana yang kini malah pindah ke sofa sambil memainkan ponsel, ibu satu anak itu seolah tak terganggu dengan rengekan Pangeran yang terus ingin ikut, Bunda yang ingin mengambil alih pun nyatanya tak berhasil sama sekali.


Cengkraman tangan anak itu semakin kuat benar-benar tak mau lepas dari pria yang selalu berjanji akan memberikan rasa nyaman dan aman.


"Mom, aku udah di tunggu Farah, Si Endut sama kamu dulu ya," mohon Andra yang pastinya akan telat menjemput adik sepupunya itu di rumahnya.


"Kamu gak denger, kalau Pangeran pengen ikut?" tanya Viana santai.


"Aku mau kerumah sakit, loh."


"Ajak sana, kan kamu bisa tunggu di luar atau di mobil, gak harus masuk ke dalam ke rumah sakitnya. Farah juga cuma mau periksa kandungan, dia gk masih bisa jalan sendiri kan?"


Benar saja, wanita itu tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Ia bangun dari duduk dan langsung berlalu kearah tangga menuju kamarnya tanpa menoleh lagi, sedangkan Andra dan Bunda saling pandang tak paham dengan sikap yang di tunjukan oleh Viana barusan.


"Pergilah, biar Pangeran sama Bunda," ucap Sang ibu mertua sambil meraih tubuh montok cucunya yang seperti anak sendiri karna sejak bayi wanita dewasa itulah yang mengurusnya.


"Tak usah, Bun. Biar aku ajak saja, Nanti makin nangis kalau di tinggal," tolak Andra sambik tersenyum kecil.


Di dalam kamar, Viana yang yang meringkuk di atas ranjang belum membuka kedua matanya, begitu banyak yang ia rasakan saat ini termasuk rasa kecewa yang teramat besar hingga dadanya sesak luar biasa. Mulai dari tingkah aneh Andra semalam, pesan yang di hapus, diamnya ia dalam kamar hingga pergi sendiri tanpa mengajaknya.


Semua itu baru pertama kali di lakukan oleh Andra selama mereka bersama kurang lebih dua tahun menjalani bahtera rumah tangga. Jangan tanya bagaimana sakitnya, Posisinya yang bagai seorang Ratu hari ini bagai terhempas dan berganti seolah selir yang tak dianggap.


Pikiran buruk dan hawa negatif pun bermunculan beriringan dengan isak tangis. Saat bertengkar rasanya tak pernah sesakit ini, tapi apa yang ia rasakan sekarang membuatnya tak bisa berkata kata termsuk bercerita pada Bunda.


Viana pun akhirnya bangun, kepala yang teramat pusing masih di paksa nya meski harus memejamkan mata lebih dulu agar bisa sedikit jauh lebih tenang. Seperti yang ia tahu, Viana mulai menarik napas dan buangnya perlahan, itu semua ia lakukan tak sekali namun berulang kali.


"Aku harus apa?" gumam Viana dengan wajah yang sangat berantakan karna air matanya ternyata tak kunjung berhenti.


Ia turun dari ranjang, melangkah pelan namun pasti menuju rak di bawah TV yang menggantung di dinding, ia ambil satu pigura berisikan foto ia, Andra dan Pangeran saat ulang tahun pertama putra mereka tersebut.


Jangan pernah membuat ku ingkar janji untuk mengatakan lagi, Mari Bercerai....