Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 135



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Hal yang seharusnya terjadi pun terjadi sebagai pasangan halal yang justru di wajibkan karna akan menuai banyak pahala sebab saling menyenangkan dan memberi kepuasan satu sama lain.


"Kamu masak apa gitu?" tanya Andra saat keduanya keluar dari kamar, tangan pria itu tetap merangkul bahu Viana yang selama disini tak akan di lepaskannya.


"Liat aja nanti, suka di makan, kalau gak suka masak sana sendiri," jawab Viana yang sebenarnya tak terlalu percaya diri akan hal ini, padahal Andra tak pernah melayangkan protes sama sekali, apapun yang di suguhkan istrinya akan masuk kedalam mulut sekalipun itu racun asalkan ia tak tahu pastinya.


Inilah yang diharapkan oleh Andra, makan dari tangan Sang istri menurutnya jauh lebih nikmat karna pastinya ada cinta dan rasa ikhlas, jadi tak salah jika ia sering sesekali merajuk untuk tinggal mandiri di apartemennya. Tapi sayang, Viana selalu menolak dengan alasan Pangeran. Ya, anak nya memang jadi alasan rumahnya kini terasa hidup dan hangat dan rasanya ia tak tega jika harus menghilangkan tawa Ayah yang selama ini terpuruk dengan luka.


Meski ia tahu, kini ia bukan lagi tanggung jawab orangtuanya. Tapi bukankah menyenangkan pria paruh baya itu juga adalah baktinya sebagai anak, yang tahu betul bagaimana panasnya rumah mereka dulu yang selalu di selimuti oleh teriakan marah dan bantingan barang dari Ibu.


Keduanya kini menarik kursi masing-masing, duduk berhadapan di sebuah meja tepatnya di teras samping yang langsung menghadap ke pemandangan yang luar biasanya indahnya. Satu persatu semua makanan tadi di pindahkan lebih dulu dari meja makan dapur sebelum akhirnya mereka mulai menikmatinya.


"Enak?" tanya Viana.


"Pastilah, Kang baso pinggir jalan aja enak apalagi ini buatan tangan Mommy Si Endut," goda Andra sambil menaik turunkan alisnya.


"Maksih Daddy Pangeran."


"Oh, iya, tadi aku udah Video Call Pangeran tapi masa tiba-tiba dia ngomong gin," kata Viana mulai bercerita.


"Ngomong apa?" tanya Andra sambil mengunyah makanan yang di buat istrinya pagi tadi.


"Mih, abul ya..."


Uhuk... uhuk..


"Dia bilang gitu, kabur?" tebak Andra mengartikan apa yang di ceritakan Viana barusan.


"Tau kabur segala, Si Endut. Emang ajaib ya hasil kerja kerasku sendiri," kekeh Andra dengan bangganya.


Viana yang mendengarnya pun hanya mencibir, ia tak bisa membah jika Andra sudah berkata seperti itu sebab benar yang di bilangnya barusan jika Pangeran memang hasil kerja kerasnya seorang diri. Tak ada nikmat yang di rasakan oleh Viana kecuali rasa sakit luar biasa karna paksaan yang akhirnya membuat ia benci pria itu.


"Oh iya, Dadd, katamu kita ke hotel kenapa ke Villa? jadi muter haluan gini?" tanya Viana yang ingat dengan rasa penasaran yang di pendamnya sedari pagi.


"Gak jadi, ku kira Villa nya belum selesai, taunya udah bisa di tempati. Ya udah mending kesini," jawab Andra.


"Oh, Villamu?".


" Bukan." Andra menyahut sambil meraih tangan Viana.


"Lalu?" dengan dahi mengernyit Viana kembali melayang kan pertanyaan.


"Ini Villamu, hadiah dariku untukmu. Memang tak mewah tapi setidaknya ada yang ku berikan padamu, Mom."


Viana tentu kaget karna dugaannya jika Andra tak menyewa ya pasti ini milik keluarga Bramasta. Tapi kenyataannya ini justru hadiah dari Andra yang seharusnya ia berikan nanti sebab dalam masih tahap sedikit renovasi.


"Kamu tahu, aku tak pernah minta apapun, kan?"


.


.


.


Dan kamu juga tahu, jika aku akan memberikan segalanya sebelum kamu memintanya, Mom.