
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kamu hamil?" tanya Andra langsung saat kembali pada Farah, sorot matanya begitu tajam penuh selidik dan kekecewaan jika saja yang di katakana dokter barusan benar.
"Iya, aku-- aku hamil, Andra."
Andra yang mendengarnya pun langsung mengusap wajahnya, ia tak menyangka adik sepupunya itu akan melakukan hal di luar batas seperti ini, ia terlalu muda sama menghancurkan masa depannya seperti ini.
"Siapa? pacarmu kah ayah dari bayi itu, hem?" tanya Andra lagi dengan nada kesal.
Farah hanya mengangguk, tak kuat rasanya jika harus menyebut nama pria yang sudah menaruh benih di dalam rahimnya saat ini.
"BrenGSEk!" Andra yang geram dan kesal sampai mengeratkan kepalan tangannya, rahangnya kerasa menandakan jika ia sedang marah besar kali ini.
Farah yang peka akan hal itu terus memohon pada Andra untuk tidak menceritakan kehamilannya pada siapapun termasuk pada papahnya karna mama Farah sudah meninggal dua tahun lalu. Ia yang anak tunggal tanpa saudara terlalu bebas tanpa ada yang menasehati dan mengingatkan.
Andra tak bisa menjanjikan apapun pada adik sepupunya itu, melihat kondisi Farah tentu ia ingat dengan Viana dimana mereka berdua harus berjuang agar kondisi wanita itu tetap stabil karna hamil di usia muda tidaklah semudah yang di bayangan, terlalu banyak resiko yang dan dukungan dari orang sekitar.
"Terus mau di tutupin sampai kapan? perutmu akan makin besar, Rah!" sentak Andra kesal.
Farah yang menagis sesegukan hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia tak punya jawaban untuk pertanyaan itu saat ini, semua terlalu mendadak untuknya yang tak punya lagi tempat mengadu.
Andra yang kenal dengan pria itupun seolah tak sabar ingin menuntut tanggungjawab dengan semua yang mereke perbuat.
Mereka?
Ya, mereka adalah Farah dan kekasihnya, keduanya bersalah karna melakukan dengan keadaan sadar suka sama suka, jika sudah begini jangan hanya satu pihak yang di tekan dan di salahkan karna terbukti Andra pun sejak tadi terus memarahi Farah karna ia adalah salah satu wanita korban rayuan cinta semata.
"Kita bicarakan ini nanti, tapi ku mohon untuk sekarang jangan katakan pada siapapun ya," pinta Farah di sela isak tangisnya.
Dua jam berlalu, Andra akhirnya mengantar Farah pulang padahal kondisinya belum baik betul, ia memaksa karna takut di rumah sakit seorang diri sebab papahnya tak mungkin menemani.
Andra pun mengalah untuk hal ini, kepalanya pusing memikirkan adik sepupunya yang nasib dari anaknya itu nanti seperti apa jika kekasih Farah menolak untuk bertanggung jawab, Andra tentu tak memikirkan baiknya saja karna yang utama tentu buruknya dulu untuk antisipasi.
.Kamu baik-baik ya, aku pulang dulu, biar nanti mobilmu ku urus besok. Yang penting kamu harus istirahat dan tak boleh melakukan apapun yang merugikan dirimu sendiri, paham?!" pesan Andra dengan sedikit nada ancaman.
"Iya, aku belum bisa memikirkan apapun untuk saat ini, jangan khawatir."
.
.
Andra yang pulang sedikit melamun selama perjalanan, otaknya sedang berpikir keras bagaimana caranya bisa memaksa kekasih Farah untuk bertanggung jawab karna entah kenapa ia merasa tak yakin untuk hal tersebut.
Ia menarik napas lalu dibuangnya perlahan sebelum masuk kedalam rumah, ia sebenarnya takut bertemu dengan Viana karna yakin wanita halalnya itu mengomel panjang kali lebar.
Ceklek
Andra membuka pintu dengan sangat pelan, lampu yang sudah temaram menandakan jika Pangeran pasti sudah tidur, itu wajar karena ini sudah waktunya anak batita itu terlelap.
Ia masuk tanpa mendekat ke ranjang tapi langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari tubuh yang kotor apalagi sepulang dari rumah sakit.
"Dari mana?" tanya Viana saat Andra sudah naik ke ranjang dan memeluknya dari belakang karna memang posisi wanita itu kini tidur menyamping.
"Maaf, ponselku lobet, Mom."
Andra yang tahu istrinya merajuk malah mengeratkan pelukan, ia ciumi tengkuk sembari usel usel manja tapi beberapa menit melakukan itu tetap tak ada respon dari Viana.
"Mom, kamu marah?" tanya Andra penuh sesal, ponselnya yang habis baterai membuat ia tak mengabari apapun.
"Kamu pasti tahu aku menunggumu kan?"
"Sayang, aku benar-benar minta maaf." Andra tentu tak tinggal diam, ia tarik tubuh Viana agar menghadapnya tapi sayang wanita itu malah meronta dan meminta Andra untuk diam.
Rasa kesal Viana tentu sangat beralasan, istri mana pun pasti akan merasakan hal yang sama jika sang suami pergi tanpa kabar berjam-jam dan sulit di hubungi seperti tadi, belum lagi Pangeran yang masih sedikit rewel tak mau lepas darinya, perasaan Viana yang campur aduk itu juga mempengaruhi sang putra yang ikut uring-uringan menambah beban dan rasa lelah Viana.
"Tidurlah, aku mengantuk."
"Maafkan aku dulu, aku tak ingin tidur dalam keadaan seperti ini, ku mohon, Mom," ucap lirih Andra yang semakin merasa sangat bersalah.
"Hem," sahut Viana hanya berdehem kecil.
Tak ingin Pangeran terbangun karna perdebatan mereka akhirnya Andra memilih mengalah, ia akan bicarakan ini lagi esok pagi saat Pangeran di bawa oleh Mami.
Tapi, merasa ada sesuatu yang mengganjal tentu membuat Andra tak bisa tidur, jika sedang begini justru malah membuat matahari sungguh lamban untuk terbit.
.
.
Andra yang tak tidur semalaman berkali-kali membuat susu dan mengganti popok Pangeran hingga menjelang, ia merutuk dirinya sendiri saat membayangkan kemarin Viana pasti sibuk mengurus Di bayi montok itu seorang diri.
"Si cantik sudah bangun?" goda Andra saat ia melihat Viana membuka matanya.
Awalnya Viana kaget dan bingung saat melihat jarum jam sudah sepagi ini, Andra sengaja tak menunggu Pangeran merengek meminta susu jadi bisa membuat Viana tidur bablas tanpa terganggu sama sekali karna se nyenyak apapun ia tidur akan tetap bangun jika sudah mendengar suara sang buah hati.
"Pangeran, mana?" tanya Viana saat hanya ada ia dan Andra saja di atas ranjang.
"Dibawa Mami buat dimandiin," jawab Andra.
Ia menarik tubuh Viana yang masih lemas untuk masuk kedalam dekapannya, wanita itu memang tak menolak melainkan diam saja bagian sebuah boneka.
"Sayang, harus berapa kali aku minta maaf?" tanya Andra masih memohon.
"Bukankah aku tak meminta maafmu? aku meminta penjelasan kemana kamu semalam dan kamu belum menjawabnya."
"Ok, aku akan bilang, tapi ku jangan kaget dan beritahu siapapun, Ok," kata Andra yang pasrah.
"Apa? apa yang terjadi?" tanya Viana.
.
.
.
Farah hamil, Mom.