
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Jodoh, rejeki dan maut memang sejatinya kuasa Tuhan, itu yang harus kita yakini sebagai manusia karna hanya nasib yang bisa di ubah bukan garis takdir sebab jangankan perjalan hidup yang panjang, jatuhnya daun dari pohon pun itu adalah utusan dan takdir dari yang maha Kuasa Sang pemilik semesta.
Begitu pula yang kini tengah di yakini oleh dua keluarga yang sama-sama sedang khawatir di sebuah rumah sakit pinggiran ibu kota. Betapa terkejutnya Bunda saat ia di datangi dua orang polisi yang mengatakan jika anak Sambungnya itu di larikan ke rumah sakit dari Klinik yang ternyata sedang di grebek oleh pihak yang berwajib atas laporan adanya korban meninggal akibat aborsi.
Wanita itu lemas dan hampir tak sadarkan diri karna bukan hanya Viana yang ia pikirkan tapi juga bayi tak berdosa yang ada di dalam rahim anak itu, mendengar kalimat Viana sedang ada di Klinik aborsi tentu tak perlu banyak bertanya lagi tentang untuk apa ia disana.
Kecewa?
Tentu, termasuk Andra yang terus menangis sambil di tenangkan oleh Ayah karna papinya tak bisa melepaskan pelukan sang istri yang sama shocknya.
Viana adalah menantu pilihan keluarga Bramasta yang sudah jelas bibit bebet bobotnya, tapi itu tentu hanya dari segi latar belakang karna hal yang paling terpenting justru mereka lupakan yaitu siapa Viana???
"Keluarga pasien?" tanya Suster yang baru keluar dari ruang pemeriksaan.
"Saya suaminya, Sus," jelas Andra sambil bangun begitupun dengan yang lainnya yang kini sama-sama mendekat kearah wanita yang berdiri di depan pintu.
"Nanti ikut saya bertemu dengan dokter karna pasien akan di pindah ke ruang rawat inap," jelas suster yang sedikit membuat dua keluarga itu merasa lega sebab itu sama artinya jika tak ada yang harus di khawatirkan dari Viana dan juga bayinya.
.
.
.
"Saya tak bisa menjamin keselamatan bayinya jika saja Nona Viana telat di bawa kemari, jadi tolong setelah ini hindari apapun yang membuatnya Stress dan tertekan karna itu semua sangat beresiko sekali," pesan dokter yang membuat satu tetes air mata jatuh lagi di pipi kanan Si calon ayah tersebut.
"Terimakasih, Dok, akan saya usahakan yang terbaik untuk anak dan istri saya," jawab Andra dengan perasaan sangat bersalah karna sudah membuat gadis yang ia nikahi akan senekat ini.
Andra bangun dan keluar dari ruangan dokter yang sudah membuat hatinya seolah menaiki rollercoaster, naik turun karna pernyataan pernyataan dari Dokter.
Ia berjalan dengan langkah gontai menuju ruang rawat inap istrinya yang di beritahu oleh suster, ia bingung harus bersikap apa pada Viana saat ini karna rasa kesal, kecewa, marah, dan kasihan bercampur jadi satu. Apalagi saat ia ingat sudah memberikan uang yang cukup banyak pada istrinya yang kini di yakini oleh Andra jika itu semua tak lain untuk biaya aborsi. Andra menyesali kebodohannya, andai ia bisa lebih memaksa Viana untuk jujur untuk apa uang tersebut mungkin ini tak akan terjadi.
.
.
.
Maaf, Vi... belum ada yang bisa ku berikan padamu termasuk ketenangan..