Let's, Divorce

Let's, Divorce
part 50



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Viana dan Andra yang hari ini izin tak masuk sekolah hanya menghabiskan waktu dirumah, banyak yang di inginkan Si ibu hamil termasuk membuat berbagai cemilan meski ujung-ujungnya hanya sebatas mencicipi karna yang menghabiskan tentu Bunda, Bibi dan pastinya Andra.


Seperti yang sedang Viana lakukan sekarang, ia sibuk di dapur sedang menggoreng beberapa aneka macam frozen food padahal baru saja selesai membuat salad buah yang akhirnya kini menumpuk di dalam kulkas.


"Anak kalian mungkin perempuan, Via jadi seneng masak gitu," bisik Bunda yang duduk di kursi meja makan bersama menantunya sedangkan Bibi sudah lebih dulu kabur karna merasa perutnya sudah sangat begah akibat kekenyangan.


"Apa aja, Bun. Buatku sama saja mau perempuan atau laki-laki asalkan sehat," jawab Andra, ia yang sebenarnya sama tak siapnya tentu tak pernah memikirkan hal tersebut yaitu memiliki anak di usia yang baru hampir 19tahun.


Awalnya Andra memang tak akan menyentuh istrinya sampai ia yakin ada cinta untuk pasangannya tersebut, tapi godaan terus datang setelah ia melihat tubuh molek dan mulus Viana, saat itu juga seakan mematahkan niatnya yang ternyata kalah oleh napsu, jika Viana bukan istrinya tentu ia tak akan seberani itu, tapi bisikkan jika semuanya halal di sentuh membuat Andra merenggut yang memang haknya meski belum waktunya.


"Kecapnya abis ya, Bun?" tanya Viana sambil menyajikan sepiring besar apa yang sudah ia goreng barusan.


"Masa sih?"


"Coba Bunda tanya Bibi dulu," balas Bunda yang baru saja mau bangun namun di cegah oleh Andra.


"Gak apa-apa, kalau habis biar Andra sama Via beli ke minimarket," ucapnya yang langsung membuat kedua wanita di depannya kini saling pandang.


"Aku?" tanya Viana sambil menunjuk dirinya sendiri.


Andra mengangguk seraya tersenyum, ia juga langsung bangun dan menghampiri Viana Sambil mengulurkan tangan, ia pun mengajak ulang istinya lagi seperti yang di katakannya barusan pada Bunda.


"Hem, aku ambil sweeter dulu."


"Kunci mobilku di meja belajar kamu tolong di ambil ya, Vi," titah Andra yang hanya di iyakan oleh Viana, kali ini Si calon ibu tak banyak protes seperti biasanya.


Sepeninggal Viana, Bunda dan Andra duduk kembali di kursi meja makan, wanita berhijab merah muga itu terus mengucapkan banyak terimakasih karna rasa pengertian menantunya tersebut.


"Bunda gak perlu khawatir, doakan saja Viana baik-baik saja, karna cuma itu yang aku pikirkan sekarang," ucap Andra.


"Syukur lah jika kamu sudah mau memprioritaskan Viana, Bunda senang dan merasa lega mendengarnya, tapi--," Bunda malah memotong ucapannya sambil menarik napas pelan.


"Tapi apa, Bun?" tanya Andra.


"Sifat Viana seperti itu, dia sedikit keras dan sulit untuk mengalahkan jika maunya begitu, tapi dia tetap baik hati, smoga kamu bisa sabar dan lebih bisa menjaga perasaannya yang sensitif. Bunda memamg belum pernah hamil tapi yang Bunda tahu wanita yang sedang mengandung itu memang naik turun perasaanya," jelas Bunda.


Andra hanya mengangguk paham, ia juga tahu hal tersebut dari Mami, karna sudah sangat jauh berpengalaman. Tanpa mereka sadar justru ada Viana yang mendengar obrolan mereka di balik dinding menuju dapur.


.


.


.


Selama perjalanan ke minimarket yang tak lebih dari 20 menit itu Viana tetap diam tak berucap sepatah kata pun, Andra yang memancing obrolan pun rasanya percuma karna mereka sudah mau sampai ke tempat tujuan.


"Terima kasih," ucap Viana yang kadang masih Canggung mengingat ia tak pernah berpacaran atau pergi dengan pria mana pun selama 18 tahun ia hidup di dunia.


Jika bisa di bilang Andra beruntung tentu itu benar adanya sebab ia mendapat perawan Viana mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Keduanya kini turun dari mobil dan masuk kedalam mini market yang tak jauh dari komplek perumahan rumah Viana. Andra yang mengambil keranjang malah di taruh lagi oleh Viana.


"Kenapa?" tanya Andra bingung.


"Kamu kan mau beli kecap doang, kenapa harus bawa keranjang sih?"


"Ya kan takutnya kamu mau beli yang lain, Vi," jawab Andra yang memang tak pernah perhitungan masalah uang, bahkan sampai ke minggu lalu ia tetap memberikan jatah jajan untuk istrinya tersebut.


Viana langsung menggelengkan kepala, ia sedang tak ingin apapun sejak pagi karna mencium apa yang ia masak sejak siang saja rasanya sudah cukup merasa Kenyang.


"Ya udah, kita makan aja kalau gitu, hari ini kamu belum makan nasi kan?"


"Hem, iya. Tapi aku mau sate ayam sama sop buntut," jawab Viana sadar tak sadar.


Andra mengambil satu bungkus kecap lalu di bayarnya di meja kasir sedangkan Viana sudah keluar dan masuk mobil lebih dulu setelah Andra memberikan kuncinya.


Kali ini tujuan mereka tentu tak pulang kerumah lebih dulu karna akan ke kedai makanan yang sedang di inginkan oleh Viana. Beruntungnya itu bukan makanan aneh dan sangat mudah di temukan padahal biasanya Bumil di awal kehamilan sering ngidam yang tak masuk akal, lontong sayur dan sate tentu buka hal yang sulit bagi Andra.


"Ini langgananku, Vi, sate sama sopnya enak," ujar Andra setelah mobil berhenti di area parkir.


"Langgananmu biasa makan dengan Haura, begitu?" tanya Viana yang sedang cari penyakit sendiri.


"Bukan, dia gak suka sate."


Hal yang serupa saat di minimarket pun di lakukan lagi oleh Andra, cukup terlihat manis bagi siapapun yang melihatnya.


Andra menggandeng tangan Viana untuk masuk ke dalam kedai yang nampak sepi karna ini bukan jam makan siang dan makan malam.


Mereka yang diantar ke salah satu meja langsung di persilahkan untuk duduk. Seperti yang di mau Viana tadi, ia memesan satu porsi sate dan sop buntut sedangakan Andra hanya nasi goreng jeroan saja. Semua yang sudah di pesan tinggal menunggu di hidangkan. Tapi saat pelayan sudah pergi beberapa langkah Viana justru memanggilnya kembali.


"Iya, Mbak, ada yang mau di tambah?" tanya Si pelayan.


.


.


.


Enggak, saya cuma mau Sate ayam saya biar dia nih yang kipasin.