Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 115



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Wahana permainan pun di sepakati oleh Andra, Viana dan Farah. Tak ada satupun yang curiga pada si ibu hamil muda tersebut padahal jika di perhatikan tubuhnya sudah jelas berbeda, pinggangnya yang rata dengan bagian dada yang bulat menantang menjadi ciri khas umum pada wanita yang sedang mengandung.


"Mau mampir ke minimarket gak?" tawar Andra saat mobil mewahnya baru saja keluar dari komplek perumahan tempat tinggal adik sepupunya itu.


"Mau beli sesuatu, Rah?" tanya Viana juga sambil menoleh ke belakang saat gadis itu tak menjawab juga.


"Hem, boleh deh."


Lima menit berselang, kendaraan itupun berhenti di minimarket pinggir jalan. Hanya Viana dan Farah yang turun sedangkan Andra tetap di dalam mobil bersama Pangeran.


Viana yang masuk lebih dulu langsung mengambil keranjang kuning untuk wadah belanjaaan mereka. Tak terlalu banyak yang di ambil karna untuk cemilan selama di perjalanan.


"Makan ini boleh gak sih?" tanya Farah saat di tangannya ada satu bungkus kripik kentang pedas.


"Boleh asal jangan terlalu banyak, tapi kalau bisa yang rasa original aja, sama aja kok enaknya," jawab Viana tersenyum, tentu ia tak berani melarang melainkan menawarkan yang jauh lebih baik.


"Oh, ia juga sih, aku ambil rasa keju aja deh," jawabnya dengan kekehan kecil sedangkan Viana hanya tersenyum simpul.


Makanan dan minuman yang di beli dan di pilih Viana aman untuk Si Bumil, ia juga tak ingin egois membeli yang enak di mulutnya saja karna takut Farah justru ingin mencicipi, begitupun dengan minuman, yang di ambil Viana cukup air mineral jus buah dan teh manis dalam kemasan kotak kecil.


"Ada lagi?" tanya Viana sebelum mereka pergi ke meja kasir.


"Cukup, itu saja," Sahut Farah sedikit menggelengkan kepala.


Viana langsung melakukan transaksi pembayaran dengan menggunakan card milik suaminya yang memang selama ini ia yang simpan. Kini, wanita itu tak lagi mendapat jatah uang jajan bulanan melainkan semua sudah di serahkan Andra pada istrinya. Pria itu percaya jika Viana bisa nengolah keuangan mereka dengan baik karna selama ini juga Viana tak pernah menghamburkan uang, ia beli apa yang yang ia butuh meski kadang harganya fantastis tapi bisa di pakai dalam jangka lama karna ada harga tentu ada kualitas.


"Terimakasih, Mbak," ucap Viana saat kasir menyerahkan struk belanjaan dan card.


"Sama-sama, Kak, silakan datang kembali."


Dua kantong plastik pun di bawa Farah dan Viana siling satu menuju mobil yang tertarik, tapi semua di taruh di kursi belakang bersama dengan Farah.


Mesin mobil pun kembali dinyalakan saat Pangeran sudah berpindah ke pangkuan Mommy nya dengan tawa lebarnya ia sudah tak sabar menerima satu biskuat.


"Endut mau?" goda Viana yang di jawab anggukan kepala, bukan buru-buru memberikan Si cemilan ia malah menciumi kedua pipi bulat Pangeran seraya terus bersyukur dalam hati karna malaikat kecilnya tumbuh sehat dan mengemaskan.


Andra yang melihat itupun langsung tersenyum kecil, begitu juga dengan Farah yang tanpa sadar mengusap perutnya terasa besar jika sedang duduk seperti ini, apa yang Farah saksikan didepan matanya seakan menjadi pengingat diri jika ia juga punya nyawa lain didalam tubuhnya yang harus di jaga dengan baik.


Perjalanan yang hampir satu jam itupun akhirnya sampai, ketiganya turun dengan Andra langsung mengambil alih Pangeran dari gendongan istrinya.


Kini, bocah montOk itu sudah jarang sekali betah berlama-lama di stroller, Pangeran lebih senang di gendong atau di tuntun berjalan meski paling lama hanya 5 menit.


Ketiganya terus berjalan sambil berusaha menyenangkan diri masing-masing, jarang sekali mereka bisa keluar rumah satu hari full seperti ini di tengah jadwal kuliah yang begitu padat sebab biasanya Viana memilih di rumah saja bermain dengan Pangeran untuk menebus semua kesibukannya selama sibuk menuntut ilmu.


"Mau naik apa?" tanya Andra saat sudah berada di tengah tengah wahana permainan.


"Pengen naik Rollercoaster," jawab Farah yang langsung mendapat tatapan tajam dari kedua kakak sepupunya tersebut.


"Ups, salah ya?" kekehnya kemudian sambil menutup wajah dengan kedua tangan.


Pangeran yang senang terlihat beberapa kali bertepuk tangan, begitu banyak yang di lihatnya sampai ia terus menerus mengulas senyum yang menambah kelucuannya saat ini, dan itu lagi dan lagi menjadi pusat perhatian orang di sekelilingnya.


"Dadd, ke sana yuk," ajak Viana sambil menarik tangan suaminya untuk ikut dengannya ke salah satu wahana permainan yang cocok untuknya dan juga untuk Pangeran.


"Kamu mau naik ini?" tanya Andra.


"Iya, aku main komedi putar sama Pangeran," jawabnya sambil mengajak Farah juga.


"Oh, ok, tapi ada syaratnya," bisik Andra tepat di telinga Viana dengan senyum penuh arti.


"Syarat apa?" tanya wanita itu yang mulai tak enak hati karna Aura kemesuman jelas terasa.


Siang ini naik kuda, tapi nanti malam naik aku ya...