
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ya, kenapa harus Viana?
Apakah karna Andra tak mencintainya, jadi pria itu bisa sesuka hati menghancurkan semua impian yang sudah tersusun rapih termasuk pernikahan indah yang selama ini ia bayangkan sejak mulai tumbuh menjadi anak remaja yang perlahan tahu apa itu arti jatuh cinta.
Kini, satu persatu semuanya gugur begitu saja saat ada pria asing mengucap janji setia didepan ayah kandungnya yang menjadi wali atas pernikahan mendadak yang alami oleh Viana.
Entah kapan kesepakatan itu berlangsung karna tiba-tiba ia diminta untuk memakai baju kebaya lalu duduk mendengarkan seseorang mengikrarkan ijab qabul untuknya.
"Apa kalian pernah bertanya padaku satu kali saja, tentang apa yang ku rasakan selama ini, bahagia atau tidak denganmu?" tanya Viana dengan sorot mata yang kali ini begitu teduh dan siapapun yang melihatnya pasti akan merasa kasihan padanya.
"Apa kalian pernah memberikanku pilihan?" sambungnya lagi yang kini air matanya juga mulai jatuh di pipi bagian kiri.
"Aku yang kebingungan sendiri, hanya di beri satu arah oleh kalian yang mau tak mau aku ikuti tanpa kalian tanya, apa aku siap berjalan kesana?"
Kini mulai lah terdengar isakan pilu di sela ucapan Viana yang mengutaran isinya hatinya, harusnya sejak awal ia mengatakan ini tapi nyatanya tak ada yang mau mendengarkannya karna yang semua orang tahu ia terlihat baik baik saja.
"Apa aku terlihat egois? disaat aku hanya ingin tetap waras menghadapimu karna aku sadar aku masih punya tanggung jawab lain yaitu menjadi seorang siswi SMA Pelita Harapan. Aku mau Lulus dengan hasil yang baik untuk Ayah dan Bunda, tapi apa yang aku dapatkan? melihatmu terus bersama--," Viana menghentikan ucapannya sambil menghampus air mata, sedangkan Andra masih menunduk tak berniat memotong semua keluh kesah istrinya sampai selesai nanti.
"Haura! apa artinya aku yang berstatus kan istrimu sedangkan sainganku adalah gadis dalam hatimu?, apa kamu sadar namanya sering kamu sebut dalam mimpimu? kenapa, apa semua itu karna namanya sudah tak ada dalam doamu, iya?!"
"Banyak yang ku pikirkan meski katanya aku tak perlu khawatir karna kamu dan khususnya keluargamu sudah menjamin masa depanku, tapi apa kalian pernah bertanya aku ingin apa setelah ini?"
"Viana, kamu--,"
"Stop! aku belum selesai bicara, Andra," potong Viana yang masih membiarkan tangannya di genggam padahal wajahnya sudah sangat basah oleh air mata.
"Aku paham, kita punya rasa sakit yang sama, Vi."
"Sama? sama apanya? aku tak pernah sakit sebelum bertemu denganmu, masuk kedalam hidupmu dan di paksa menghancurkan hubunganmu dengannya, aku begitu tenang sebelum ini, aku hanya belajar, sekolah, nonton, main, jajan dan Shoping, aku juga bukan siswi populer yang banyak di bicarakan murid lain, Andra. Cukup! aku pernah bahagia tanpamu," ujar Viana penuh penekanan.
"Maaf, aku benar benar-benar minta maaf. Memang seharusnya aku tak bersedia menikahimu, seharusnya aku mundur dan menyerah pada perasaanku tanpa melibatkanmu. Aku tak menyangka semua akan serumit ini karna awalnya aku akan terus belajar menerimamu," jelas Andra yang memang penuh dengan rasa sesal.
.
.
.
Kan sudah ku bilang, kamu tak bisa menggenggam dua hati di satu tangan yang sama...Kini, salah satunya justru sudah hancur berantakan.