
Cakra
Sepanjang perjalanan pulang, Anja terus saja berceloteh tentang rencana melahirkan yang baru saja dibicarakan dengan dokter Stella.
"Kamu kenapa tadi bengong waktu aku bilang mau Caesar?"
Ia hanya menoleh sekilas ke arah Anja untuk melemparkan senyum kecut. Sebelum kembali berkonsentrasi dengan lalu lintas padat di malam minggu.
"Kalau lihat video orang melahirkan tuh serem-serem banget tahu," lanjut Anja sambil bergidik ngeri.
"Kayaknya tuh sakiiiiit banget."
"Namanya juga bertaruh nyawa, Ja," jawabnya tanpa ada maksud lain. "Jaminannya syurg...."
Tapi Anja justru langsung memukul lengannya dengan sekuat tenaga.
"Kamu tuh ya! Kalau ngomong yang bener dong!" salak Anja dengan wajah cemberut.
"Mau nakut-nakutin aku?!" omel Anja sambil kembali memukul lengannya.
"Bukan nakutin, Ja," ujarnya dengan mata menatap lurus ke depan karena kondisi lalu lintas yang cukup padat.
"Sesuai ungkapan kalau syurga ada di bawah telapak kaki ibu. Itu karena seorang ibu berjuang antara hidup dan mati waktu melahirkan seorang anak. Jadi....," namun kalimatnya menggantung di udara karena Anja mendadak hening. Tak lagi mengomel panjang pendek.
Membuatnya menoleh ke samping. Dan mendapati Anja tengah menerawang di kejauhan.
"Kamu kenapa?" tanyanya khawatir. Karena tak biasanya Anja langsung terdiam begitu saja ketika mereka sedang beradu argumen. Biasanya Anja akan mati-matian mempertahankan pendapat meski jelas-jelas keliru.
Ya, begitulah. Perempuan selalu benar bukan?
"Kamu harusnya tanggung jawab!" gumam Anja dengan wajah keruh.
"Aku begini kan gara-gara kamu!" lanjut Anja yang kembali memukuli lengannya.
"Harusnya kamu yang melahirkan anak! Bukan aku!" gerutu Anja sambil terus memukuli lengannya.
"Kamu enak!" kini Anja beralih memukuli bahunya. "Aku yang sakit!"
Ia yang awalnya pusing 7 keliling usai mengetahui perkiraan biaya melahirkan secara Caesar jadi tertawa mendengar alasan kemarahan Anja.
"Kamu tuh ya!" Anja makin keras memukuli bahunya. "Ngeselin banget! Mau enaknya sendiri!"
Bertepatan dengan lampu merah yang menyala, tangan mungil Anja mulai kelelahan memukul. Dan berhenti sama sekali.
Membuatnya mengulurkan tangan kiri. Menelusup di sela gerai rambut Anja. Lalu meremas lembut tengkuk sehalus sutera itu. Berusaha menenangkan Anja agar tak terlalu overthinking tentang segala hal yang berhubungan dengan proses melahirkan.
"Pokoknya aku nggak mau kesakitan!" gumam Anja dengan mata kembali menerawang.
"Harus melahirkan lewat operasi Caesar!" lanjut Anja sambil menoleh dan menatap tepat di kedua matanya.
Ia hanya bisa melempar seulas senyum penuh kebingungan. Seraya memberi remasan terakhir di tengkuk Anja. Sebelum kembali berkonsentrasi dengan kemudi.
Malam hari usai membuat seluruh permukaan kulit seputih susu Anja merona hingga mendesiskan namanya berkali-kali.
Rasa kantuk tak kunjung datang. Kedua matanya terus saja menatap nyalang langit-langit kamar yang bercat putih bersih. Sembari sesekali melihat brosur yang diambil dari Rumah Sakit petang tadi.
Dalam brosur berwarna pink itu tertulis dengan lengkap tarif biaya melahirkan. Sesuai dengan kelas perawatan yang di pilih.
Ia telah berkali-kali membaca isi brosur. Namun tetap terkejut ketika melihat jumlah angka 0 di belakang titik dari tiap jenis perawatan yang disediakan.
Persalinan Normal (3 hari) :
Kelas III :Rp13.400.000
Kelas II. : Rp16.000.000
Kelas I. : Rp18.200.000
Kelas VIP. : Rp23.400.000
Kelas VVIP B: Rp27.100.000
Kelas VVIP A: Rp28.600.000
Kelas Suite. : Rp38.400.000
Persalinan Caesar (4 hari)
Kelas III. : Rp27.800.000
Kelas II. : Rp 30.400.000
Kelas I. : Rp35.100.000
Kelas VIP. : Rp42.300.000
Kelas VVIP B: Rp47.300.000
Kelas VVIP A: Rp49.300.000
Kelas Suite. : Rp62.000.000
Tarif persalinan sudah termasuk biaya perawatan ibu dan bayi. Namun tidak dengan administrasi, kamar observasi, alat-alat kesehatan, obat-obatan dan faktor penyulit.
Sementara Anja telah bersikukuh untuk melahirkan melalui operasi Caesar. Anja bahkan sudah memesan kamar untuk melahirkan tanggal 11 Juli mendatang.
Dan tak mungkin memilih perawatan kelas III. Karena room perawatan Anja ketika dirawat tempo hari adalah kelas suite.
Ia pun kembali melemparkan pandangan ke atas langit-langit kamar dengan perasaan gamang. Lalu mulai berhitung di dalam hati.
Tapi meski sudah diputar dan dibolak-balik sedemikian rupa. Sampai dihitung ulang berkali-kali. Tetap saja perkiraan jumlah uang yang bisa dimilikinya. Takkan cukup untuk membayar biaya melahirkan Anja.
Dan fasilitas asuransi kesehatan yang kelak diterimanya dari PT AxHM, jelas disesuaikan dengan posisinya sebagai karyawan kontrak. Tak mungkin mencapai kelas perawatan level tinggi seperti yang biasa dinikmati Anja.
Semoga ada jalan keluar, batinnya sambil memandangi wajah Anja yang telah terlelap di sampingnya.
-------
Senin, 1 Juni 2xxx
Dengan berat hati ia terpaksa mengikuti perintah Mas Sada. Berangkat ke Sunter menggunakan salah satu motor yang selama ini hanya terparkir di dalam garasi.
Dan dari sederet motor sport ber cc besar, motor trail, dan motor jenis cruiser. Ia sengaja memilih motor matic agar tak terlalu menarik perhatian.
Semata-mata karena ia tak ingin di cap membangkang pada kakak ipar. Atau dianggap tak memikirkan keselamatan diri. Meski sebenarnya motor GL-Pro miliknya masih layak untuk dibawa jalan jauh dan pulang pergi setiap hari.
"Hati-hati di jalan," Anja melepas kepergiannya sambil tersenyum melambaikan tangan.
Membuatnya memulai hari dengan hati membuncah dipenuhi kebahagiaan.
Begitu sampai di kantor AxHM Sunter, ia dan beberapa calon karyawan baru lain yang kebetulan datang bersamaan, langsung diarahkan untuk menuju ke ruang makan di lantai 2. Tempat diadakannya psikotest tempo hari.
Tepat pukul 08.00 WIB, seorang petugas mulai membuka acara. Diawali dengan pemberian ucapan selamat kepada mereka semua yang telah menyelesaikan rangkaian rekrutmen dengan baik. Hingga bisa bergabung dengan keluarga besar PT Axtra Homda Motor.
Usai sambutan yang disampaikan oleh perwakilan dari Human Resources Division PT AxHM. Acara pemberkasan dan tanda tangan kontrak pun dimulai.
Nama mereka dipanggil satu per satu sesuai nomor urut ketika mengikuti psikotest tempo hari.
Setelah itu wajib menyerahkan berkas-berkas yang disyaratkan. Guna melengkapi berkas yang telah lebih dulu mereka kumpulkan ketika briefing sebelum training minggu lalu.
Kali ini ia tinggal memperlihatkan KK asli dan menyerahkan beberapa lembar pasfoto.
Begitu pengecekan kelengkapan berkas selesai. Barulah ia bisa menandatangani kontrak kerja. Dimana tulisan yang paling diingat adalah,
...PASAL 1...
PIHAK KEDUA akan dipekerjakan oleh PIHAK PERTAMA sebagai karyawan kontrak dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) selama 10 bulan terhitung tanggal 1 bulan Juni tahun 2xxx sampai dengan tanggal 1 bulan April tahun 2xxx.
Selama masa kontrak, masing-masing pihak dapat memutuskan hubungan kerja dengan pemberitahuan minimal 7 (tujuh) hari kalender.
................
...PASAL 5...
PIHAK KEDUA memperoleh gaji pokok dan tunjangan dari PIHAK PERTAMA sebesar
Gaji Pokok. : Rp xxx
Premi Kehadiran. : Rp xxx
Uang Makan. : Rp xxx
Tunjangan lain. : Rp xxx
Overtime. : Rp xxx
Yang akan dibayarkan pada setiap tanggal 28 bulan berjalan.
Dan,
Tunjangan transportasi sesuai intensitas kehadiran.
Yang akan dibayarkan pada setiap tanggal 15 bulan berjalan.
Alhamdulillah, batinnya ketika melihat nominal angka yang tertera di dalam surat kontrak kerja.
Dengan uang sejumlah yang tertulis, ia yakin akan mampu menafkahi Anja dengan lebih layak dibandingkan saat ini.
Kemudian dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, ia pun membubuhkan tandatangan di atas surat kontrak.
Kemudian membuka rekening Bank Berlian sebagai rekanan dari PT AxHM dalam prosedur penggajian. Hingga ia bisa memperoleh buku tabungan dan kartu ATM saat ini juga.
Terakhir, petugas memberinya ID Card, baju seragam, juga sepatu.
Ia ditempatkan di plant 1 Sunter bagian assembly. Dan 2 minggu pertama mendapat jatah kerja di shift 1. Yaitu jam 07.00 sampai 16.00 WIB.
Alhamdulillah, itu artinya ia masih bisa melakukan ibadah sahur dan buka puasa di rumah bersama Anja. Meski Anja memutuskan untuk tidak puasa sesuai rekomendasi dari dokter Stella kemarin. Dan akan menggantinya dengan membayar fidyah.
Paling tidak, ini akan menjadi bulan Ramadhan pertama yang dilaluinya bersama Anja tersayang.
Can't hardly wait.
Setelah seluruh proses pemberkasan dan penandatanganan kontrak selesai. Ia dan 19 orang lain yang sama-sama ditempatkan di bagian assembly mendapat kesempatan untuk mengelilingi pabrik. Sekaligus berkenalan dengan Pak Veby sebagai Supervisor section (line). Mas Abeng Foreman. Dan Bang Nugie sebagai checkman assembly.
Ketika ia mulai berjalan mengelilingi pabrik mengikuti langkah Mas Abeng dan Bang Nugie, seseorang menepuk punggungnya dari belakang.
Dan begitu menoleh, 3 orang sekaligus sedang tersenyum lebar padanya. Mereka pastinya adalah Sarip, Theo, dan Sidik.
"Panjang umur lu," ujar Sarip sambil menyeringai.
"Kirain udah dibawa terbang bidadari ke khayangan," seloroh Sidik sambil nyengir kuda.
"Nggak bakalan balik lagi," sambung Theo ikut-ikutan menyeringai.
Sialan! Mereka bertiga pasti memergokinya memeluk Anja di depan pintu gerbang keluar SIAP Academy hari Jum'at kemarin.
Ia hanya balas menyeringai dan kembali berjalan mengikuti Mas Abeng yang sedang memberi penjelasan singkat tentang line yang sedang mereka lewati.
Selain mengelilingi pabrik dan memberi penjelasan tentang tiap section yang ada. Mas Abeng dan Bang Nugie juga menerangkan cara kerja di bagian assembly.
Assembly sendiri adalah bagian produksi yang merakit dan memasang sub-part pada produk. Seperti memasang clip, cushion, merakit part, ultrasonik, screw tapping, dan lainnya.
"Selama seminggu ke depan kalian masih dalam masa training dan pengawasan," tutur Mas Abeng.
"Nanti kalian memperhatikan proses produksi dan belajar mengerjakan jobdesk dengan pendampingan."
"Minggu depan target sudah lolos training semua. Menguasai jobdesk masing-masing."
"Siap terjun langsung untuk bekerja yang sesungguhnya."
"Siap," jawab mereka ber 20 hampir bersamaan.
Jelang sore mereka sudah diperbolehkan pulang. Untuk mempersiapkan diri masuk kerja pada esok hari.
"Mampir ITC yuk," Theo punya ide. "Syukuran kecil-kecilan abis tanda tangan kontrak."
"Cakep!" Sidik setuju. "Hitung-hitung munggahan lah kita botram."
"Kemon, kita makan-makan di hari terakhir sebelum puasa," Sarip juga setuju. "Sebelum besok mulai jadi pejuang rupiah."
Tapi ia menggelengkan kepala, "Sori, gua cabut duluan."
"Jiah!" Sarip mencibir. "Masih sore mau kemana?!"
"Bini nunggu di rumah."
Sontak ketiga orang di depannya tergelak sambil memegangi perut.
"Jadi bidadari itu bini lu?" tanya Sarip dengan ekspresi kepo akut setelah menuntaskan tawanya.
"Masih ada stok nggak yang kayak gitu?" Theo ikut bertanya dengan antusias.
"Abi ge hoyong (saya juga mau)," seru Sidik tak mau kalah.
Tapi ia hanya melambaikan tangan dan melangkah pergi menuju ke tempat parkir. Tak mempedulikan Sarip, Theo, dan Sidik yang masih saja berseloroh sembari berteriak memanggil-manggil namanya.
Perjalanan pulang sejauh hampir 30 KM yang biasa ia tempuh dalam waktu 1 jam lebih. Kini bisa ia lalui hanya dalam waktu kurang dari 45 menit.
Jalanan tak sepadat biasanya. Mungkin karena besok adalah hari pertama puasa. Banyak orang yang memanfaatkan hari libur sebelum puasa untuk mudik ke kampung halaman. Atau sekedar berkumpul dengan keluarga di rumah.
"Gimana?" tanya Anja dengan mata berbinar ketika ia memasuki rumah lewat teras samping.
Ia tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Membuat Anja yang sedang duduk di sofa ruang tengah langsung menghambur ke dalam pelukannya.
"Akhirnya....kamu sekarang dukung aku buat kerja," selorohnya lega setelah mereka sama-sama duduk di sofa ruang tengah.
Tapi Anja justru menggelengkan kepala, "Masih fifty-fifty."
Membuatnya sontak tertawa.
"Aku masih berharap kamu bisa lanjut kuliah," gumam Anja sambil menatapnya lekat-lekat.
"Tapi lihat kamu seneng," jari telunjuk Anja menekan cuping hidungnya keras-keras. "Aku jadi ikutan seneng."
Ia tersenyum sambil mengeluarkan buku tabungan Bank Berlian dan kartu ATM dari dalam tas. Kemudian menyerahkannya pada Anja.
"Apaan?"
"Kamu yang pegang."
"Aku kan udah pegang ATM BLI kamu?" Anja balik bertanya.
"Kalau gitu tukeran," ia tersenyum. "Yang di BLI belum ada yang mau transfer lagi."
Anja mencibir sambil memperhatikan kartu ATM berwarna hijau muda yang sedang dipegangnya.
"Ditransfernya tiap tanggal 15 sama 28."
"Kamu sebulan gajian dua kali?" Anja mengernyit.
Ia tersenyum mengangguk. "Tadi udah aku daftarin nomor ponsel kamu buat M-banking. Biar ada notifikasi masuk."
Anja kembali memandangi kartu ATM berwarna hijau muda yang sedang dipegangnya sambil menghembuskan napas panjang.
Malam hari jelang adzan Isya, ia dan Anja baru saja keluar dari pintu gerbang rumah. Hendak mengikuti sholat Tarawih perdana di Masjid Baiturrahman, yang berada di dalam kompleks perumahan.
Ketika dari arah seberang, terlihat Dipa, Pak dan Bu Hartadi juga baru saja melangkah keluar gerbang.
Ia pun segera menghampiri Pak dan Bu Hartadi untuk bersalaman. Namun tetap saling membuang muka dengan Dipa.
"Aduh, Neng cantik mau ke Masjid juga?" ujar Bu Hartadi sambil merangkul bahu Anja.
"Utun udah besar begini apa nggak kecapekan nanti diajak sholat Tarawih?" lanjut Bu Hartadi sambil mengusap perut Anja.
"Kalau cape nanti istirahat, Tante," jawab Anja sambil tersipu malu.
Lalu Anja dan Bu Hartadi berjalan terlebih dahulu. Sementara ia, Dipa, dan Pak Hartadi mengiringi dari belakang.
Sepanjang perjalanan menuju ke Masjid, Anja dan Bu Hartadi terus saja saling bercerita sambil tertawa kecil. Sementara ia hanya sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Pak Hartadi.
"Kerja di mana sekarang?"
"Pabrik, Pak."
"Pabrik mana?"
"Di Sunter."
"Axtra?"
Ia tersenyum mengangguk.
"Bagian apa?"
"Operator produksi."
Selama Pak Hartadi bertanya, sudut matanya sempat menangkap wajah Dipa yang mengeras.
"Besok baru hari pertama kerja, Pak," tambahnya mencoba memberi informasi yang faktual.
Di luar dugaan, Pak Hartadi menepuk bahunya sambil berkata, "Apapun pekerjaannya, kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan dari hati, kelak bisa kamu petik hasilnya."
"Mungkin nggak sekarang. Atau mungkin baru kamu rasakan bertahun-tahun yang akan datang."
"Tapi kamu harus tahu, di dunia ini nggak ada yang sia-sia."
Ia menganggukkan kepala dengan sopan. Sementara sudut matanya lagi-lagi menangkap wajah Dipa, yang tiba-tiba berubah kesal seperti orang sedang menahan marah. Dan siap meledak kapan saja.
Selebihnya mereka bertiga berjalan dalam diam. Tak lagi bercakap-cakap. Hanya sesekali terdengar tawa renyah Anja dan Bu Hartadi.
Karena mereka harus bergegas. Agar bisa segera sampai di Masjid. Sebab adzan Isya telah berkumandang di kejauhan.
***
Keterangan :
Clip. : klip pengait gir pada sepeda motor
Cushion. : sejenis shockbreaker
Ultrasonik. : sistem keamanan sepeda motor menggunakan sensor ultrasonik
Screw tapping : sekrup yang dapat digunakan pada aplikasi baja