
Cakra
Ia menatap buku bersampul cokelat yang diletakkan oleh Papa Anja ke atas meja dengan penuh tanda tanya.
"Mumpung Papa ingat," begitu Papa Anja membuka pembicaraan.
"Tadinya mau Papa kasihkan kemarin waktu Idul Adha. Tapi waktunya mepet."
Ia tetap bergeming dan duduk dengan tegak. Namun sudut matanya terus saja memperhatikan buku bersampul cokelat. Yang warna sampulnya telah lusuh dan tergulung di bagian sudut.
Ia seperti pernah melihat buku itu. Tapi lupa di mana dan kapan.
Meski telah berusaha keras mengerahkan seluruh ingatan. Namun pikirannya masih belum bisa menemukan jawaban. Dimana gerangan ia pernah melihat buku itu.
"Ini Papa anggap sebagai buku takdir kalian berdua."
Ia menatap Papa Anja tak mengerti.
"Ceritanya panjang," Papa Anja menghembuskan napas yang terdengar begitu berat.
"Lain waktu saja Papa ceritakan. Karena malam ini harus istirahat."
"Besok ke Bandung jam berapa?"
"Setelah Subuh, Pa."
Papa Anja mengangguk-angguk tanda mengerti, "Tolong simpan buku ini baik-baik. Mumpung Papa masih ada umur. Masih bisa kasihkan langsung ke kamu."
"Nanti tolong ingatkan Papa, kalau ada waktu luang."
"Biar Papa ceritakan semua yang harus kalian ketahui."
Ia mengangguk.
"Sekarang....," kini Papa Anja meletakkan setumpuk map yang berwarna-warni ke atas meja.
"Ma?" tapi Papa Anja justru memanggil Mama Anja. "Mama?"
Dengan tergopoh-gopoh Mama Anja masuk ke ruang Perpustakaan melalui connecting door.
"Mana kacamata Papa?"
Mama Anja tersenyum sambil menggelengkan kepala. Tanpa mengucap sepatah katapun mengambil kacamata yang tersimpan di dalam laci meja. Lalu menyerahkannya pada Papa Anja.
"Papa sudah selesai cerita?" tanya Mama Anja seraya melihat ke arahnya.
Papa Anja tertawa, "Belum."
"Lho, kok belum? Katanya mau cerita?"
Papa Anja menunjuk ke arah jam dinding, "Sudah malam. Besok Cakra mau berangkat ke Bandung habis Subuh."
"Iya Cakra?" Mama Anja beralih melihat ke arahnya. "Jalan ke Bandung habis Subuh?"
"Iya, Ma," ia mengangguk.
"Lho, barangnya baru mau diantar jam delapanan," Mama Anja mengernyit. "Pas kantor buka."
"Barang apa?" Papa Anja menoleh tak mengerti.
"Itu...biasa, buat persediaan makanan," jawab Mama Anja yang langsung meraih ponsel di atas meja. Lalu beranjak ke luar dari ruang Perpustakaan, sambil berbicara melalui ponsel.
"Ma? Nanti kalau sudah selesai langsung ke sini," seru Papa Anja yang dibalas dengan lambaian tangan oleh Mama Anja.
Kini Papa mulai memilah-milah tumpukan map berwarna-warni. Memilih satu yang berwarna cokelat. Lalu mengangsurkan map tersebut ke hadapannya.
"Papa sudah memusyawarahkan semua dengan Tama dan Sada."
"Mereka berdua sudah setuju."
"Kamu nggak perlu khawatir."
Ia menatap Papa Anja dengan gugup.
"Kamu ingat tanah yang di Cihideung dan villa istana bunga kemarin?"
Ia mengangguk.
"Ini sertifikatnya," Papa membuka map yang tersimpan di hadapannya.
Dimana terdapat buku berwarna hijau seukuran kertas folio. Dengan logo burung Garuda berwarna kuning yang cukup mencolok di bagian atasnya. Di bawah tulisan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia.
"Papa hibahkan seluruhnya untuk Aran."
Ia langsung tertegun begitu mendengar kalimat yang diucapkan oleh Papa Anja. Sama sekali tak mengira akan ke sini arahnya.
"Hibah (pemberian) biasa," lanjut Papa Anja. "Bukan hibah wasiat."
"Sedang diurus akta hibahnya sama Om Lindan."
"Jadi bisa langsung dibalik namakan atas nama Anja."
"Karena menurut Undang-undang, Aran dianggap belum memiliki kecakapan sebab masih di bawah umur."
Ia masih tertegun menatap Papa Anja. Sama sekali tak tahu harus bersikap bagaimana atau merespon dengan kalimat yang seperti apa.
"Kenapa Papa melakukan ini?" Papa Anja seolah mengerti apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya.
Namun Papa Anja sempat menghela napas panjang sebelum berkata dengan wajah menyesal, "Karena sebelum Papa pergi, ingin memastikan Aran memperoleh haknya."
"Kamu tahu sendiri, status Aran sebagai anak di luar nikah."
Ia menelan saliva dalam beberapa hitungan sekaligus sampai hampir tersedak.
"Aran nggak punya hak waris terhadap kamu, ayahnya sendiri."
"Dan Aran dinasabkan pada ibunya, yaitu Anja."
Ia masih menelan saliva yang terasa panas ketika melewati tenggorokan.
"Papa hanya ingin Aran bisa menjalani hidup yang sama seperti saudara-saudaranya yang lain."
"Besok barang dikirim Subuh sama Tono," suara Mama Anja tiba-tiba menyeruak ke dalam ruangan.
"Untung Iren sudah nyuruh anak-anak buat packing. Jadi besok Subuh tinggal diambil," lanjut Mama Anja seolah sedang bicara seorang diri. Karena ia dan Papa Anja sama-sama mematung dalam diam.
"Sudah beres?" kini Mama Anja telah mendudukkan diri di sebelah Papa Anja.
"Baru yang di Cihideung," jawab Papa Anja sambil menunjuk pada map berisi sertifikat tanah yang bersampul warna hijau.
Mama mengangguk.
"Ini sudah," Papa menutup map yang berisi sertifikat tanah.
Kemudian menggantinya dengan map berwarna merah yang berada di bawahnya.
"Sekarang ini," lanjut Papa Anja sambil membuka map berwarna merah. Yang berisi lembaran kertas seperti ijazah sekolah miliknya. Namun dengan logo Selera Persada dan tulisan berfont besar berbunyi, Surat Saham Atas Nama.
"Selera Persada itu sahamnya 60 keluarga kita, 20 keluarga Raka, 10 keluarga Iren, dan 10 lagi milik seorang kolega," ucap Papa seraya menunjuk kertas bertuliskan surat saham.
"60 sudah Mama kalian bagi tiga sama rata."
"Tama, Sada, Anja, masing-masing 20."
"Dan mungkin memang sudah jalannya, tiba-tiba kolega kami berniat menjual seluruh kepemilikan saham."
"Sakit," gumam Mama Anja. "Karena sakit."
Papa Anja mengangguk, "Ko Affu namanya. Teman lama Papa."
"Beliau sampai sekarang belum menikah dan tak memiliki anak."
"Beberapa bulan terakhir sudah mulai sakit-sakitan."
"Ya... seperti Papa kamu ini. Sudah sama-sama tua."
"Mungkin karena khawatir nggak keburu waktunya, Ko Affu memutuskan untuk menjual seluruh saham yang dimiliki."
Ia kembali menelan saliva dengan ekspresi gugup.
"Papa yang beli semua," Papa Anja tersenyum. "Sepuluh persen."
"Papa hibahkan semuanya untuk Aran."
"Jadi nanti 60% bertiga antara Tama, Sada, Anja. 20% keluarga Raka. 10% keluarga Iren. Dan 10% terakhir menjadi hak milik Aran. Cucu Papa."
Ia hanya bisa terlolong saking tak menyangkanya.
"Tolong diterima ya, Cakra," Mama Anja tersenyum. "Pengalihannya masih diurus sama Om Lindan, notaris keluarga kita."
"Nanti kalau sudah beres semua, kami serahkan pada kalian berdua untuk disimpan dengan baik."
Kini Mama Anja tak lagi tersenyum. Tapi beralih menatapnya lekat-lekat.
"Titip untuk Aran ya, Cakra," gumam Mama Anja dengan wajah yang berubah sedih.
"Mungkin kami nggak bisa melihat Aran sampai tumbuh dewasa," Mama Anja bahkan mulai terisak.
"Tolong sampaikan pada Aran, kami berdua sangat menyayangi Aran, walau apapun yang terjadi."
***
Anja
Ia memandang punggung Cakra yang menghilang di balik pintu. Sedetik kemudian beralih menatap meja belajar. Yang terlihat penuh dengan barang-barang miliknya.
Termasuk seikat mawar merah yang sangat cantik.
Ia tersenyum sendiri saat memperhatikan mawar merah, yang keharumannya bahkan tercium hingga ke atas tempat tidur.
Kemudian buru-buru mengikatkan kembali tali kimono yang sempat terlepas karena ulah Cakra barusan. Lalu beranjak mendekati meja belajar.
Ia mengangkat seikat mawar merah dan memeriksanya.
"Hmm, nggak ada kartunya," cibirnya usai memeriksa tiap celah bunga, berharap menemukan selembar kartu berisi ucapan manis. Namun kenyataannya tak ada.
"Dasar nggak romantis," ia kembali mencibir sambil memutar-mutar dan menciumi aroma keharuman bunga.
Lalu tiba-tiba, ting! Kepalanya mendadak dipenuhi oleh setumpuk ide cemerlang.
----------------------
Ia sempat melihat ke arah jam Junghans yang berada di ruang tengah, 22.35 WIB. Sebelum melangkah ke kamar Teh Cucun.
"Teeeh, udah bobo beluuum?" tanyanya sambil mengetuk pintu.
"Den Aran rewel?"
Ia menggeleng. Lalu tersenyum penuh arti, "Mau minta tolong sama Teh Cucun."
Teh Cucun balas meringis campur mengernyit, "Minta tolong apa Neng Anja?"
Ia meminta kesediaan Teh Cucun untuk menemani Aran sampai pagi. Termasuk menghangatkan ASIP jika Aran menangis meminta nen.
"Sekaliii ini aja ya, Teh," ia celingak-celinguk. "Sssttt...jangan bilang-bilang sama Mama lho."
Teh Cucun menganggukkan kepala berkali-kali dengan penuh semangat, "Asiaaaap, Neng Anja."
Lalu berbisik sambil terkikik, "Mumpung Den Cakra pulang kan. Kapan lagi?"
"Tenaaang, Den Aran mah dijamin aman sama Cucun."
Ia mencibir campur malu melihat reaksi Teh Cucun. Tapi Teh Cucun justru mendorongnya agar segera mempersiapkan diri.
"Biar Cucun beresin dulu di lantai atas, Neng."
"Sok kebul (berdebu) kalau lama nggak dipakai."
Ia mengangguk setuju, "Makasih banyak, Teh Cucun."
Teh Cucun tersenyum lebar sembari mengacungkan jempol, "Demi pejuang LDR, Neng. Siap laksanakan."
Lalu mereka terkikik bersama.
---------------------------------
Ia sedang menyapukan lip balm ke seluruh permukaan bibir, ketika pintu kamar terbuka, disusul dengan masuknya Cakra.
"Mau kemana, Neng?" seloroh Cakra begitu melihat penampilannya.
"Sssttt!" ia mencibir sambil terus menyapukan lip balm secara merata ke seluruh permukaan bibir.
"Udahan ngobrol sama Papanya?" kini ia beralih menyemprotkan parfum ke pergelangan tangan dan belakang telinga.
Cakra mengangguk sambil menatapnya heran, "Cantik amat sih Neng, mau ke mana?"
Tapi ia hanya mencibir, "Ngobrol apa aja?"
Cakra menghela napas panjang sebelum menjawab dengan nada suara yang terdengar bimbang, "Banyak. Aku nggak pernah nyangka kalau Papa ma...."
"Eits!" ia segera menghentikan ucapan Cakra. "Ceritanya ntar aja."
Cakra tertawa melihat reaksinya. Tapi sedetik kemudian mengernyit,"Eh, Aran kenapa dipindah ke box?"
"Biar bobonya nyenyak," jawabnya sepintas lalu.
"Yah, nggak bisa dipeluk dong," kini Cakra tengah memperhatikan Aran yang tertidur lelap.
Tapi ia keburu menarik tangan Cakra agar menjauh dari box Aran.
"Mau ke mana, Ja?" Cakra tertawa ketika ia terus menarik tangan Cakra sampai keluar dari kamar.
"Abang udah pernah ke atas belum?"
Cakra mengangkat alis dengan wajah bingung.
"Di lantai paling atas tuh, ada tempat paling asyik tahu nggak sih," gumamnya yakin seraya menarik tangan Cakra agar menaiki tangga.
"Aran?" Cakra menghentikan langkah mereka sambil menunjuk ke pintu kamar. "Ditinggal?"
"Ada Teh Cucun," jawabnya setengah berbisik.
Cakra sempat menatapnya bingung. Tapi sedetik kemudian justru tergelak.
"EH!" ia buru-buru membungkam mulut Cakra dengan sebelah tangah. "Ketawanya jangan keras-keras. Nanti orang-orang pada bangun!"
Cakra masih menyelesaikan tawa meski tanpa suara. Namun sejurus kemudian justru menarik tangannya dengan setengah berlari menaiki tangga.
***
Cakra
Terus terang baru kali ini ia naik ke lantai teratas rumah Anja. Ia bahkan baru tahu jika rumah Anja terdiri dari dua setengah lantai. Dimana lantai teratas berbentuk dak. Dikelilingi oleh tanaman bunga dalam pot. Namun yang paling menarik tentu saja adalah sebuah rumah kayu beratap kaca, yang terletak di salah satu sudut.
"Hadiah ulang tahunku yang ke sepuluh," gumam Anja sambil membungkukkan punggung agar bisa masuk ke dalam rumah kayu.
"Waktu itu di sekolah lagi hits kemping kemping gitu deh," lanjut Anja yang telah duduk di atas karpet bulu tebal.
"Tahu sendiri Mama sama Papa nggak ngebolehin aku ikut kemping apa nginep di rumah temen."
"Jadinya dibuatin ini deh sama Papa."
Ia tersenyum sambil membungkukkan punggung agar bisa masuk ke dalam rumah kayu. Yang meski sudah terlihat lapuk, tapi sama sekali tak berkesan usang.
Diedarkannya pandangan ke seluruh sudut rumah kayu. Berukuran sekitar 3x2 meter, tinggi kurang lebih 1,5 meter, berlantai parket, dilapisi karpet bulu tebal. Lengkap dengan meja kecil, yang di atasnya berdiri gelas tinggi berisi bunga mawar. Lilin aromaterapi. Sepiring churros con chocolate. Dan dua gelas air putih.
Ia tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Tapi Anja justru mencibir, "Tadi Abang bilang mau bahas soal yang tadi."
"Sekarang kita bahas," lanjut Anja seraya melipat tangan di depan dada. "Aku udah siap."
Ia masih tersenyum. Tapi dengan gerakan cepat berhasil menarik Anja untuk duduk di atas pangkuannya.
Anja sempat memberontak dan menyikut ulu hatinya. Namun perlahan mulai mengendur. Dan akhirnya pasrah saja direngkuh sedemikian rupa.
"Mau bahas yang tadi?" bisiknya tepat di telinga Anja.
Anja mengangguk.
"Jadi siapa yang salah?"
"Dua-duanya," jawab Anja sambil setengah menggeliat. Sebab ia telah membenamkan diri ke dalam bahu Anja.
"Abang jelas salahnya paling banyak," lanjut Anja setengah mencibir.
Ia tergelak dengan bibir menempel di bahu Anja.
"Udahlah cueknya amit-amit, lost contact, kurang koordinasi, datang-datang malah marah."
"Siapa marah?" tanyanya ingin tahu. Sembari mencecapi rasa manis di sepanjang leher Anja.
"Abang lah, siapa lagi."
"Gimana nggak marah, lihat istrinya jalan sama cowok lain?!"
"Ya tapi nggak pasang tampang serem trus mukulin orang seenaknya."
Ia terkekeh, "Aku juga kena pukul."
"Rasain!"
Ia kembali terkekeh, "Mulai besok ke kampus diantar jemput sama Pak Cipto. No debat."
"Aku tuh nebeng Dipa bukan tanpa alasan," Anja menoleh ke samping hingga membuat hidung mereka hampir bersentuhan.
"Kasihan sama Papa Mama kalau ada perlu pergi keluar, tapi Pak Cipto lagi nganterin aku."
"Dipa juga coret," gumamnya sembari menatap mata Anja dalam-dalam.
Anja balas menatapnya dengan kening mengkerut.
"Pagi diantar Pak Cipto," ia mencoba memberi solusi. "Trus Pak Cipto pulang ke rumah."
"Sesiangan bisa nganterin Papa sama Mama kalau mau pergi-pergi."
"Lalu sorenya, pas Neng cantik yang satu ini mau pulang," ia menyentuh cuping hidung Anja.
"Pak Cipto udah stand by lagi di kampus."
Anja menatapnya setengah mencibir.
"Deal?"
Anja tak lagi menatapnya. Justru menyandarkan kepala di atas bahunya.
"Apa aku pindah ke Bandung aja ya?"
"Kenapa?" ia mengernyit.
"Nggak enak ternyata jauhan. Cape."
Ia mencium rambut Anja hingga keharumannya memenuhi rongga hidung, "Aku aja yang ke Jakarta."
"Eh, jangan!" Anja menggeleng. "Udah susah-susah dapat beasiswa UKT masa mau ditinggalin sih?!"
Ia menghela napas membenarkan ucapan Anja.
"Tahun depan aku nyoba SBM lagi deh," Anja mendongak hingga mata mereka bertautan.
"Ambil yang di Bandung."
Ia tersenyum getir, "Tapi aku belum bisa biayain kuliah kamu, Ja."
Anja mendesah. Lalu kembali menyandarkan kepala di bahunya.
Sejenak keheningan tiba-tiba menyeruak di antara mereka.
"Kita jalani dulu apa yang ada di depan mata," ia kembali mencium rambut harum Anja.
"Dan kita selesaikan dulu apa yang ada di depan mata," lanjutnya sambil melakukan gerakan tak terduga namun menyenangkan.
***
Keterangan :
Tanya (T) : Mengapa Papa Anja memilih hibah biasa bukan hibah wasiat?
Jawab (J) : Karena Hibah Wasiat hanya dapat dilaksanakan setelah pewaris meninggal dunia (sumber : hukumonline.com).
Sedangkan Papa Anja ingin langsung membalik namakan sertifikat tanah menjadi atas nama Aran.
Karena Aran yang berstatus sebagai anak lahir di luar nikah, tidak mendapat hak waris dari ayahnya (yaitu Cakra). Dan di nasabkan pada ibunya (yaitu Anja).
Papa Anja hanya ingin memastikan, jika Aran memperoleh hak sebagai salah satu cucunya.