
Sada
Sebagai pemegang fasilitas Miles Platinum dari sebuah maskapai penerbangan. Maka ia berhak untuk menikmati fasilitas executive lounge yang terletak di Terminal 3 Domestik Bandara Soekarno-Hatta.
Airport lounge yang besar dan panjang ini terpantau cukup ramai. Ia pun memilih mendudukkan diri di quiet zone yang terletak di bagian tengah lounge. Setelah sebelumnya meraih sebuah koran berbahasa Inggris dan dua buah majalah tentang politik serta bisnis dan marketing dari rak yang tersimpan di salah satu sisi dinding.
Sementara Dara sedang pergi mengambil minuman juga kudapan.
"Aku kok lapar terus ya, Mas," gumam Dara begitu mereka memasuki gate tadi.
"Jadi curiga nih, jangan jangan....."
Ia terkekeh meski Dara tak melanjutkan kalimatnya.
"Banyak anak banyak rezeki," gumamnya yakin.
Yang langsung disambut dengan cubitan di lengan.
Jadilah begitu sampai di lounge, Dara langsung menghambur ke drinks station untuk menuntaskan rasa lapar dan dahaga.
"Mas mau dibawain apa?" tawar Dara sebelum beranjak.
"Yang seger seger deh kalau ada," jawabnya. "Sehari udah minum kopi tiga kali soalnya."
"Salad ya," Dara mengangguk setuju. "Popcorn mau nggak?"
"Salad aja deh. Banyakin buah yang asem," tambahnya.
"Waduh, kamu yang ngidam Mas?!" tuduh Dara sambil mengkerut. "Jadi tambah curiga nih."
Namun ia hanya tertawa sambil menggelengkan kepala.
Sepeninggal Dara ke drinks station, ia pun mulai membuka-buka majalah tentang bisnis dan marketing yang sempat diambil.
Tapi bukannya membaca isi artikel, ingatannya justru melayang pada pembicaraan dengan Cakra tentang prospek makanan Melayu.
Anak 19 tahun itu sepertinya cukup cerdas. Terlihat dari bagaimana cara menjawab pertanyaan dan mengemukakan pendapat. Not bad lah.
Meski hatinya sedikit kesal ketika memeriksa rekaman CCTV di rumah Papa. Dimana beberapa tayangan menggambarkan dengan jelas jika Cakra sering memasuki kamar Anja saat malam hari. Kira-kira apa yang mereka lakukan di dalam kamar? Mengisi TTS? Yang benar saja.
Dengan daya tarik Cakra yang lumayan besar. Tak mungkin mereka berdua tak melakukan apapun di malam sunyi. Menggelikan memang. Karena sudut hatinya merasa tak rela jika Anja telah beranjak dewasa. Dan kini sudah menjadi milik orang lain.
Terlebih ketika ia bertanya pada Mang Jaja tentang keadaan rumah. Yang dijawab dengan hampir terjadinya perkelahian antara anak-anak di malam hari ulang tahun Anja.
Membuatnya menulis memo untuk disimpan di pos jaga Satpam. Agar tamu yang masuk ke dalam rumah harus melalui persetujuan Anja terlebih dahulu. Jika tidak, maka tak diperbolehkan masuk.
Satu-satunya cara untuk meminimalisir kejadian serupa terulang lagi. Karena jika tebakannya benar. Sampai saat ini Anja masih menyembunyikan status pernikahannya di antara teman-teman sekolah.
"Salad spesial buah yang asem asem," tiba-tiba suara riang Dara mampir di telinganya. Seraya menyerahkan sepiring salad yang menggoda.
"Makasih sayang," gumamnya senang.
Dara tersenyum mengangguk.
"Kamu makan apa?" tanyanya tertarik melihat isi mangkuk Dara yang mengeluarkan aroma harum bawang goreng.
"Ngebaso dong biar cenghar," seloroh Dara sembari menyantap baso dengan lahap. "Mas mau?"
"Enggak," gelengnya cepat. "Nanti kalau mau ambil sendiri."
Dara pun mengangguk dan kembali menyantap baso. Sementara ia membaca majalah sambil sesekali melahap salad.
"Tadi ngobrol apa sama adik ipar," seloroh Dara setelah menuntaskan semangkuk mie baso hingga licin tandas.
"Kayaknya seru banget nih?"
Sontak membuatnya tertawa sumbang.
"Aku masih nggak yakin sama dia," gumamnya setelah sempat terdiam lama.
"Bagian mananya yang nggak yakin?" Dara tersenyum.
Namun ia menggelengkan kepala, "Nggak bisa dijelaskan sama kata-kata."
"Tapi secara personality gimana menurut Mas?" tanya Dara. "Setelah beberapa kali ketemu dalam suasana berbeda."
Ia lagi-lagi tak langsung menjawab. Karena sedang mengingat beberapa kali pertemuannya dengan Cakra.
Pertama, waktu ia tahu Anja hamil dan tanpa basa basi langsung menyikatnya. Cakra terlihat tak berdaya dan sangat ketakutan. Itu manusiawi.
Kedua, waktu di ruang Satreskrim Polres Metro. Lagi-lagi masih terlihat ketakutan. Sangat wajar untuk orang yang telah berbuat kesalahan fatal yang sangat besar.
"Mas?" Dara tertawa. "Kok malah ngelamun sih?"
"Menurut kamu?" ia justru balik bertanya. "Apa udah lolos screening psikolog kita yang satu ini?" tambahnya seraya berseloroh.
"Yang pasti dia jujur," jawab Dara yakin. "Kalau kuncinya udah kepegang, yang lain tinggal mengikuti sih."
"Terbukti Anja nggak pernah ngeluh tentang sikap Cakra kan?" tambah Dara retoris.
"Anja justru sibuk mikirin gimana nanti nasib sekolah dan kuliahnya."
"Itu tandanya, perlakuan Cakra bisa diterima Anja. Nggak ada masalah."
Ia melahap potongan buah terakhir sambil menggelengkan kepala, "Tapi belum teruji."
"Seiring waktu, Mas. Wait and see."
"Dengan taruhan Anja terluka?"
"Enggak lah, Mas," Dara menggelengkan kepala tanda tak setuju. "Aku yakin Cakra nggak akan melukai Anja."
"Ada jaminannya?"
"Dari beberapa kali ngobrol santai, aku tangkap EQ nya lumayan bagus," jawab Dara yakin. "Bukan tipe anak muda tak tentu arah yang nggak ngerti apa itu masa depan."
Tawa sumbangnya langsung meledak demi mendengar representasi Dara tentang Cakra. Too much.
"Memang itu bukan jaminan," lanjut Dara cepat sebelum ia sempat berkomentar.
"Tapi minimal kita tahu kalau Cakra aman secara emosional. Meski dengan latar belakang keluarga yang seperti pernah Mas bilang kemarin."
"Tapi darah itu kental," sergahnya cepat.
"Memang," Dara mengangguk setuju.
Namun kembali melanjutkan, "Sama posisinya seperti keimanan yang nggak bisa diturunkan."
"Kejahatan....," Dara membentuk kode tanda kutip dengan dua tangannya. "Kalau memang apa yang dilakukan ayah Cakra dianggap sebagai kejahatan."
"Juga tak bisa diturunkan," sambung Dara yakin.
"Apalagi itu semua terjadi jauh sebelum Cakra bisa mengerti apa itu dunia. Masih bayi, Mas."
"Terlalu dini untuk bisa mengadopsi perilaku seperti yang dilakukan ayahnya."
"Kalau memang Mas khawatir di sisi ini," Dara tersenyum. "Aku yakin ini hanya bentuk kekhawatiran berlebih Mas saking sayangnya sama Anja."
"Ya kalau di sisi ini aku paham sih, kalau dia bersih," jawabnya mengakui.
"Sama sekali nggak ada kaitan atau hubungan lagi dengan masa lalu ayahnya," tambahnya kemudian.
"Nah," Dara kembali tersenyum senang. "Satu simpul sudah terbuka."
"Sekarang apalagi kekhawatiran Mas?"
"Nggak bisa diterjemahkan pakai kata-kata, sayang," jawabnya gemas. "Intinya dia sama sekali nggak meyakinkan aja."
Dara menganggukkan kepala, mungkin sedang berusaha memahami kekhawatirannya. Mereka sempat berdiam selama beberapa saat, sebelum Dara kembali berkata.
"Tapi jaman sekarang, Mas," Dara menggelengkan kepala. "Perilaku seseorang benar-benar nggak bisa ditebak."
"Ada begitu banyak faktor mempengaruhi. Dan faktor-faktor itu bertingkat nggak cuma berdiri sendiri. Saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain."
"Aspek dari luar diri juga dari dalam."
"It's very very complicated."
Membuatnya menghembuskan napas panjang.
"Apa ini berarti, aku harus mengakui kalau Anja bukan anak kecil lagi yang harus selalu dilindungi?" tanyanya masygul.
"Sekaligus sudah menjadi milik orang lain?" sambungnya tak rela.
Dara tersenyum menatapnya, "Seumur hidup Anja tetap adik kecil yang harus kamu lindungi, Mas."
"Tapi beda porsi," Dara masih tersenyum.
Ia kembali tertawa sumbang tak mengerti.
"Mungkin kalau dulu, Mas harus melindungi Anja 24 jam 7 hari," lanjut Dara dengan suara tenang.
"Tapi sekarang, peran itu pindah ke Cakra."
"Mas cukup dengan memberi kepercayaan penuh pada mereka. Bahwa semua akan berjalan sebagaimana mestinya."
"Dan aku tahu kalau Mas orang yang murah hati," jawab Dara tak kalah cepat.
Namun ia hanya menghela napas panjang tak menjawab ucapan Dara.
"Satu yang penting, Mas," Dara kembali tersenyum.
"Beri ruang yang cukup agar Cakra bisa membuktikan pada kita semua kalau dia mampu melakukan tugas dengan baik."
"Yaitu menjaga dan melindungi Anja."
Ia hanya tertawa sumbang sembari menggelengkan kepala.
"Ini latihan tahu nggak, Mas," seloroh Dara mungkin demi melihatnya masih tegang.
"Nanti, bertahun-tahun kemudian," gumam Dara setengah berbisik. "Jika waktunya Lana tiba."
"Ketemu jodoh, terus menikah. Apa ya Mas mau megangin Lana terus sementara udah ada suami."
Kali ini ia tertawa sungguhan. Yang benar saja, Lana anak ketiganya sekarang baru berusia 4 tahun. Kalimat yang diucapkan Dara mungkin baru akan terjadi belasan tahun kemudian. Dengan catatan ia panjang umur dan masih sehat wal 'afiat.
Dara pun tersenyum menggoda, lalu berkata yakin, "Meski caranya salah, tapi karakter Cakra kuat."
"Anja bersama orang yang tepat, Mas."
"Leave them alone."
"And go get your own life."
Membuatnya terbahak sembari menggelengkan kepala demi mendengar kalimat yang Dara ucapkan.
"You and me," bisiknya yakin dengan sedikit kerlingan. "Tonight....."
"Your wish is my command, Sir!" jawab Dara tak kalah yakinnya.
Membuat mereka kemudian tergelak bersama.
Mungkin Dara benar. Jika ia harus mulai memberi ruang sekaligus kepercayaan pada Cakra. Tak mudah memang, tapi bukan berarti tak mungkin.
***
Cakra
Ia tersenyum sembari ujung jarinya menelusuri wajah Anja yang terpejam. Kulit sehalus bayi itu terlihat segar merona dan makin bersinar. Lengkap dengan beberapa titik keringat yang menghiasi kening dan beberapa helai anak rambut.
"Katanya mau belajar?" bisiknya pelan.
Anja menggeliat dengan mata tetap terpejam. Kemudian bergumam pelan, "Ya ampun, Cakra...kamu tega banget deh. Orang lagi cape masa disuruh belajar sih."
Ia terkekeh mendengar jawaban Anja. Berhasil memancing telunjuknya untuk menyentuh cuping hidung menawan di hadapannya.
"Kamu yang bikin aku cape, malah ngajak belajar," gumam Anja lagi dengan mata tetap terpejam.
Membuatnya kembali terkekeh. Namun selintas kemudian ia teringat sesuatu.
"Kira-kira bahaya nggak kita sering begini?" tanyanya sedikit khawatir. Meski ketika melakukannya selalu berusaha agar jangan sampai menyakiti perut Anja.
"Tahu," jawab Anja dengan suara parau karena sudah setengah tertidur.
"Besok mesti kita tanya ke dokter, Ja. Khawatir ngaruh ke baby nya."
"Kamu nanya aja sendiri," meski dengan mata tetap terpejam, namun Anja masih bisa menyahut kalimatnya dengan tepat.
Membawa tangannya untuk menyentuh perut polos Anja.
"Udah lumayan besar, Ja," gumamnya sambil tersenyum. "Tapi kalau kamu pakai sweater masih nggak terlalu kelihatan."
"Hmmmm....," gumam Anja malas. Namun sedetik kemudian membelalakkan mata. Membuatnya tertawa karena reaksi tak terduga Anja.
"Orang mau tidur malah diajak ngobrol terus!" sungut Anja dengan wajah mengkerut.
Namun ia hanya tersenyum sambil menatap mata indah itu lekat-lekat. Begitu pula Anja. Dan selama beberapa saat, mereka hanya saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Anja lebih dulu tersadar untuk kemudian menyentuh rahangnya, "Kenapa ngelihatin terus?" sungut Anja membuatnya tertawa.
"Cantik," jawabnya sungguh-sungguh.
Namun Anja hanya memutar bola mata seraya mencibir. Membuatnya berinisiatif untuk meraih tangan Anja yang masih menyentuh rahangnya.
"Masih dipakai?" gumamnya senang demi melihat Anja masih mengenakan cincin pemberiannya.
"Nggak gatal?" tanyanya lagi seraya mengusap jari manis dimana melingkar cincin darinya.
Anja menggelengkan kepala.
Ia masih mengusap jari mungil itu ketika Anja berkata, "Kamu mau janji?"
"Tentang?"
"Setelah lulus langsung kuliah."
Ia tak langsung menjawab. Sempat terdiam selama beberapa saat. Pura-pura sibuk mengusap jemari Anja.
"Aku pasti kuliah, Ja," pada akhirnya ia menjawab meski sama sekali tak yakin.
"Setelah lulus langsung kuliah," ulang Anja lagi dengan nada lebih tegas.
"Kalau kamu khawatir biaya," Anja terdiam sebentar. "Kamu bisa daftar SBMPTN bidikmisi."
"Harus ada rekomendasi dari sekolah," jawabnya pahit.
"Tinggal minta," sahut Anja cepat.
"Aku udah di black list."
"Nanti aku bilang ke Mas Tama biar...."
Ia menggelengkan kepala tak setuju. "Ini nggak ada hubungannya sama Mas Tama."
"Mas Tama yang bakal bilang ke pihak sekolah biar black list kamu dibuka."
"Black list itu akibat kelakuanku sendiri. Kenapa jadi Mas Tama yang harus buka?"
"Kamu ngeselin!" sungut Anja dengan wajah kesal.
"Memang," jawabnya seraya terkekeh.
"Keras kepala."
"Baru tahu?"
Anja tertawa sumbang.
"Aku pasti kuliah," ujarnya dengan nada yang sama sekali tak meyakinkan.
"Tapi untuk sekarang, yang penting kalian berdua," lanjutnya seraya menyatukan jemarinya dengan Anja.
"Daftar sekolah kedinasan aja!" seru Anja tiba-tiba. "Kamu nggak perlu khawatir soal biaya."
"Tapi harus tinggal di Asrama," jawabnya sambil tersenyum. "Nanti kalian berdua gimana?"
"Gampang," sahut Anja cepat. "Di sini ada banyak orang. Aku nggak bakalan sendirian."
Namun ia tak lagi menanggapi. Hanya diam sambil menatap Anja yang juga tengah memandanginya lekat-lekat.
"Kamu punya modal," gumam Anja sambil terus menatapnya. "Nggak boleh di sia-siakan."
"Aku juga punya tanggung jawab," ujarnya selintas kemudian. "Nggak boleh ditinggalkan."
"Males deh ngomong sama kamu!" gerutu Anja sambil memberengut. "Nggak pernah mau kalah!"
Ia hanya tersenyum samar.
"Udah ah, aku mau tidur. Ngantuk!" sungut Anja seraya memejamkan mata.
Namun hingga beberapa saat kemudian, matanya masih saja nyalang memandangi paras Anja yang kini telah terlelap dengan mulut setengah terbuka. Ciri khas Anja jika sudah tertidur nyenyak.
Perlahan disapukannya ujung jari menelusuri tulang pipi Anja hingga dagu. Meluncur bebas di atas kulit sehalus sutera.
Masa depannya jelas berada di sana. Meski masih diselimuti oleh kabut yang cukup tebal. Membatasi jarak pandangnya. Tak mampu melihat lebih jauh lagi.
Begitupula dirinya saat ini. Ucapan Mas Sada ketika tadi mengantarnya ke Bandara tentang,"Terserah kamu mau menjalani pernikahan seperti apa."
Berhasil menyibak tirai gelap gulita yang selama ini menutupi pandangannya tentang masa depan. Berganti menjadi kabut tebal karena masih menyisakan dua rintangan lain. Yaitu Mas Tama dan restu Papa Anja jika telah pulih.
Mampukah melewatinya? Atau memilih menyerah pada keadaan seperti yang selama ini ia lakukan?
***
Keterangan :
Cenghar : sadar secara penuh (Bahasa Sunda)
EQ. : Emotional Quotient, kecerdasan emosional