Beautifully Painful

Beautifully Painful
149. Forever Yours



Anja


Sambil bertopang dagu ia memperhatikan gerik Cakra. Yang kini tengah menyimpan tumpukan celana panjang, kaos, dan kemeja ke dalam travel bag. Lalu menyusunnya satu per satu dalam lipatan yang tergolong cukup rapi.


"Beneran nih nggak butuh bantuan?" tanyanya dengan tetap bertopang dagu. Terus memperhatikan Cakra yang masih merapikan susuan baju di dalam travel bag.


Cakra tertawa, "Nggak usah."


"Udah kamu tidur aja. Ntar malam-malam Aran bangun nggak kedengeran lagi."


Ia mencibir. Sebab seringkali tak langsung terbangun ketika Aran menangis. Justru Cakra yang lebih dulu terjaga, lalu membangunkannya.


Hei, jangan protes dulu.


Terus terang sepanjang malam, ia selalu merasa mengantuk dan lelah. Tiap bertemu bantal inginnya tertidur lelap tanpa adanya gangguan. Terlebih dari suara jerit tangis Aran yang begitu kencang selaksa tujuh oktaf.


Tapi apa daya, bayi merah berpipi bulat itu sepertinya selalu merasa lapar. Hampir dua jam sekali ia harus bangun untuk mengASIhi.


Meski lebih sering sembari terkantuk-kantuk. Bahkan Cakra harus senantiasa siaga memegangi Aran di pangkuannya. Menjaga agar jangan sampai terguling lalu terjatuh. Sebab ia memberi ASI sembari tertidur.


Ternyata oh ternyata, mengurus bayi selama 24 jam benar-benar menguras tenaga. Padahal banyak bala bantuan yang menemaninya merawat Aran. Ada Mama, Teh Cucun, bahkan Cakra. Tapi tetap saja ia merasa kelelahan.


Dasar dirinya.


"Lagian besok kamu mau antre lama," lanjut Cakra yang kini sedang mengecek kelengkapan dokumen yang hendak dibawa ke Bandung. Agar jangan sampai ada yang tertinggal.


"Buruan tidur. Biar nggak kecapekan."


Tapi ia justru bangkit. Lalu meraih beberapa kaos dan celana milik Cakra yang masih tersimpan di atas tempat tidur. Dan mulai menyusunnya di dalam travel bag.


"Dibilang suruh tidur juga," Cakra mengacak puncak kepalanya lembut.


Tapi ia hanya mencibir, "Kamu bawa jaket berapa? Cuma dua?"


"Aku mau ke Bandung, Ja," seloroh Cakra yang justru menangkup kedua pipinya lembut. "Bukan ke Timbuktu."


"Idiiih!" ia kembali mencibir.


"Bandung dingin tahu!" sungutnya sembari berjalan menuju ke arah lemari. Lalu memperhatikan deretan baju Cakra yang masih tersimpan rapi di dalam lemari. Dan memutuskan untuk menarik dua buah sweater berhoodie.


"Bawa yang ini ya," tanpa menunggu persetujuan dari Cakra, ia segera meletakkan sweater tersebut ke dalam travel bag.


Cakra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ketika melihatnya mengacak-acak tumpukan baju yang telah tersusun rapi di dalam travel bag. Lalu menambahkan beberapa potong baju seenaknya tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu pada si empunya.


Yang pasti, niat baik untuk membantu Cakra packing, bukannya mempercepat proses tapi justru memperlama.


"Nih udah," ujarnya dengan penuh kepuasan. Setelah berhasil menambahkan banyak barang ke dalam travel bag Cakra.


Lalu memilih untuk naik ke atas tempat tidur. Dengan seenaknya meninggalkan begitu saja travel bag Cakra yang penataannya kembali acak adut tak karuan.


"Awas lho jangan ada yang dikurangi," ancamnya sambil -pura-pura- merengut.


"Apalagi dikembaliin ke lemari," lanjutnya yang telah merebahkan diri di atas tempat tidur. Memandangi Aran yang telah terlelap.


Sama sekali tak pernah menyangka, jika Cakra malah menyusulnya melompat ke atas tempat tidur. Bukannya membereskan isi travel bag agar esok bisa siap diangkut ke Bandung.


"Kok malah tiduran sih?!" tanyanya sambil menoleh ke belakang.


Tapi Cakra tak menjawab. Justru melingkarkan lengan hingga mengelilingi tubuhnya. Lalu menenggelamkan wajah dalam-dalam di sepanjang lehernya.


"Cakra, ihh!" ia mengendikkan bahu karena merasa kegelian.


Sebab janggut kasar Cakra yang belum bercukur terasa menyarut-nyarut lehernya. Ditambah hembusan napas hangat yang meniup-niup lembut. Hingga menimbulkan sensasi gelenyar aneh yang meresahkan.


"Cakra...."


"Hmmm...."


Disaat Cakra menjawab hmmm, bulu kuduknya sontak meremang.


"Kenapa malah begini sih?!" sungutnya berusaha menafikkan diri dari godaan yang tak terbantahkan.


"Bukannya beberes!" ia kembali mengendikkan bahu agar Cakra melepaskan diri. Tapi yang ada malah lengan Cakra kian erat merengkuhnya.


"Kamu baik-baik di sini ya," Cakra memilih menggumamkan hal lain. Daripada meladeni protesnya.


Ia masih berusaha melepaskan diri. Namun sentuhan lembut Cakra di sepanjang garis lehernya, berhasil menghentikan semua keinginan konyol agar bisa terbebas. Sebab hati tak mengijinkan. Lebih memilih untuk tetap direngkuh seperti ini.


"Rasanya nggak mau jauh-jauh dari kamu sama Aran," gumam Cakra lagi dengan bibir menempel di tengkuknya.


"Jaga diri baik-baik," Cakra masih terus bergumam.


"Jangan ceroboh," namun kini nada suara Cakra mendadak berubah seperti bapak-bapak yang sok tahu.


"Aku nggak bisa langsung datang kalau kamu kenapa-napa."


Ia tersenyum dengan dada berdesir. Hampir terbuai dengan suasana yang melenakan. Namun masih bisa menguasai diri. Dan memilih untuk mengatakan hal yang lain seperti,


"Besok begitu nyampai Bandung, tolong jidat kamu ditulisi sold out (terjual, disini artinya : sudah ada yang memiliki)."


Cakra terkekeh-kekeh di balik tengkuknya. Lalu menjawab dengan nada yang teramat meyakinkan, "Forever yours (selamanya milikmu)."


***


FKG (fakultas kedokteran gigi) mendapat jadwal registrasi pukul 08.00 WIB. Namun dua jam sebelumnya, ia dan Cakra telah meluncur ke jalan raya. Membelah lalu lintas pagi yang bahkan telah dikepung oleh kemacetan khas ibukota.


Sebelum berangkat, ia sudah mengASIhi Aran sampai kenyang. Sekaligus memastikan jika Aran akan baik-baik saja di rumah. Meski harus ditinggal selama kurang lebih lima sampai enam jam. Sebab ia harus mengikuti registrasi administrasi.


Mama juga telah memintanya untuk mengenakan breast pad, agar produksi ASI yang melimpah tak sampai merembes membasahi baju. Lalu membekalinya breast pump elektrik lengkap dengan cooler. Sekaligus mewanti-wanti, jika ia paling tidak, harus menyempatkan diri untuk memompa ASI tiap dua jam sekali.


"Welcome to the greatest Jakun (selamat datang di kampus terbaik)," seloroh Cakra ketika melajukan kemudi melewati Gerbatama (gerbang utama). Kemudian membuka kaca jendela untuk mengambil tiket parkir.


"Pak, kalau pemeriksaan kesehatan untuk maba (mahasiswa baru) di sebelah mana ya?" tanya Cakra pada petugas berseragam biru yang berdiri di sisi dalam Gerbatama.


"Di Klinik Satelit, Mas," jawab petugas tersebut cekatan.


"Lurus ikuti jalan. Klinik Satelit letaknya setelah FT (fakultas teknik)."


"Oya, makasih banyak, Pak."


"Sama-sama."


Ia hanya mencibir, "Kamu bukannya udah tahu Klinik ada dimana?!"


"Semalam kita kan udah lihat-lihat maps," lanjutnya.


"Yaaa....mendingan nanya kan?" jawab Cakra retoris. "Daripada sesat di jalan."


Ia kembali mencibir. Sementara Cakra hanya tersenyum simpul, sambil dengan gerakan tangkas membelokkan kemudi ke sebelah kanan.


Berturut-turut mereka melewati gedung Fakultas Psikologi, FISIP (fakultas ilmu sosial dan ilmu politik), lalu FIB (fakultas ilmu pengetahuan budaya).


"Tempat kuliahnya Hanum tuh," tunjuk Cakra ke sebelah kanan. Dimana gedung perkuliahan FIB berada.


Ia mengangguk setuju. Namun tak mengatakan apapun.


Cakra kembali membelokkan kemudi ke arah kanan. Melewati deretan dome berwarna hijau yang cukup unik.


"Wah, keren banget tuh bangunannya," ujar Cakra seraya mengamati dome-dome tersebut.


Ia jadi mengikuti arah pandangan Cakra.


"Unik," gumamnya singkat.


Cakra hanya tersenyum. Lalu membelokkan kemudi ke sebelah kiri. Melewati jalan yang cukup menanjak dengan patokan sebuah talang air raksasa. Lurus hingga melewati gedung rektorat.


Di sini laju kendaraan mulai tersendat. Ditambah dengan banyaknya lalu lalang orang yang berjalan kaki dari tempat parkir menuju ke Balairung.


"Kamu mau parkir di mana?" tanyanya ketika melihat beberapa kendaraan parkir di depan gedung bertuliskan Pusat Pelayanan Mahasiswa Terpadu.


"Nanti kita cari," jawab Cakra sambil memperhatikan sebelah kanan dan kiri jalan.


"Yang penting kamu cek kesehatan dulu di Klinik," sambung Cakra yang kini tengah melajukan kemudi melewati Balairung.


Cakra terus melaju. Melewati gedung FKM (fakultas kesehatan masyarakat), lalu FMIPA (fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam).


Mobil masih terus meluncur melewati danau, Stadion Jakun, sampai akhirnya mereka mendapati antrean kendaraan yang cukup mengular. Tepat di depan gedung bertuliskan Klinik Satelit Jakun.


"Wah, parkir penuh," gumam Cakra ketika deretan kendaraan yang terparkir telah memenuhi bagian sisi kiri dan kanan jalan yang berlawanan arah.


"Padahal masih pagi," gumam Cakra lagi sembari memperhatikan jika ada tempat yang kosong.


"Itu tuh," tunjuknya ke arah depan.


"Akhirnya," ujar Cakra lega. "Dapat parkir juga."


"Kamu bawa file holder aja," sambung Cakra cepat begitu melihatnya sibuk sendiri.


"Barang yang lain biar aku yang bawa."


Dari tempat parkir yang cukup jauh, mereka berjalan kaki menuju ke Klinik Satelit. Ia mengalungkan sling bag dan menenteng file holder berisi dokumen persyaratan registrasi. Sementara Cakra membawa ransel sekaligus mencangklong cooler bag di bahu sebelah kiri.


Begitu memasuki tenda di depan Klinik yang telah dipenuhi oleh camaba (calon mahasiswa baru). Cakra segera mengambilkan nomor antrean untuknya.


Namun di dalam tenda tak ada tempat duduk yang tersisa. Membuat mereka harus menunggu antrean sambil berdiri. Sama seperti ratusan orang lainnya.


Setelah menunggu hampir setengah jam, seorang kakak tingkat akhirnya memanggil nomor antreannya.


Sebelum masuk ke dalam ia sempat tersenyum ke arah Cakra, "Tunggu ya."


Cakra balas tersenyum dan mengangguk.


Di dalam Klinik, ia kembali antre. Tapi tak selama saat antre di bawah tenda. Tak sampai sepuluh menit kemudian namanya telah dipanggil.


Ia diharuskan melakukan pemeriksaan gigi, tinggi dan berat badan, tes darah, juga tes fisik.


Di ruang tes fisik, seorang dokter wanita bertanya tentang penyakit bawaan atau penyakit serius lain yang pernah diidapnya.


"Saya sehat, Dok," jawabnya yakin.


"Tapi...saya...sedang menyusui," lanjutnya sedikit ragu. Namun diteguhkan hatinya agar mampu mengatakan yang sebenarnya. Mengikuti pesan Teh Dara sebelum pulang ke Jogja.


"Jangan lupa untuk berterus terang ke pihak kampus tentang keadaan kamu, Ja."


"Meski Ospek sekarang mungkin nggak seberat tahun-tahun sebelumnya. Tapi kamu tetap harus jaga diri sendiri."


"Salah satunya adalah dengan berterus terang."


Dokter tersebut sempat tertegun sebentar mendengar ucapannya. Lalu bertanya dengan penuh kehati-hatian, "Usia berapa bayinya?"


"Hari ini tepat 25 hari," jawabnya sambil menundukkan kepala.


Suara helaan napas panjang terdengar sangat jelas di telinganya. Sejurus kemudian dokter kembali berkata, "Kalau begitu saya kasih kartu batasan aktivitas fisik."


"Karena kamu masih dalam masa nifas dan menyusui."


Ia tersenyum mengangguk.


"Kartu ini harus kamu pakai selama mengikuti seluruh kegiatan mahasiswa baru di lingkungan Kampus Jakun."


"Terimakasih banyak, Dok."


"Dan kalau kamu masih memiliki masalah yang mengganggu ketenangan dalam berpikir atau kendala lain...," dokter tersebut menatapnya sungguh-sungguh.


"Seperti....mungkin kisah kehidupan yang nggak bisa kamu ceritakan ke orang lain."


"Setelah ini bisa langsung masuk ke ruangan psikologis," pungkas dokter tersebut sembari tersenyum ramah.


Tapi ia hanya melewati deretan antrean di depan ruang psikologis. Sama sekali tak berminat untuk masuk ke dalam sana.


Lebih memilih langsung melapor ke meja terakhir. Karena telah menyelesaikan seluruh rangkaian pemeriksaan kesehatan.


Usai melapor ia berhasil mendapatkan selembar kertas pengesahan. Yang menjelaskan bahwa ia telah lolos tahapan pemeriksaan kesehatan.


"Kertasnya harap disimpan baik-baik," ujar panitia kakak tingkat sembari tersenyum ke arahnya.


"Untuk ditukarkan dengan jaket kuning di Balairung," lanjut kakak tingkat tersebut sambil terus menyunggingkan senyum.


Tapi ia hanya menganggukkan kepala tanpa balas tersenyum, "Terimakasih banyak, Kak."


***


"Udah?" tanya Cakra begitu ia keluar dari dalam Klinik.


Ia tersenyum mengangguk. Namun tangannya justru refleks terulur untuk mengusap buliran keringat yang menetes di sepanjang garis cambang di wajah Cakra.


"Sampai keringetan begini," ia pun buru-buru berjalan ke belakang punggung Cakra. Lalu membuka ransel berniat untuk mengambil tissue basah yang ia titipkan di sana.


"Bilang dong kalau mau ambil sesuatu," seloroh Cakra yang langsung membantunya mengeluarkan tissue basah dari dalam ransel.


Namun ketika ia mengusapkan tissue basah di sepanjang pelipis dan garis cambang, Cakra justru terpaku sambil terus menatapnya dalam-dalam.


"Don't do this to me (jangan lakukan ini padaku)," gumam Cakra sembari memasang wajah sendu.


"Ck! Ish!" ia mencibir dan langsung menghentikan kegiatan menyusut wajah bersih itu. Membuat Cakra tertawa kecil.


"Kita jalan kaki atau gimana nih?" tanyanya heran ketika Cakra menarik tangannya menuju ke mobil. Sementara ia berniat untuk berjalan kaki ke arah Balairung.


"Kejauhan," Cakra menggeleng tak setuju.


"Tadi aku ingat ada parkir kosong di dekat gedung PMT (pelayanan mahasiswa terpadu)," lanjut Cakra tenang.


"Kayaknya nggak banyak orang tahu ada tempat parkir di sana."


"Kita boleh parkir di sana nggak?" tanyanya curiga. "Ntar mobil diderek lagi gara-gara parkir sembarangan."


Cakra tergelak, "Kita cari tempat yang free. Yang belum ada peruntukannya."


"Kalau nggak ada tempat kosong?!" cecarnya sebal.


"Kamu turun di depan Balairung. Nanti aku cari tempat parkir lain," jawab Cakra santai sambil menggenggam tangannya menuju ke tempat mobil mereka terparkir.


Ternyata memang hokinya Cakra. Sebab tanpa kesulitan berarti, mereka akhirnya berhasil menemukan satu tempat parkir kosong tepat di depan gedung PMT.


"Kalau yang di sebelah sana udah ada plangnya semua," tunjuk Cakra ke arah sederet tempat parkir yang masih kosong.


Namun terdapat plang di tengahnya. Menuliskan dengan jelas nama jabatan tertentu yang berhak memarkirkan kendaraan di tempat kosong tersebut.


"Kalau di sebelah sini free kali ya," sambung Cakra sambil mematikan mesin mobil. "Nggak ada plang atau tulisan apapun."


Ia cuma bisa tertawa sambil menggelengkan kepala. Lalu turun dengan hanya membawa sling bag dan file holder. Begitupula Cakra. Kembali menggendong ransel dan mencangklong cooler bag.


Mereka lalu berjalan kaki ke arah kanan menuju Balairung. Namun ia mulai merasakan hal yang aneh.


"Ngng....," gumamnya ragu. "Kayaknya ASI ku mulai tumpah-tumpah deh."


Sontak membuat Cakra menghentikan langkah. Lalu menoleh ke arahnya dengan wajah bingung.


"Basah banget," lanjutnya sambil mengendikkan bahu sebab merasa tak nyaman.


"Kita balik ke mobil?" tawar Cakra. "Kamu pompa ASI di mobil?"


Tapi ia menggeleng, "Tanggung ah, udah nyampai sini."


"Ya udah nanti aku cari toilet begitu sampai di Balairung," ucap Cakra akhirnya. "Kamu nggak apa-apa kan mompa di toilet?"


Ia hanya mengangkat bahu, "Memangnya ada tempat lain?"


Mereka memasuki Balairung melalui pintu bagian selatan. Dimana telah begitu banyak orang yang berada di bagian luar maupun di dalam Balairung.


Tapi ia tak langsung menuju ke baris antrean di loket satu. Karena mengikuti langkah panjang Cakra yang telah berhasil mengetahui tempat dimana toilet wanita berada. Sebab ia harus memompa ASI terlebih dahulu.


***


Ia keluar dari toilet dengan perasaan lega. Dan langsung mendapati Cakra yang tengah berdiri mencangkung menunggunya tepat di depan pintu keluar toilet.


"Udah?" tanya Cakra sambil menerima cooler bag yang diangsurkannya.


"Udah," ia mengangguk senang. "Toiletnya bersih kok. Wangi lagi."


Cakra tersenyum senang dan langsung meraih tangannya. Lalu mereka pun berjalan menuju antrean di loket 1.


***


Keterangan :


Forever Yours. : selamanya milikmu


Timbuktu. : adalah sebuah kota di Mali, Afrika Barat. Seringkali disebut sebagai ujung dunia. Banyak lelucon yang menggambarkan seseorang melarikan diri ke Timbuktu saat sedang dikejar masalah pelik (sumber : Wikipedia dan travelingyuk.com)


Bagi penggemar komik Donal Bebek, pasti tahu benar dengan kota Timbuktu. Sebab Donal dan teman-temannya sering berseloroh ingin pergi ke Timbuktu, yang digambarkan sebagai sebuah daerah antah berantah dan sangat jauh sekali (sumber : kapanlagi.com)


Breast pad. : alat bantu agar ASI tidak sampai rembes hingga ke pakaian


Breast pump. : alat bantu untuk memompa ASI


Cooler : tempat untuk menyimpan ASI perah saat sedang berada di luar rumah


Dome. : bangunan dengan atap berbentuk kubah